Gempa tektonik di Sumba akibat deformasi kerak benua

id gempa sumba,sumba barat daya,sbd,ntt

Gempa tektonik di Sumba akibat deformasi kerak benua

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kupang, Robert Wahyu (ANTARA/Bernadus Tokan)

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi itu memiliki parameter terkini dengan magnitudo 5,2.
Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan gempa tektonik yang terjadi di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat adanya deformasi kerak benua di dasar laut.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya deformasi kerak benua di dasar laut," kata Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kupang, Robert Wahyu, di Kupang, Rabu (5/8)  malam, terkait gempa Sumba Barat Daya.

Pada Rabu, pukul 15.27.12 WIB wilayah laut barat Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur diguncang gempa tektonik.

Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa bumi itu memiliki parameter terkini dengan magnitudo 5,2.


Baca juga: Gempa 5.5 SR guncang Sumba Barat Daya NTT
Baca juga: Semua zona musim di NTT kini dalam periode kemarau


Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,89 LS dan 119,12 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 30 km arah barat daya Wanokaka Kabupaten Sumba Barat, NTT pada kedalaman 10 km.

Dia menjelaskan hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan turun (normal fault).

Dampak gempa
Ia mengatakan guncangan gempa bumi dirasakan di daerah Tambolaka, Waingapu, Waitabula, Kota Bima III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).

Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut.

Hingga pukul 16.22 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas 14 gempa bumi susulan (aftershock ) dengan magnitudo terbesar 4,4.

Kepada masyarakat dihimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Masyarakat juga diminta menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa.
Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar