NasDem-Golkar Masih Solid Hadapi Pilgub NTT 2018

Pewarta : id Pilgub

Aleks Take Ofong

Kupang (Antara NTT) - Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Golkar Nusa Tenggara Timur masih tetap berkoalisi dan solid menghadapi pelaksanaan Pemilu Gubernur-Wakil Gubernur NTT pada Juni 2018, meski banyak pihak menilai kedua parpol tersebut telah pecah kongsi politik.

"Kami masih tetap solid sampai saat ini, dan belum pecah kongsi politik. Yang terjadi adalah kami belum sepakat soal siapa yang ditampilkan sebagai figur calon gubernur dan calon wakil gubernur," kata Sekretaris DPW Partai NasDem NTT Aleks Take Ofong kepada Antara di Kupang, Selasa.

Menurut dia, NasDem-Golkar kemungkinan akan kembali menduetkan mantan Kapolda NTT yang juga Ketua DPW Partai NasDem NTT Jacki Uly dan Melkianus Laka Lena (Ketua DPD Partai Golkar NTT) sebagai calon gubernur-wakil gubernur NTT.

"Kemungkinan itu bisa saja terjadi, namun bisa saja berubah formasinya, tergantung kesepakatan kedua parpol yang berkoalisi itu," katanya.

Artinya, kata Ofong, bisa jadi Partai Golkar yang mengambil posisi sebagai bakal calon gubernur dengan kekuatan 11 kursi di DPRD NTT, dan NasDem di posisi wakil gubernur dengan kekuatan 8 kursi di parlemen.

"Kemungkinan juga muncul figur baru di luar Jacki Uly-Melkianus Laka Lena, namun hal ini masih dalam pembicaraan serius di tingkat elite partai," katanya.

Dia mengatakan kedua pimpinan partai akan bertemu kembali untuk membahas masalah ini, tentu dengan pertimbangan-pertimbangan yang rasional.

"Jika tidak ada titik temu, maka tidak ada pilihan lain selain mencari partai baru untuk membangun koalisi agar figur yang sudah disiapkan NasDem bisa diusung ke arena Pilgub 2018," kata Ofong.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPW Partai NasDem NTT Alexander Ena yang dihubungi terpisah melalui telepon genggam mengaku sedang berada di Jakarta untuk melakukan koordinasi dengan pimpinan pusat Partai NasDem.

Dia mengatakan belum ada keputusan lebih lanjut dari DPP Partai NasDem setelah mengalami kebuntuan dengan Partai Golkar dalam rapat membahas persiapan deklarasi paket Jacki Uly-Melkianus Laka Lena, pekan lalu.

"Prinsipnya, semua keputusan ada di DPP. Kami di daerah tinggal menunggu untuk melakukan eksekusi," katanya menambahkan.

Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr Ahmad Atang menilai jika Golkar-NasDem pecah kongsi karena stagnasi elektabilitas Jacki Uly sehingga Golkar menarik dukungan maka hal itu bisa dipahami.

"Kalau pecah kongsi karena elektabilitas figur calon gubernur yang disodorkan NasDem stagnan bisa dipahami, karena orientasi politik partai termasuk Golkar dalam pilkada adalah maju untuk menang," kata Atang.

Sebab, kata dia, salah satu instrumennya adalah hasil survey walaupun hasil survey tidak selamanya linier dengan riil politik, meski aspek ini tetap penting bagi parpol dalam mengambil keputusan politik.
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar