
Bupati Belu Apresiasi Listrik Perbatasan

"Kami berterima kasih karena PLN telah melistriki wilayah termasuk perbatasan di Kabupaten Belu ini," kata Willybrodus Lay
Atambua (Antara NTT) - Bupati Belu, Nusa Tenggara Timur, Willybrodus Lay mengapresiasi kinerja PT PLN (Persero) memasok listrik di daerah perbatasan Indonesia dengan Republik Demokratik Timor Leste.
"Kami berterima kasih karena PLN telah melistriki wilayah termasuk perbatasan di Kabupaten Belu ini," katanya saat bertemu sejumlah wartawan media nasional dalam Safari Jurnalistik PLN di kantor Bupati Belu, Atambua, NTT, Rabu.
Menurut dia, kalau sebelumnya sering terjadi pemadaman listrik, kini sudah lebih baik.
Ia mengharapkan PLN terus meningkatkan ketersediaan dan pelayanan kelistrikan kepada masyarakat, sehingga program Presiden Joko Widodo menerangi seluruh wilayah Indonesia termasuk perbatasan dengan negara lain bisa tercapai.
Willy juga mengungkapkan, pihaknya pernah menolak tawaran suplai listrik dari Timor Leste. "Beberapa bulan lalu, saya pernah ditawari, tapi saya bilang listrik di sini sudah cukup. Bahkan, saya tawari balik untuk jual listrik ke mereka," katanya.
Manajer Rayon Atambua PLN I Wayan Adi Harimbawa mengatakan, sejak Desember 2015, seluruh desa yang berbatasan dengan Timor Leste sudah berlistrik.
Menurut dia, tercatat 30 desa berbatasan dengan Timor Leste yang terdiri atas 23 desa di Kabupaten Belu dan tujuh desa lainnya di Kabupaten Malaka. "Semuanya sudah berlistrik," katanya.
Terakhir, lanjutnya, pada 2015, terdapat delapan desa perbatasan dengan Timor Leste mendapat listrik yang terdiri atas enam di Belu dan dua di Malaka.
Ke depan, lanjutnya, pihaknya akan terus meningkatkan ketersediaan dan pelayanan di Rayon Atambua yang meliputi Kabupaten Belu dan Malaka.
PLN Rayon Atambua juga memasok listrik ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain di Desa Silawan, Tasifeto Timur, Belu. "PLBN Motaain ini menjadi pelanggan terbesar kami yakni 550 kVA," katanya.
Presiden Joko Widodo dijadwalkan meresmikan PLBN Motaain yang cukup megah tersebut pada Desember 2016. Wayan mengatakan, saat ini, rasio elektrifikasi di Rayon Atambua baru mencapai 48 persen.
Dari 81 desa di Belu, tinggal enam yang belum berlistrik, sementara dari 127 desa di Malaka, 34 di antaranya belum berlistrik.
"Tantangan penyediaan listrik di sini adalah jarak antarrumah yang cukup jauh dan keterbatasan anggaran," ujarnya. Salah satu dari delapan desa yang berlistrik adalah Takirin, Kecamatan Tasifeto Timur.
Paulinus Sukan Aton (38), tokoh agama Takirin yang ditemui di desanya mengatakan, sejak listrik masuk pada 12 Agustus 2015, kehidupan warga makin meningkat.
"Anak-anak di sini bisa belajar malam hari dan munculnya sejumlah usaha seperti potong ayam dan jual es," katanya. Warga, lanjutnya, juga bisa menghemat karena selama ini memakai minyak tanah untuk penerangan.
"Sekarang listrik menyala 24 jam. Kami bisa mendapat informasi dari televisi. Sejumlah peralatan listrik lain seperti kulkas dan kipas angin juga mulai ada," ujarnya.
Paul menambahkan, kantor desa pun mulai memakai komputer untuk memudahkan urusan administrasinya.
Pewarta : Kelik Dewanto
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
