Logo Header Antaranews Kupang

Nelayan Kupang Tak Melaut

Senin, 5 Juni 2017 10:39 WIB
Image Print
Ketua Bidang Komunikasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Abdul Wahab Sidin
"Sejauh ini kita tak bisa melaut karena cuaca buruk yang melanda perairan kita selama satu bulan terakhir ini," kata Abdul Wahab Sidin.

Kupang (Antara NTT) - Para nelayan yang menggunakan kapal jenis pole and line di Kota Kupang dan sekitarnya tidak melaut akibat cuaca buruk yang melanda perairan wilayah Nusa Tenggara Timur sejak satu bulan terakhir.

"Sejauh ini kita tak bisa melaut karena cuaca buruk yang melanda perairan kita selama satu bulan terakhir ini," kata Ketua Bidang Komunikasi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Kupang Abdul Wahab Sidin di Kupang, Senin.

Sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) El Tari Kupang mengingatkan perusahan pelayaran dan nelayan untuk mewaspadai gelombang setinggi empat meter di perairan selatan Pulau Sumba dan Samudera Hindia di selatan Nusa Tenggara Timur.

Gelombang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini dipicu oleh tekanan tinggi di Australia.

Gelombang tinggi yang terjadi juga karena akibat dari angin kencang yang disebabkan karena adanya aliran dorongan massa udara dari Australia akibat perbedaan tekanan. Tekanan udara di Australia saat ini sekitar 1026 HPa, sementara di Indonesia hanya berkisar 1.010 HPa.

Wahab menjelaskan sejauh ini yang melaut hanya kapal-kapal nelayan kecil yang hanya melaut di sekitaran Pulau Timor dan Pulau Semau serta Pulau Kera saja, sementara untuk masuk ke lebih dalam, nelayan-nelayan tak berani melaut.

"Hal inilah yang mengakibatkan harga ikan di kota Kupang kembali naik. Untuk ikan cakalang saja dan Tuna saat ini harganya mencapai Rp21 ribu hingga Rp25 ribu perkilo. Padahal biasanya harganya hanya mencapai Rp11 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram," tuturnya.

Ketua HNSI Kota Kupang Maxi Ndun juga mengatakan bahwa sebenarnya selama bulan puasa sejumlah nelayan tetap bisa melaut.

"Kalau puasa ya tetap puasa. Aktivitas kerja tetap seperti biasa. Namun karena cuaca buruk mengakibatkan teman-teman nelayan kita tidak bisa melaut," ujarnya.

Sementara itu, di sejumlah pasar Ikan di Kota Kupang menunjukkan merangkak naik akibat angin kencang yang memicu gelombang tinggi di sejumlah wilayah perairan Nusa Tenggara Timur beberapa hari terakhir ini.

Harga cumi Rp65.000 per kilogram, kakap putih Rp60.000 per kilogram, kakap merah Rp70.000 per kilogram, tengkurangan Rp18.000 per kilogram, tongkol Rp30.000 per kilogram, dan kakap laut Rp35.000 per kilogram.

Demikian pula ikan biasa seperti kombong padi dan sarisi mengalami kenaikan dari Rp250.000 per kaleng cat Matex seberat 20 kilogram jika cuaca normal menjadi Rp400.000 per kaleng apabila angin kencang.

Jadi biasanya dijual eceran 20 ekor ikan kombong dinilai dengan Rp20.000, akibat cuaca buruk jumlahnya hanya lima ekor dengan harga tetap Rp20.000.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026