Denpasar (ANTARA) - Empat tahun sudah seorang ibu dengan empat anak di Bali menjadi sukarelawan untuk memulasarakan jenazah tanpa bayaran.

Ia adalah Siti Alifah, wanita yang hingga kini telah mengurusi lebih dari 500 jenazah Muslim, termasuk mengeluarkan dari rumah sakit, memandikan, mengurus pemakaman, hingga membiayai seluruh proses tadi.

Banyak cerita di balik kegiatannya sejak tahun 2018 itu, mulai dari awalnya hanya menjaga pasien Rumah Sakit Prof Ngoerah atau sebelumnya RSUP Sanglah, hingga di hadapkan dengan hutang ratusan juta demi bisa menguburkan jenazah sesama Muslim yang telantar atau terkendala biaya di Bali.

"Saya sempat mengalami hidup susah sebagai orang tua tunggal dengan empat anak, ketika anak saya sakit tidak ada keluarga bahkan uang di rumah sakit kita gak pegang uang dan harus bawa anak-anak yang lain," tutur Siti Alifah kepada ANTARA.

Kemudian, setelah terlepas dari lika liku kehidupan Siti berjanji akan membantu setidaknya satu dari 100 orang yang merasakan hal yang sama seperti dia.


Awal jadi relawan
 

Wanita yang telah menjadi warga Bali sejak tahun 1994 itu akhirnya mulai menjadi relawan untuk menjaga pasien di Rumah Sakit Prof Ngoerah, saat itu yang ia rawat adalah seorang mualaf bernama Ketut Sri Rahayu.

Pasien pertama sekaligus jenazah pertama yang ia bantu kepulangannya itu sempat menggemparkan rumah sakit, di mana Siti tiba-tiba menjadi penjamin agar jenazah Ketut dapat dimakamkan selayaknya ajaran Islam.

Jenazah Ketut itu biaya keluar dari rumah sakitnya Rp409 juta, padahal keluarganya belum ada bisa membayar. Dia yang tanda tangan dan rumah sakit bilang terima kasih. Setelah itu dia tidak bisa tidur memikirkan hutang sebanyak itu dan KTP menjadi jaminan.

Dari sana, wanita berusia 56 tahun itu mulai belajar cara memandikan jenazah dan mulai dihubungi rumah sakit maupun keluarga pasien yang membutuhkan bantuannya.

Setahun berlalu, Siti melakukan kegiatan sukarela itu sendirian, bahkan kerap kali saat tak ada relawan dadakan ia harus memandikan jenazah seorang diri.

Beragam pengalaman yang ia rasakan pada prosesi itu, lantaran banyak jenazah tak terduga dan cukup berbahaya bagi kesehatannya sendiri, sehingga wajib baginya bertanya kepada pihak rumah sakit atau kepolisian mengenai kondisi mayat terlebih dulu.

Di awal kegiatannya membantu proses pemulasaraan jenazah Muslim itu, Siti menggunakan dana pribadi, seperti dengan menyisihkan uang kiriman putra pertamanya yang menjadi pekerja migran di Arab Saudi dan dari gajinya sebagai pegawai katering.


Membentuk yayasan
 

Tahun 2019 Siti akhirnya resmi mengurus perizinan dan membentuk Yayasan Rumah Peduli Annisa yang berlokasi di Jalan Pura Demak VIII No 11X, Denpasar Barat.

Kantor bernuansa ungu itu merupakan bangunan hibah bantuan. Saat ini tempat tersebut sekaligus menjadi rumah tinggal Siti bersama keluarganya dan sejumlah anak asuh.

Proses pemotongan kain kafan berlangsung di sana, sementara untuk memandikan jenazah masih tetap dilakukan di rumah sakit.

Tak ada syarat bagi siapapun yang membutuhkan bantuannya, bagi duafa dan fakir miskin akan dibayarkan rumah sakitnya, dan untuk pengurusan jenazah hingga pemakaman tak terbatas, asalkan Muslim, karena terbatas pada prosesi yang berbeda.

Siti mulai dipermudah jalannya dalam melakukan aksi sosial, seperti saat ini ia telah membentuk tim relawan pemulasaraan jenazah terdiri dari 10 wanita dan 10 pria yang bekerja dengan "bayaran" segelas es teh tiap sehabis mengurusi jenazah.

Tak lagi menggunakan dana pribadi, kini kegiatan sosialnya dibantu oleh donatur perseorangan yang tergugah saat melihat kerja-kerja yayasan itu di media sosial Instagram.

Siti tak memiliki donatur tetap, donatur dari perusahaan besar, maupun pemerintah, sehingga dapat dikatakan tak banyak uang yang ia pegang untuk membantu masyarakat.

Untungnya, ada metode lain yang ia terapkan untuk bisa memulasarakan jenazah tanpa tergesa-gesa memikirkan biaya totalnya, yaitu membayar secara berkala.

Bisanya rumah sakit menelepon dia, Siti menjamin agar pasien bisa keluar. Biayanya dibayar yayasan tiap bulan secara cicil, misalnya Rp500 ribu per bulan, meskipun hutangnya Rp100 juta. Baru setelah 2 tahun diajukan ke KPKNL untuk permohonan keringanan. Seperti bulan ini dia mengajukan yang harusnya total Rp133 juta menjadi Rp26 juta.

Ratusan juta itu baru biaya mengeluarkan jenazah dari rumah sakit, sementara Siti masih harus mengurusi pemakamannya dengan biaya Rp2,5 juta ditambah perlengkapan upacara Rp700 ribu.

Dengan semua itu, ketua yayasan yang juga merupakan penjaga indekos tersebut mengaku tak menyesal, karena aksi sosialnya ini bentuk dari mensyukuri kehidupan nyamannya saat ini.


Pandemi COVID-19
 

Momentum pandemi COVID-19 diakuinya sebagai waktu yang berat, lantaran dalam dua bulan varian delta menyerang Pulau Dewata, tercatat ada 150 jenazah yang ia kuburkan.

Kala itu, relawan Rumah Peduli Annisa dihadapkan dengan sulitnya pengadaan APD dan keterbatasan akses, ditambah perasaan iba terhadap keluarga penyintas yang tidak bisa dilibatkan dalam proses pemakaman.

Saat itu APD mahal sekali dan meminta kepada keluarganya tidak bisa. Keluarganya juga tidak boleh menjenguk. Siti dan tim yang pontang panting mencari, bahkan awalnya "kucing-kucingan" dengan aparat.


Baca juga: Lipsus - Pesan perjuangan Kartini dari Mollo

Meski demikian, ia tetap menggerakkan rumah peduli itu, bahkan berkaca dari terus melonjaknya biaya pemakaman, kini ia sedang memproses pembelian tanah seluas 1,2 hektare di Jembrana untuk pemakaman gratis.

Tak terbatas sebagai sukarelawan pemulasaraan jenazah, Siti juga mengontrak sebuah rumah berlantai dua di kawasan Denpasar Timur untuk ditempatkan oleh disabilitas dan lansia telantar.

Wanita dengan tiga cucu yang berjuang bak Kartini ini menganggap dirinya bukan orang yang lemah, terbukti dari fakta bahwa ia bisa lolos dari lubang permasalahan dan saatnya menjadi contoh bagi perempuan lainnya.

Baca juga: Artikel - Kiprah dua Kartini PLN dibalik berdirinya menara listrik darurat di Pulau Timor

Aksi sosial yang selama ini dia lakukan semata-mata karena tak ingin orang lain mengalami kesulitan yang ia rasakan seorang diri sebagai orang tua tunggal kala itu.

Siti selayaknya Kartini yang meski harus sembunyi-sembunyi ia tetap belajar, mengedukasi sekitar, dan tidak meratap lemah ketika ujian hidup datang.

 

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Cerita ibu sukarelawan pemulasaraan jenazah di Bali

Pewarta : Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024