
Masyarakat Kupang Butuh Alat Berat

"Kita masih tunggu realisasi bantuan alat berat dari pemerintah pusat," kata Ayub Titu Eki..
Kupang (Antara NTT) - Masyarakat Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menunggu realisasi bantuan alat berat dari pemerintah pusat untuk mendukung pembangunan embung sebagai upaya mengatasi krisis air bersih yang sering dialami masyarakat daerah ini.
"Kita masih tunggu realisasi bantuan alat berat dari pemerintah pusat. Beberapa waktu lalu Kementerian PU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menjanjikan akan memberikan bantuan alat berat seperti louder kecil kepada Kabupaten Kupang, namun bantuan itu belum direalisasikan," kata Bupati Ayub Titu Eki di Oelamasi, Selasa (6/12).
Ia mengatakan, bantuan alat berat louder kecil sangat dibutuhkan daerah ini dalam mendukung pembangunan embung di daerah-daerah yang selalu mengalami krisis air bersih ketika musim kemarau.
"Krisis air bersih menjadi persoalan yang sangat serius dihadapi pemerintah dan masyarakat di daerah ini yang perlu ditanggulangi dengan membuat embung kecil disetiap desa,"tegas Titu Eki.
"Jika dilakukan pembangunan sumur bor biaya yang dikeluarkan pemerintah sangat besar dan anggaran dimiliki pemerintah sangat terbatas, sehingga pembangunan sumur tidak mungkin dilakukan," tegasnya.
Ayub Titu Eki sangat yakin dengan pembangunan embung krisis air bersih di daerah ini akan bisa teratasi ketika terjadi musim kemarau.
Dikatakannya, banyak kawasan potensial untuk pembangunan sektor pertanian dan perkebunan serta peternakan tidak mampu berkembang akibat keterbatasan air.
"Daerah ini merupakan wilayah penghasil teernak di Timor namun jika tidak didukung dengan ketersediaan air yang memadai tentu pembangunan sektor peternakan juga kurang berkembang," tegasnya.
"Mudah-mudahan tahun 2017 pemerintah pusat merealisasikan bantuan alat berat yang dijanjikan itu," tegasnya.
Pewarta : Benidiktus Jahang
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
