PMI NTT di Hong Kong minta dikirimkan masker
Jumat, 14 Februari 2020 17:18 WIB
Sejumlah WNI dan PMI asal NTT mengantre untuk mendapatkan masker di KJRI Indonesia di Hong Kong. (FOTO ANTARA/HO-Therzy DJami)
Kupang (ANTARA) - Para pekerja migran Indonesia (PMI) asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang bekerja di Hong Kong meminta dikirimkan masker untuk mencegah wabah virus COVID-19.
Seorang pekerja migran Indonesia yang sudah bekerja selama 23 tahun di Hong Kong Therzy Djami saat menghubungi Antara di Kupang, Jumat (14/2) mengatakan bahwa saat ini mereka kesulitan sekali mendapatkan masker yang dijual di apotek.
"Kalau Pemprov NTT bisa menerima mahasiswa Timor Leste dari Wuhan, China untuk ditampung di Kota Kupang walaupun tidak jadi, kami minta tolong kalau bisa juga bisa mengirimkan kami bantuan berupa masker karena di sini sangat sulit," katanya.
Ia mengaku agak kecewa karena beberapa provinsi lain di Indonesia justru mengirimkan masker buat para pekerjanya di negara mereka bekerja, namun dari NTT belum mengirimkan satu pun juga.
Padahal, kata Therzy menambahkan para pekerja migran Indonesia asal NTT yang bekerja Hong Kong tentu memberikan pemasukan berupa devisa bagi Pemrov NTT.
Ia mengaku dirinya bersama rekan-rekannya bisa membeli masker, namum saat ini karena terjadi kelangkaan penjualan masker di manapun itu di negara itu, bahkan jika sudah mengantre pun tetap saja tidak bisa mendapatkan karena habis.
"Setiap hari pasti selalu saja ada yang mengantre untuk membeli masker di apotek-apotek di Hong Kong. Panjang antrean berkisar dari 200 hingga 400 meter dan itu membutuhkan waktu berjam-jam," tambah Therzy yang tinggal di Island Resort Siu Sai Wan itu. Antrean panjang untuk mendapatkan masker di kota Hong Kong. (FOTO ANTARA/HO-Therzy DJami)
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, kata dia, memang juga menyiapkan masker, tetapi jumlahnya tidak banyak sebab stok yang dimiliki juga tidak banyak.
"Kami memang sering mendapatkan masker dari KJRI di Hong Kong. Setiap orang hanya dapat tiga masker, itu pun tidak dapat setiap hari, karena mereka juga kehabisan stok masker," tambah dia.
Ia juga mengatakan bahwa beberapa hari lalu memang ada kiriman 10 ribu masker dari Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi yang dikhususkan bagi PMI di Hong Kong.
"Tetapi itu kan dari uang pribadinya pak wakil gubernur, bukan dari pemerintah provinsi NTT. Ribuan masker itu juga belum kami terima hingga sekarang, mungkin dalam waktu beberapa hari lagi ke depan," katanya.
Menanggapi kiriman masker tersebut, Wagub NTT Josef Nae Soi mengaku bahwa memang dirinya beberapa hari yang lalu sudah mengirimkan masker tersebut ke Hong Kong.
"Saya sudah kirimkan 10.000 masker ke Hong Kong, tetapi itu pakai uang pribadi saya," demikian Wagub NTT Josef Nae Soi.
Seorang pekerja migran Indonesia yang sudah bekerja selama 23 tahun di Hong Kong Therzy Djami saat menghubungi Antara di Kupang, Jumat (14/2) mengatakan bahwa saat ini mereka kesulitan sekali mendapatkan masker yang dijual di apotek.
"Kalau Pemprov NTT bisa menerima mahasiswa Timor Leste dari Wuhan, China untuk ditampung di Kota Kupang walaupun tidak jadi, kami minta tolong kalau bisa juga bisa mengirimkan kami bantuan berupa masker karena di sini sangat sulit," katanya.
Ia mengaku agak kecewa karena beberapa provinsi lain di Indonesia justru mengirimkan masker buat para pekerjanya di negara mereka bekerja, namun dari NTT belum mengirimkan satu pun juga.
Padahal, kata Therzy menambahkan para pekerja migran Indonesia asal NTT yang bekerja Hong Kong tentu memberikan pemasukan berupa devisa bagi Pemrov NTT.
Ia mengaku dirinya bersama rekan-rekannya bisa membeli masker, namum saat ini karena terjadi kelangkaan penjualan masker di manapun itu di negara itu, bahkan jika sudah mengantre pun tetap saja tidak bisa mendapatkan karena habis.
"Setiap hari pasti selalu saja ada yang mengantre untuk membeli masker di apotek-apotek di Hong Kong. Panjang antrean berkisar dari 200 hingga 400 meter dan itu membutuhkan waktu berjam-jam," tambah Therzy yang tinggal di Island Resort Siu Sai Wan itu. Antrean panjang untuk mendapatkan masker di kota Hong Kong. (FOTO ANTARA/HO-Therzy DJami)
Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hong Kong, kata dia, memang juga menyiapkan masker, tetapi jumlahnya tidak banyak sebab stok yang dimiliki juga tidak banyak.
"Kami memang sering mendapatkan masker dari KJRI di Hong Kong. Setiap orang hanya dapat tiga masker, itu pun tidak dapat setiap hari, karena mereka juga kehabisan stok masker," tambah dia.
Ia juga mengatakan bahwa beberapa hari lalu memang ada kiriman 10 ribu masker dari Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi yang dikhususkan bagi PMI di Hong Kong.
"Tetapi itu kan dari uang pribadinya pak wakil gubernur, bukan dari pemerintah provinsi NTT. Ribuan masker itu juga belum kami terima hingga sekarang, mungkin dalam waktu beberapa hari lagi ke depan," katanya.
Menanggapi kiriman masker tersebut, Wagub NTT Josef Nae Soi mengaku bahwa memang dirinya beberapa hari yang lalu sudah mengirimkan masker tersebut ke Hong Kong.
"Saya sudah kirimkan 10.000 masker ke Hong Kong, tetapi itu pakai uang pribadi saya," demikian Wagub NTT Josef Nae Soi.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Menkeu Purbaya: Penempatan Rp200 triliun di Himbara bisa terserap sektor rill sebulan
16 September 2025 13:09 WIB
Danantara: Kesepakatan membeli 50 pesawat Boeing sudah ada sebelum pandemi COVID-19
29 July 2025 14:02 WIB
KPK mengusut harga barang yang disuplai untuk bansos presiden terkait COVID-19
22 July 2025 11:36 WIB
Presiden Jokowi persilakan KPK mengusut dugaan korupsi Bansos COVID-19 tahun 2020
27 June 2024 18:00 WIB, 2024
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Kemdiktisaintek resmikan 33 prodi spesialis demi mempercepat pemenuhan dokter,
13 February 2026 18:43 WIB
Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi dokter yang ambil spesialis di Undana
13 February 2026 17:00 WIB
Komisi X DPR meminta Kemendigdasmen revitalisasi sekolah daerah 3T jadi prioritas
13 February 2026 13:23 WIB
Undana hadirkan peta digital interaktif rumput laut berbasis AI bagi petani
12 February 2026 16:27 WIB
KPAI menemukan pencairan dana PIP kasus anak akhiri hidup di NTT terkendala teknis bank
11 February 2026 13:50 WIB