
Gubernur: NTT adalah laboratorium terbaik pengembangan koperasi

Kupang (ANTARA) - Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena mengatakan Provinsi berbasis kepulauan itu merupakan laboratorium terbaik bagi pengembangan ekonomi koperasi di Indonesia.
“Di NTT koperasi bukan pilihan alternatif, melainkan kebutuhan dasar dan menjadi instrumen paling relevan untuk menggerakkan ekonomi rakyat. Di banyak wilayah, koperasi hadir lebih dulu daripada layanan perbankan,” katanya di Kupang, Minggu.
Menurut Gubernur Melki Laka Lena, rapat anggota tahunan (RAT) bukan sekadar kewajiban organisasi, melainkan jantung kehidupan koperasi. Forum ini menjadi ruang untuk menegakkan akuntabilitas, memperkuat kepercayaan, serta menentukan arah dan masa depan koperasi secara bersama-sama.
Ia menilai KSP TLM Indonesia telah menunjukkan bahwa koperasi dapat tumbuh besar tanpa kehilangan jati dirinya.
Koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keuangan, tetapi juga sebagai gerakan sosial yang berpihak pada masyarakat kecil, memperkuat ekonomi keluarga, serta membangun solidaritas berbasis komunitas.
“Hal ini nyata melalui berbagai program CSR yang hari ini disalurkan dengan nilai signifikan dan menjangkau berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kerohanian, pertanian, hingga pembangunan sarana prasarana dan kegiatan sosial di berbagai wilayah kerja KSP TLM Indonesia,” ujarnya.
Meski demikian, Gubernur Melki mengingatkan bahwa sektor koperasi masih menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, masih terdapat kesenjangan antara jumlah koperasi dan kualitasnya, di mana tidak semua koperasi aktif dan produktif.
Kedua, keterbatasan akses pembiayaan yang membuat koperasi masih bertumpu pada modal internal. Ketiga, kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola yang perlu terus diperkuat, terutama dalam aspek profesionalisme, transparansi, dan manajemen risiko.
“Keempat, tantangan digitalisasi yang menuntut koperasi beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” tambah dia.
Di balik tantangan tersebut, menurutnya, terdapat peluang besar. NTT memiliki kekuatan sosial berupa gotong royong, solidaritas, dan kepercayaan komunitas yang tinggi, yang menjadi fondasi alami bagi pengembangan koperasi.
Selain itu, keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal justru membuka ruang bagi koperasi untuk menjadi ujung tombak inklusi keuangan di daerah.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
