Kata Thomas Ola, pengembangan kawasan wisata geopark masih berproses
Jumat, 26 Juli 2019 17:18 WIB
Wakil Bupati Lembata Thomas Ola Langodai (ANTARA FOTO/istimewa)
Kupang (ANTARA) - Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langodai mengemukakan rencana pengembangan wisata geopark di kabupaten yang terkenal dengan budaya menangkap ikan paus secara tradisional itu, masih terus berproses.
"Kami punya potensi alam gunung-gunung berapi yang dapat dijadikan kawasan geopark, hanya saja untuk pengembangannya masih berproses,," katanya ketika dihubungi ANTARA dari Kupang, Jumat (26/7).
Ia mengemukakan hal itu terkait potensi wisata alam di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan sejumlah deretan gunung berapi yang dinilai potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata geopark.
Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi NTT, Abed Frans sebelumnya mengatakan pihaknya mendorong adanya pengembangan kawasan wisata geopark di Kabupaten Lembata oleh pemerintah daerah setempat.
"Wisata geopark cocok dikembangkan di Lembata yang memiliki sejumlah gunung api yang aktif dan alamnya di sekitarnya yang indah," ujar Abed Frans menambahkan.
Thomas Ola menambahkan, daerah setempat memiliki tiga gunung berapi di antaranya Gunung Ile Lewotolok, Gunung Ile Werung, dan Gunung Ile Batutaran yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata geopark.
Hanya saja, lanjutnya pemerintah daerah masih berproses menuju ke arah pengusulan pembentukan kawasan wisata geopark ke Pemerintah Pusat. "Dalam wacana, diskusi juga ada yang mengusulkan geopark, ada yang taman nasional dan sebagainya, jadi masih berporses," tegas mantan Dekan Fakultas Ekonomi Univesitas Widya Mandira (Unwira) Kupang itu.
Ia menyebutkan, pemerintah daerah sudah mulai memperkenalkan kekayaan wisata alam di daerah itu melalui festival Tiga Gunung yang digelar setiap tahun.
"Kegiatan festival ini tentu untuk mengangkat potensi sehingga ke depan bisa lebih banyak intervensi pembangunan termasuk menuju ke arah pembentukan kawasan geopark," katanya. Gunung Api Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT. (ANTARA FOTO/Dok)
"Kami punya potensi alam gunung-gunung berapi yang dapat dijadikan kawasan geopark, hanya saja untuk pengembangannya masih berproses,," katanya ketika dihubungi ANTARA dari Kupang, Jumat (26/7).
Ia mengemukakan hal itu terkait potensi wisata alam di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan sejumlah deretan gunung berapi yang dinilai potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata geopark.
Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Provinsi NTT, Abed Frans sebelumnya mengatakan pihaknya mendorong adanya pengembangan kawasan wisata geopark di Kabupaten Lembata oleh pemerintah daerah setempat.
"Wisata geopark cocok dikembangkan di Lembata yang memiliki sejumlah gunung api yang aktif dan alamnya di sekitarnya yang indah," ujar Abed Frans menambahkan.
Thomas Ola menambahkan, daerah setempat memiliki tiga gunung berapi di antaranya Gunung Ile Lewotolok, Gunung Ile Werung, dan Gunung Ile Batutaran yang potensial untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata geopark.
Hanya saja, lanjutnya pemerintah daerah masih berproses menuju ke arah pengusulan pembentukan kawasan wisata geopark ke Pemerintah Pusat. "Dalam wacana, diskusi juga ada yang mengusulkan geopark, ada yang taman nasional dan sebagainya, jadi masih berporses," tegas mantan Dekan Fakultas Ekonomi Univesitas Widya Mandira (Unwira) Kupang itu.
Ia menyebutkan, pemerintah daerah sudah mulai memperkenalkan kekayaan wisata alam di daerah itu melalui festival Tiga Gunung yang digelar setiap tahun.
"Kegiatan festival ini tentu untuk mengangkat potensi sehingga ke depan bisa lebih banyak intervensi pembangunan termasuk menuju ke arah pembentukan kawasan geopark," katanya. Gunung Api Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT. (ANTARA FOTO/Dok)
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Presiden Jokowi: Kekayaan geologi jangan dirusak dan dieksploitasi berlebihan
22 November 2021 12:31 WIB, 2021
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Pemerintah tanggung PPN tiket pesawat ekonomi penerbangan domestik selama 60 hari
26 April 2026 18:12 WIB