Labuan Bajo (ANTARA) - Peternk ayam di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengeluhkan penurunan daya beli masyarakat sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Menurut seorang peternak ayam di Desa Nggorang, Kabupaten Manggarai Barat, Savio Mutu (31), penurunan daya beli masyarakat sudah berlangsung selama dua minggu.

Akibatnya, jumlah ayam yang siap panen belum bisa terserap di pasaran. Padahal, peternak telah berupaya menurunkan harga dari peternak.

"Saya punya 4.500 ekor ayam saat ini dan siap panen 800 ekor ayam. Kami lihat daya beli masyarakat memang rendah. Kalau diturunkan dari peternak sama saja, tidak terserap juga di pasar harga masih sama," keluhnya di Labuan Bajo, Kamis, (5/8).

Sebelum adanya PPKM, Savio bisa menjual habis ayam miliknya. Sekali panen dia bisa menjual 1.500 ekor ayam.

Namun, Savio tidak bisa berharap banyak karena kondisi tersebut. Kini, dia bisa menjual 350 ekor ayam dalam dua minggu kemarin.

"Untuk skala seribu ekor ayam, saya merugi Rp1,2 juta per hari jika tidak panen," bebernya datar.

Alhasil, Savio harus memutar otak agar bisnis yang digelutinya selama empat tahun terakhir ini tidak mati. Ia pun mencoba beralih ke ayam potong karkas dan ayam beku. Namun, jumlahnya tidak banyak.

Strategi lain agar ayamnya laku adalah menjual dari rumah ke rumah; kampung ke kampung. Ia juga menurunkan harga ayam. Dari biasanya Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per ekor, kini ayam miliknya dibanderol dengan harga Rp55 ribu per ekor. Selain itu, ia hanya berupaya untuk memperkuat jaringan dan pemasaran agar ayamnya tetap laku.

Savio berharap, masa PPKM bisa segera terlewati agar daya beli masyarakat bisa kembali normal. Menurutnya, jika banyak acara yang diselenggarakan oleh warga, maka potensi ayam terjual juga kembali membaik.

Pewarta : Fransiska Mariana Nuka
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2024