Pemkot naikan dana stimulan
Senin, 12 Maret 2018 17:00 WIB
Kepala BPBD Kota Kupang Ade Manafe
Kupang (AntaraNews NTT) - Pemerintah Kota Kupang akan menambah alokasi dana bantuan stimulan bagi korban bencana alam menyusul terus meningkatnya peristiwa bencana alam yang melanda ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Wali Kota Jefrison Riwu Kore setuju merevisi peraturan wali kota Kupang (Perwali) Nomor 5 tahun 2016 tentang penetapan nilai bantuan stimulai bagi korban bencana alam karena nilainya sangat minim," kata Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang Ade Manafe kepada Antara di Kupang, Senin.
Berdasarkan catatan BPBD Kota Kupang sejak November 2017 hingga Maret 2018 sudah empat kali bencana alam angin puting beliung yang menyebabkan sekitar 180 rumah penduduk mengalami kerusakan serta bencana tanah longsor.
Ade Manafe mengatakan bantuan bagi korban bencana yang rumahnya mengalami rusak berat berdasarkan Perwali Nomor 5 tahun 2016 hanya Rp2,5 juta, rumah dengan kerusakan sedang Rp1 juta, sedangkan rumah dengan kerusakan ringan mendapat bantuan Rp500 ribu.
"Bantuan ini sangat kecil sehingga mendorong Wali Kota Kupang melakukan revisi terhadap Perwali itu. Dengan revisi maka nilai bantuan pasti ikut naik," kata Ade.
Ia mengatakan, bantuan stimulan yang dialokasikan melalui APBD II Kota Kupang sangat minim yaitu Rp21 juta, sehingga bantuan yang didistribusikan kepada korban bencana sangat kecil.
"Kita harapkan dengan direvisinya Perwali Nomor 5 tahun 2016 tentang alokasi bantuan stimulan bagi korban bencana maka nilai bantuan stimulan dinaikan. Bantuan bagia korban dengan kerusakan rumah akan naik dari Rp5 juta dari sebelumnya Rp2,5 juta," kata Ade.
BNPB Rp8 miliar
Sementara itu, bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat untuk pembangunan tanggul yang jebol di Pantai Oesapa akibat gelombang pasang sebesar Rp8 miliar.
Ia mengatakan dana bantuan dari BNPB Pusat itu dialokasikan tahun 2017 untuk perbaikan infrastruktur seperti tanggul pantai Oesapa yang hancur akibat terjangan gelombang ketika memasuki musim hujan tahun 2017 serta pembangunan drainase di Kecamatan Maulafa.
Selama ini, banjir yang terjadi di Maulafa, karena belum memiliki drainase sehingga luapan air menggenangi seluruh pemukiman warga. "Kita upayakan dengan membangun drainase dapat mengatasi masalah banjir pada musim hujan tahun berikutnya," katanya.
"Wali Kota Jefrison Riwu Kore setuju merevisi peraturan wali kota Kupang (Perwali) Nomor 5 tahun 2016 tentang penetapan nilai bantuan stimulai bagi korban bencana alam karena nilainya sangat minim," kata Kepala Badan Penangulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang Ade Manafe kepada Antara di Kupang, Senin.
Berdasarkan catatan BPBD Kota Kupang sejak November 2017 hingga Maret 2018 sudah empat kali bencana alam angin puting beliung yang menyebabkan sekitar 180 rumah penduduk mengalami kerusakan serta bencana tanah longsor.
Ade Manafe mengatakan bantuan bagi korban bencana yang rumahnya mengalami rusak berat berdasarkan Perwali Nomor 5 tahun 2016 hanya Rp2,5 juta, rumah dengan kerusakan sedang Rp1 juta, sedangkan rumah dengan kerusakan ringan mendapat bantuan Rp500 ribu.
"Bantuan ini sangat kecil sehingga mendorong Wali Kota Kupang melakukan revisi terhadap Perwali itu. Dengan revisi maka nilai bantuan pasti ikut naik," kata Ade.
Ia mengatakan, bantuan stimulan yang dialokasikan melalui APBD II Kota Kupang sangat minim yaitu Rp21 juta, sehingga bantuan yang didistribusikan kepada korban bencana sangat kecil.
"Kita harapkan dengan direvisinya Perwali Nomor 5 tahun 2016 tentang alokasi bantuan stimulan bagi korban bencana maka nilai bantuan stimulan dinaikan. Bantuan bagia korban dengan kerusakan rumah akan naik dari Rp5 juta dari sebelumnya Rp2,5 juta," kata Ade.
BNPB Rp8 miliar
Sementara itu, bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat untuk pembangunan tanggul yang jebol di Pantai Oesapa akibat gelombang pasang sebesar Rp8 miliar.
Ia mengatakan dana bantuan dari BNPB Pusat itu dialokasikan tahun 2017 untuk perbaikan infrastruktur seperti tanggul pantai Oesapa yang hancur akibat terjangan gelombang ketika memasuki musim hujan tahun 2017 serta pembangunan drainase di Kecamatan Maulafa.
Selama ini, banjir yang terjadi di Maulafa, karena belum memiliki drainase sehingga luapan air menggenangi seluruh pemukiman warga. "Kita upayakan dengan membangun drainase dapat mengatasi masalah banjir pada musim hujan tahun berikutnya," katanya.
Pewarta : Benediktus Jahang
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Polda Metro mengingatkan aksi unjuk rasa hanya diperbolehkan hingga pukul 18.00
28 August 2025 14:44 WIB
Ganjar Pranowo respons pernyataan Ade Armando terkait dinasti politik DIY
06 December 2023 11:46 WIB, 2023
Artikel - Saskia, perempuan pejuang mangrove dari kampung Lantebung
05 September 2022 12:48 WIB, 2022
Ade Yasin mengaku dipaksa harus bertanggung jawab atas perbuatan anak buah
28 April 2022 10:06 WIB, 2022
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Menko Pangan: Penerima MBG menjangkau 60 juta orang, SPPG capai 22.091 unit
29 January 2026 13:36 WIB
378 pendaftar lolos seleksi administrasi calon anggota KIP periode 2026--2030
27 January 2026 8:35 WIB