Pengamat: Pelemahan rupiah berpeluang berlanjut
Kamis, 8 Juni 2023 10:07 WIB
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang dolar AS dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Mandiri Persero Tbk, Jakarta, Selasa (31/1/2023). (ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom/pri.)
Jakarta (ANTARA) - Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra menyatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS berpeluang berlanjut pada hari Kamis (8/6) seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS yang menyiratkan persepsi pelaku pasar bahwa kondisi suku bunga tinggi masih akan dipertahankan di AS.
"Kenaikan imbal hasil obligasi AS dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Kanada yang di luar ekspektasi semalam, naik 25 bps menjadi 4,75 persen," ucap dia ketika ditanya Antara, di Jakarta, Kamis, (8/6/2023).
Penaikan suku bunga acuan Bank Sentral Kanada dilakukan dalam rangka menurunkan target inflasi mereka menjadi 2 persen, mengingat sekarang sudah berkisar 4,4 persen.
Berdasarkan survei CME Fed Watch Tool, probabilitas jeda di Juni 2023 menunjukkan penurunan dari sebelumnya di kisaran 80 persen menjadi 66 persen.
"Potensi pelemahan (rupiah) ke kisaran Rp14.900 per dolar AS, dengan support di kisaran Rp14.850 per dolar AS," ucapnya.
Sebelumnya, Analis Senior Lukman Leong menyampaikan bahwa pembukaan pada hari Kamis, investor akan cenderung wait and see menantikan serangkaian data dan event ekonomi penting minggu depan. Misalnya, data cadangan devisa Indonesia yang diumumkan pada Jumat (9/6), neraca perdagangan Indonesia, dan data inflasi AS dan pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) minggu depan.
"Dolar AS sendiri diperkirakan masih akan range bound, rupiah sendiri masih didukung sentimen positif domestik dan akan menguat walau tidak akan besar," kata Lukman pada Rabu (7/6).
Pada pembukaan perdagangan hari Kamis, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank melemah 0,17 persen atau 25 poin menjadi Rp14.902 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.877 per dolar AS.
Baca juga: Analis sebut Pelemahan rupiah masih terbuka
Baca juga: Rupiah masih akan melemah terhadap dolar AS, kata pengamat
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat: Pelemahan rupiah berpeluang berlanjut pada hari Kamis
"Kenaikan imbal hasil obligasi AS dipicu kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Kanada yang di luar ekspektasi semalam, naik 25 bps menjadi 4,75 persen," ucap dia ketika ditanya Antara, di Jakarta, Kamis, (8/6/2023).
Penaikan suku bunga acuan Bank Sentral Kanada dilakukan dalam rangka menurunkan target inflasi mereka menjadi 2 persen, mengingat sekarang sudah berkisar 4,4 persen.
Berdasarkan survei CME Fed Watch Tool, probabilitas jeda di Juni 2023 menunjukkan penurunan dari sebelumnya di kisaran 80 persen menjadi 66 persen.
"Potensi pelemahan (rupiah) ke kisaran Rp14.900 per dolar AS, dengan support di kisaran Rp14.850 per dolar AS," ucapnya.
Sebelumnya, Analis Senior Lukman Leong menyampaikan bahwa pembukaan pada hari Kamis, investor akan cenderung wait and see menantikan serangkaian data dan event ekonomi penting minggu depan. Misalnya, data cadangan devisa Indonesia yang diumumkan pada Jumat (9/6), neraca perdagangan Indonesia, dan data inflasi AS dan pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC) minggu depan.
"Dolar AS sendiri diperkirakan masih akan range bound, rupiah sendiri masih didukung sentimen positif domestik dan akan menguat walau tidak akan besar," kata Lukman pada Rabu (7/6).
Pada pembukaan perdagangan hari Kamis, nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank melemah 0,17 persen atau 25 poin menjadi Rp14.902 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.877 per dolar AS.
Baca juga: Analis sebut Pelemahan rupiah masih terbuka
Baca juga: Rupiah masih akan melemah terhadap dolar AS, kata pengamat
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat: Pelemahan rupiah berpeluang berlanjut pada hari Kamis
Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita 8.000 dolar Singapura dari penggeledahan kantor KPP Madya Jakut
13 January 2026 12:42 WIB
BI: Cadangan devisa akhir November 2025 meningkat menjadi 150,1 miliar dolar AS
05 December 2025 12:13 WIB
UEA menyiapkan 5 juta dolar AS untuk kembangkan pariwisata di Pulau Komodo
08 November 2025 3:35 WIB