Kupang (Antara NTT) - Sedikitnya sembilan rumah penduduk yang terletak di tujuh kelurahan dalam wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur diterjang banjir dan terancam longsor sejak awal Januari 2017.

"Tidak ada korban jiwa, namun kerugian material bisa mencapai puluhan juta rupiah," kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang Ade Manafe di Kupang, Selasa.

Menurut dia, sembilan rumah penduduk yang diterjang banjir dan longsor itu umumnya berada di lokasi bantaran kali.

"Kami sudah ingatkan warga untuk tidak membangun di sepanjang bantaran kali, namun mereka tetap melakukan sampai menikmati akibatnya," ujar Manafe.

Ia menambahkan pihaknya juga sudah memberikan bantuan dasar tanggap darurat berupa beras, minyak goreng, susu dan sejumlah makanan lainnya sesuai kebutuhan.

Dia mengatakan, meskipun terkena dampak longsor, namun warga enggan dan menolak meninggalkan rumah tempat tinggalnya.

"Kami sudah minta mereka untuk segera mengunsi namun para korban masih berkeberatan, dan lain-lain," katanya.

Hingga menjelang akhir Januari 2017, BPBD Kota Kupang sudah mencatat 12 kali bencana, antara lain kebakaran serta banjir dan longsor.

Bencana banjir dan longsor terjadi di Kelurahan Liliba, Airnona, Nunleu, Fontein, Fatufeto, dan Tuak Daun Merah (TDM).

"Kita tidak bisa memprediksi cuaca ke depan. yang paling baik adalah mengantisipasinya dengan menjauh dari lokasi yang rawan bencana," katanya.

Bantuan
Ia menambahkan pihaknya juga telah  menyalurkan bantuan dasar tanggap darurat kepada warga korban terjangan banjir dan longsor pada sejumlah titik meliputi tujuh kelurahan wilayah kota ini.

"Bantuan dasar tanggap darurat itu berupa makan siap saji, beras, minyak goreng dan sejumlah kebutuhan dasar lainnya termasuk peralatan dapur jika dibutuhkan keluarga yang terdampak," kata Manafe.

Menurut dia bantuan itu disalurkan setelah petugas BPBD bersama pemerintah kelurahan melakukan pendataan korban bencana dan sejumlah kebutuhan yang menjadi prioritas warga terdampak itu. "Jika dalam pendataan kebutuhan utama adalah beras maka akan diberikan beras dan seterusnya," katanya.

Menurut dia bantuan itu hanya sebatas tanggap darurat untuk memberikan pemenuhan kebutuhan masyarakat saat terdampak. "Ini bantuan langsung dan hanya untuk memberikan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pascabencana," katanya.

Terkait bantuan stimulan sebagai bagian dari langkah tanggap darurat masih belum dilakukan karena belum ada anggaran. "Kami masih menanti pencairan anggaran untuk bantuan stimulan para korban bencana," kata Manafe.

Disebutkan sejumlah titik lokasi yang menjadi lokasi bencana banjir dan longsor yaitu berada di sejumlah kelurahan masing-masing Kelurahan Liliba satu titik lokasi terdampak, Airnona satu titik, Nunleu satu titik, Fontein satu titik terdampak, Fatufeto satu titik dan Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM) tiga titik.

Warga terdampak banjir dan longsor, kata Ade masih tetap bertahan di rumahnya masing-masing dan enggan dievakuasi untuk ditempatkan pada lokasi yang aman.

Meskipun demikian, BPBD terus memberikan peringatan bagi warga terutama yang masih bermukim di sepanjang bantaran kali untuk tetap waspada. "Ini kejadian alam dan soal cuaca kita tidak bisa prediksi. Saya hanya minta untuk waspada," katanya.

Menurut dia BMKG bahkan telah mengeluarkan peringatan untuk warga agar bisa mewaspadai kemungkinan perubahan iklim pada tiga hari ke depan. "Ini penting disampaikan agar bisa menghindari dampak buruk dari sebuah bencana," katanya.

Terkait ketersediaan beras bencana untuk tanggap darurat bencana di daerah itu, Ade menyebut tersedia sebanyak 100 ton. Beras ini siap dimanfaatkan untuk tanggap darurat bencana.

Sementara untuk stok bantuan penanggulangan dampak bencana lainnya, Ade Manafe mengatakan sangat tersedia dan siap digunakan kapan saja jika terjadi bencana.

Stok bantuan bencana itu berupa, makanan instan, selimut, tenda dan sejumlah kebutuhan. "Semua persediaan barang bantuan bencana itu masih tersedia dan siap dimanfaatkan," katanya.

Secara kelembagaan, lanjut dia BPBD Kota Kupang menyiagakan posko bencana 24 jam untuk penanganan kejadian bencana yang dimungkinkan terjadi kapan saja di daerah itu.

Dia mengatakan posko bencana yang berdurasi 24 jam itu sudah dimulai sejak awal Januari 2017 dan akan berakhir pada Maret 2017 nanti. Meskipun demikian, akan bisa diperpanjang, jika kondisi cuaca memberikan kemungkinan terjadinya bencana.

"Jika nantinya musim hujan masih terus terjadi maka posko bencana itu akan kita pertimbangkan untuk terus diaktifkan. Warga bisa menyampaikan informasi segera ke posko agar dampak bencana bisa langsung ditanangani segera," katanya.