
Deflasi Juli di NTT 0,16 Persen

"Deflasi ini terjadi karena turunnya indeks harga pada tiga dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS NTT Damarce Sabuna di Kupang, Selasa.
Kupang (Antara NTT) - Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat pada Juli 2017 daerah berbasiskan kepulauan ini mengalami deflasi sebesar 0,16 persen setelah bulan sebelumnya, Juni 2017, mengalami inflasi sebesar 0,51 persen.
"Deflasi ini terjadi karena turunnya indeks harga pada tiga dari tujuh kelompok pengeluaran," kata Kepala Bidang Statistik dan Distribusi BPS NTT Damarce Sabuna di Kupang, Selasa.
Ia mengatakan kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga tertinggi terjadi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang turun sebesar 3,23 persen diikuti oleh kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang turun sebesar 0,05 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga tertinggi adalah kelompok bahan makanan dengan tingkat kenaikan sebesar 1,35 persen.
Deflasi yang terjadi pada Juli 2017 ini searah dengan yang terjadi pada Juli 2016 yang lalu yang juga mengalami deflasi. "Jika di Juli 2016 terjadi deflasi sebesar 0,32 persen, maka Juli 2017 terjadi deflasi sebesar 0,16 persen," katanya.
Sedangkan menurut dia kelompok pengeluaran, pemberi andil terbesar dalam pembentukan deflasi di Nusa Tenggara Timur bulan Juli 2017 adalah kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dengan andil negatif sebesar 0,60 persen.
Disusul kelompok perumahan, listrik, gas dan air bersih sebesar 0,01 persen. Kelompok Bahan makanan memberikan andil positif bagi inflasi bulan Juli sebesar 0,32 persen.
Ia mengatakan dari dua kota IHK di Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,22 persen dengan IHK 129,91 sedangkan Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,30 persen dengan IHK 122,94 persen.
Untuk Kota Kupang katanya Deflasi Juli 2017 didorong oleh penurunan indeks harga pada tiga dari tujuh kelompok pengeluaran.
"Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks tertinggi terjadi pada kelompok kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 3,64 persen diikuti oleh kelompok pendidikan dan kesehatan yang masing-masing turun sebesar 0,07 dan 0,03 persen," katanya.
Sedangkan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga adalah kelompok bahan makanan, makanan jadi dan sandang yang naik masing-masing sebesar 1,46, 0,85 dan 0,02 persen.
"Jadi searah dengan tahun sebelumnya Juli 2016 dimana Kota Kupang mengalami deflasi sebesar 0,35 persen, pada Juli 2017 ini Kota Kupang juga mengalami deflasi sebesar 0,22 persen," katanya.
Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar dalam pembentukan deflasi Kota Kupang bulan Juli 2017 adalah kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan dengan andil negatif sebesar 0,69 persen. Sedangkan kelompok Bahan makanan dan makanan jadi memberikan andil positif terhadap inflasi masing-masing sebesar 0,35 dan 0,12 persen.
Beberapa komoditas utama yang menyumbang andil deflasi di Kota Kupang Juli 2017 antara lain turunnya harga tarif angkutan udara, sawi putih, bawang putih, wortel, cabai merah, kangkung, bawang merah, kol putih/kubis, kentang dan teri.
Sedangkan komoditas utama yang mengalami kenaikan harga antara lain cabai rawit, daging ayam ras, ikan tembang, ikan tongkol, kakap merah, ekor kuning, bunga pepaya, nasi dengan lauk, kue kering dan terong panjang.
Berbeda dengan perkembangan harga barang dan jasa di Kota Maumere berdasarkan hasil penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), pada bulan Juli 2017, Kota Maumere mengalami inflasi sebesar 0,30 persen, atau terjadi kenaikan IHK dari 122,57 pada bulan Juni 2017 menjadi 122,94 pada Juli 2017.
Laju inflasi tahun kalender di Januari-Juli 2017 sebesar 0,89 persen dan laju inflasi year on year sebesar 4,71 persen.
Pemicu inflasi bulan Juli 2017 di Kota Maumere adalah karena naiknya indeks harga pada lima dari tujuh kelompok pengeluaran. Kelompok sandang mengalami kenaikan indeks terbesar yakni sebesar 1,32 persen dan diikuti kelompok kesehatan dan bahan makanan yang masing-masing naik sebesar 1,28 dan 0,55 persen.
Sedangkan kelompok perumahan dan transpor mengalami penurunan indeks masing-masing sebesar 0,16 dan 0,03 persen.
"Pada Juli 2017, NTP Nusa Tenggara Timur sebesar 101,92 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 103,07 untuk subsektor tanaman padi-palawija; 102,88 untuk subsektor hortikultura; 96,08 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat; 105,62 untuk subsektor peternakan dan 105,72 untuk subsektor perikanan," kata Damarce.
Berdasarkan kondisi tersebut maka tingkat kesejahteraan petani cenderung naik dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini terjadi, karena biaya produksi pertanian dan kebutuhan sehari-hari rumah tangga petani lebih rendah dibandingkan penerimaan petani.
Apabila dibandingkan dengan NTP NTT pada Mei, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di NTT pada Juli 2017, NTP di Nusa Tenggara Timur mengalami peningkatan dibandingkan Mei yaitu sebesar 0,74 persen.
Hal ini disebabkan karena kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga lebih rendah dibandingkan indeks harga hasil produksi pertanian.
"Ditinjau per subsektor dengan membandingkan NTP Juni dengan NTP Mei maka subsektor tanaman padi-palawija mengalami peningkatan sebesar 0,04 persen, subsektor hortikultura naik 1,52 persen; subsektor tanaman perkebunan rakyat meningkat 1,92 persen; dan subsektor perikanan mengalami peningkatan sebesar 0,47 persen," katanya.
Demikian pula indeks harga yang diterima dari ke lima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani.
"Pada Juli 2017, indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,50 persen dibandingkan Juni 2017 yaitu dari 128,07 menjadi 128,71," katanya.
Sementara indeks harga yang dibayar petani dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar di pedesaan serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
"Pada Juli 2017 indeks harga yang dibayar petani dilaporkan mengalami penurunan dibandingkan Juni 2017 yaitu dari 126,55 menjadi 126,24 atau menurun sebesar 0,24 persen. Karena Ib turun dan It naik, itu menyebabkan NTP bulan Juli naik," katanya.
"Sedangkan pertumbuhan (y-on-y) naik sebesar 6,81 persen dibanding triwulan yang sama tahun 2017," katanya dan menambahkan pola pertumbuhan yang sama, ditunjukkan oleh produksi industri manufaktur besar sedang secara nasional pertumbuhan industri manufaktur besar dan sedang Indonesia triwulan II tahun 2017 (q-to-q) mengalami kenaikan sebesar 2,57 persen dan pertumbuhan produksi (y-on-y) triwulan II tahun 2017 terhadap triwulan yang sama pada tahun 2017, mengalami kenaikan sebesar 4,00 persen.
Ia mengatakan naiknya pertumbuhan produksi IBS NTT pada triwulan II tahun 2017 (q-to-q) NTT sebesar 1,49 persen itu dipengaruhi oleh kontribusi pertumbuhan positif Industri Manufaktur Furnitur sebesar 3,25 persen, industri manufaktur makanan sebesar 2,04 persen, Industri Manufaktur Minuman sebesar 1,43 persen dan Industri Manufaktur Barang Galian Bukan Logam sebesar 1,02 persen.
"Berbeda dengan pertumbuhan (q-to-q), pertumbuhan IBS secara (y-on-y) sebesar 6,81 persen menunjukkan Industri Manufaktur Makanan mengalami kenaikan tertinggi dibanding jenis industri yang lain yaitu sebesar 8,58 persen," katanya.
Selanjunya diikuti Industri Manufaktur Furnitur mengalami kenaikan sebesar 4,81 persen, sedangkan Industri Manufaktur Barang Galian Bukan Logam mengalami penurunan sebesar 1,94 persen dan Industri Manufaktur Minuman menurun sebesar 0,93 persen.
Ia mengatakan proses pertumbuhan industri ini umumnya berdasarkan data hasil survei IBS dan survei IMK tahun 2013, usaha IMK menyerap tenaga kerja di Indonesia cukup signifikan.
Sehingga sejalan dengan sejalan dengan penyerapan tenaga kerja, kontribusi nilai produksi Industri Barang Galian Bukan Logam juga memberikan kontribusi tertinggi terhadap nilai produksi IBS di NTT selama triwulan II tahun 2017.
Secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut : perusahaan Industri Barang Galian Bukan Logam mampu menyerap tenaga kerja sebesar 33,02 persen dan memberikan kontribusi sebesar 57,15 persen terhadap nilai produksi (output) IBS NTT.
Industri Makanan mampu menyerap 25,80 persen tenaga dan memberikan kontribusi sebesar 23,10 persen.
Industri Minuman mampu menyerap 24,38 persen tenaga dan memberikan kontribusi sebesar 12,00 persen dan Industri Furnitur yang paling rendah yaitu menyerap 16,80 persen tenaga dan memberikan kontribusi sebesar 7,75 persen.
Pada triwulan II tahun 2017 produktivitas tenaga kerja sektor industri manufaktur besar dan sedang di NTT mengalami kenaikan sebesar 7,52 persen dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 17,02 juta rupiah per tenaga kerja selama triwulan I tahun 2017 menjadi 18,30 juta rupiah per tenaga kerja selama triwulan II tahun 2017.
Jika dilihat menurut jenis industri manufaktur, maka produktivitas tenaga kerja tertinggi dalam kurun waktu triwulan II tahun 2017 adalah sektor Industri Barang Galian Bukan Logam yaitu sebesar Rp31,67 juta per tenaga kerja.
Selanjutnya Industri Makanan sebesar Rp. 16,38 juta per tenaga kerja, sementara produktivitas Industri Manufaktur Minuman dan Industri Manufaktur Furnitur masing-masing sebesar Rp9,01 juta dan Rp8,44 juta per tenaga kerja selama triwulan II tahun 2017.
Pewarta : Hironimus Bifel & Arini Clarisa Bonlay
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
