Logo Header Antaranews Kupang

Pilgub NTT Munculkan Paslon Fenomenal

Rabu, 21 Juni 2017 13:13 WIB
Image Print
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTT 2018-2023 Lucia Adinda Dua Nurak Lebu Raya dengan Ibrahim Agustinus Medah (bakal calon wakil gubernur) yang menjadi viral di media sosial saat ini.
Pentas pemilihan gubernur dan wakil Nusa Tenggara Timur yang tengah menggeliat saat ini, terus memunculkan pasangan calon (paslon) yang fenomenal sehingga sulit untuk diprediksi.

Kupang (Antara NTT) - Pengamat politik dari Universitas Widya Mandira Kupang Tomy Susu, MS mengatakan pentas pemilihan gubernur dan wakil Nusa Tenggara Timur yang tengah menggeliat saat ini, terus memunculkan pasangan calon (paslon) yang fenomenal sehingga sulit untuk diprediksi.

"Dinamikanya terus menggeliat dan bahkan fenomenal dengan pasangan calon yang menarik untuk diikuti dari tidak ada menjadi ada, seperti beberapa kandidat yang muncul belakangan ini," katanya dalam percakapannya dengan Antara di Kupang, Rabu.


Menurut dia, pasangan fenomenal yang muncul itu seperti Lucia Adinda Dua Nurak Lebu Raya (isteri Gubernur NTT Frans Lebu Raya, bakal calon gubernur) dengan Ibrahim Agustinus Medah (bakal calon wakil gubernur) dengan sandi Adira atau Adinda dan Iban di media sosial yang menggemparkan publik.

Sebab, kata dia, selama ini (hampir enam bulan terakhir) sejak gendang Pilgub NTT 2018-2023 ditabuh, Iban atau sapaan akrab Ibrahim Agustinus Medah yang juga Ketua DPD I Golkar NTT itu gencar mensosialisasikan dirinya sebagai bakal calon gubernur NTT, tiba-tiba posternya diviralkan menjadi bakal calon wakil gubernur NTT berpasangan dengan Lucia Adinda Dua Nurak Lebu Raya.

Sementara publik NTT mengetahui Lusia Adinda Dua Nurak tidak mendaftarkan diri sebagai calon gubernur NTT hingga penutupan pendaftaran oleh PDIP, Senin (15/5) lalu. Padahal, Adinda adalah salah satu dari empat figur yang direkomendasikan PDIP untuk maju dalam Pilgub NTT 2018.

Artinya Adinda juga memastikan diri tidak akan mendaftar di partai lainnya. Dengan demikian dirinya tidak akan maju dalam Pilgub NTT 2018."Dan inilah yang disebut dengan seni berpolitik, yang tidak mungkin bagi kita, mungkin bagi orang lain," katanya.

Bukan cuma itu, selain pasangan Adira yang digadang-gadang merupakan koalisi PDIP-Golkar NTT itu, juga muncul paslon lain yang juga mengagetkan publik NTT yaitu Jacky Uly-Melky Lakalena dan Goris Mere-Abraham Paul Lyanto.

Terakhir, kata dosen Fisipol Universitas Widya Mandira (Unwira) Kupang, itu bakal calon gubernur Nusa Tenggara Timur Honing Sanny, mendaftarkan diri ke Rumah PAN NTT sekaligus melamar Ketua DPW PAN NTT Awang Notoprawiro untuk mendampinginya sebagai bakal calon wakil gubernur.

Padahal sebelumnya pasangan Esthon Foenay dan Chris Rotok (Esthon-Chris) dari Partai Gerindra telah mengklaim berkoalisi dengan PAN untuk memenuhi syarat 20 persen atau 13 kursi dari 65 toital kursi di DPRD NTT untuk maju di arena Pilgub NTT.

"Telah terjadi dinamika perpolitikan yang luar biasa dan hal ini menandakan adanya kemajuan dibidang ini untuk menyeleksi dengan baik calon-calon pemimpin yang benar-benar dibutuhkan rakyat untuk merubah "wajah" NTT dimata Indonesia," katanya.

Banyangkan, kata dia, dari berbagai suku dan etnis bergantian mendatangi Dr Ayub Titu Eki dan meminta bupati Kupang yang tengah menjabat periode kedua itu untuk maju sebagai calon gubernur NTT, karena dinilai akar rumput lebih layak memimpin NTT lima tahun ke depan.

"Bagaimana tidak fenomenal, meskipun sebelumnya mantan Rektor Universitas Terbukan (UT) itu sebelumnya telah menyatakan akan kembali menjadi petani di kampung halamannya di Kecamatan Takari, setelah pensiun dari bupati dan lebih memilih Esthon Foenay sebagai calon gubernur," katanya.

Terlepas dari semuanya itu, menurut dia, NTT butuh pemimpin yang berpengalaman, namun harus punya karakter dan track record yang baik pula, sehingga ketika memimpin tidak membeda-bedakan masyarakat dari sisi SARA dan membuat gaduh karena tidak disimpati warganya.

Selanjutnya, calon juga harus punya visi yang jelas dan terukur. "Jadi tidak asal menang lalu jadi gubernur, tapi yang penting apa solusinya untuk memajukan NTT dari aspek ekonomi, perdagangan, infrastruktur, hubungan lintas provinsi bahkan negara," katanya.

"Kalau selama ini bertetangga dengan negara Timor Leste saja tidak memanfaatkan peluang di bidang ekspor dan impor komoditi rakyat dengan membuka pasar untuk adanya transaksi, maka tidak perlu bermimpi terlalu jauh dan tinggi, karena hanya akan mencari nama dan kedudukan bahwa pernah menjadi gubernur, tetapi NTT tetap termiskin berada di urutan ke-32 dari 34 provini di Indonesia.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026