Labuan Bajo (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat bersama pelaku pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) tengah berupaya mengembangkan Desa Wisata Warloka Pesisir guna memacu peningkatan kunjungan wisatawan ke daerah itu.
"Desa Warloka Pesisir akhir-akhir ini cukup viral dan memiliki beragam destinasi wisata yang luar biasa," kata Analis Pariwisata Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat Eleonora Dus Gego di Labuan Bajo, Kamis.
Ia mengatakan pengembangan desa wisata itu telah diawali dengan uji coba paket wisata Desa Warloka Pesisir yang diselenggarakan Yayasan Karta Bina Lestari (Bintari) dan menghadirkan pelaku wisata dari Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Manggarai Raya, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat dan perwakilan media massa.
Berdasarkan catatan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Warloka Pesisir, sejak Desember 2024 hingga Januari 2025, tercatat sebanyak 2.000 orang yang mengunjungi Desa Warloka Pesisir. Beberapa spot yang dikunjungi seperti Bukit Kenangan, Hutan Manggrove, dan Anjungan Selfie.
Eleonora menjelaskan Desa Wisata Warloka Pesisir memiliki atraksi wisata yang dapat menarik wisatawan untuk berkunjung seperti Situs Megalitik, Bukit Anjungan, pasar barter, hutan bakau, dan kampung nelayan modern. Keberadaan Desa Warloka pesisir juga strategis karena menjadi kawasan pesisir penyangga Taman Nasional Komodo dan kawasan ekonomi khusus Golo Mori.
Pemerintah daerah, lanjut dia, berkomitmen membangun desa wisata Warloka Pesisir untuk menjadi destinasi wisata yang mendukung destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) Labuan Bajo.
Ia juga menyampaikan Desa Warloka Pesisir menjadi satu dari dua desa yang akan dikembangkan dan diberdayakan pemerintah daerah melalui program inovasi fasilitasi masyarakat desa wisata (Fasmadewi) tahun 2025.
"Penting juga kekuatan kelembagaan, karena kelompok sadar wisata (Pokdarwis) belum tercatat di kami, mohon patenkan surat keputusan pokdarwis dari pemerintah desa lalu kirim ke kami agar segera kita luncurkan program Fasmadewi," katanya.
Sementara itu, Ketua ASITA Manggarai Raya Don Matur mengungkapkan potensi wisata Desa Wisata Warloka Pesisir yang beragam merupakan daya tarik bagi wisatawan yang ingin berwisata di destinasi di luar kawasan Taman Nasional Komodo.
Namun demikian, ia menekankan kepada masyarakat desa agar menjaga kebersihan, keramahtamahan serta pokdarwis setempat harus mengidentifikasi sekaligus menggagas ide menarik berbasis potensi wisata desa
"Kerucutkan ikon wisata apa saja seperti ikon utama batu balok dengan batu meja sebagai warisan masa lampau itu harus dikemas dengan baik dan kadang Komodo terkadang melintas," ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat serta pemerintah desa untuk memperkuat kelembagaan di desa seperti pokdarwis dan pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di desa sehingga dampak perkembangan pariwisata dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Ia juga meminta pemerintah desa dan Pokdarwis Desa Warloka Pesisir untuk memperkuat narasi setiap destinasi yang ada seperti sejarah perkembangan masyarakat, aktivitas pasar barter hingga situs megalitik.
Ketua Yayasan Bintari Fery Prihantoro mengatakan pihaknya mempertemukan pelaku wisata dengan masyarakat desa dan pokdarwis Desa Warloka Pesisir agar para pelaku pariwisata yang memiliki peran strategis untuk mengembangkan desa wisata dapat melakukan edukasi kepada masyarakat, melakukan pendampingan masyarakat dalam sektor pariwisata hingga melakukan berbagai kegiatan yang sesuai pasar industri pariwisata di Labuan Bajo.
Ia menjelaskan dalam tiga tahun terakhir ia menjalankan program penguatan ketahanan iklim masyarakat pesisir beresiko di NTT melalui pengelolaan sumber daya dan mata pencaharian ramah iklim (PEKA IKLIM) di Desa Warloka Pesisir.
"Dalam upaya adaptasi perubahan iklim adalah bagaimana masyarakat memiliki mata pencaharian alternatif salah satunya dengan mengembangkan ecotourism karena memiliki potensi yang cukup baik dari objek, keindahan alam dan lainnya, sehingga harapan ecotourism dapat dikembangkan dan menjadi alternatif mata pencaharian bagi masyarakat desa," katanya.