Emas berjangka terdongkrak 1,4 dolar
Selasa, 11 Januari 2022 6:04 WIB
Emas batangan. ANTARA/Reuters/aa.
Chicago (ANTARA) - Emas berjangka sedikit menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa, 11/1 pagi WIB), karena terkoreksi setelah mencatat penurunan mingguan paling tajam sejak akhir November, namun kenaikannya dibatasi oleh dolar yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi yang meningkat saat investor fokus pada data inflasi utama yang akan dirilis pekan ini.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak 1,4 dolar AS atau 0,08 persen, menjadi ditutup pada 1.798,80 dolar AS per ounce. Emas berjangka masih berada di bawah level 1.800 dolar AS setelah pekan lalu mencatat penurunan mingguan sekitar 1,7 persen, terbesar sejak pekan yang berakhir 26 November.
"Kami mendapat inflasi yang menguntungkan emas, tetapi imbal hasil mendorong harga lebih rendah yang mengarah ke tarik ulur antara dua faktor ini," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Para analis pasar berpendapat bahwa pasar emas terlihat memiliki resistensi teknis dan fundamental pada 1.800 dolar AS untuk memulai minggu perdagangan baru.
Sentimen pada emas adalah beli dan tahan, dengan harga menetap di kisaran sekitar 1.800 dolar AS, Haberkorn menambahkan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun, karena dolar menguat di tengah taruhan inflasi AS akan mendukung kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh Federal Reserve AS.
Investor sekarang menunggu data inflasi yang akan dirilis pada Rabu (12/1/2022). Indeks Harga Konsumen (IHK) inti AS diperkirakan telah meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade di 5,4 persen pada Desember, menguat dari 4,9 persen pada bulan sebelumnya.
Emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi, tetapi kenaikan suku bunga AS meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sementara dolar yang lebih kuat membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pasar saham juga jatuh pada Senin (10/1/2022) karena taruhan bahwa Federal Reserve AS dapat menaikkan suku bunga segera setelah Maret membuat investor mengurangi aset-aset berisiko.
"Penghindaran risiko pedagang dan investor tidak bergairah pada awal minggu ini, tetapi selera risiko mereka juga tidak," Jim Wyckoff, seorang analis senior di Kitco Metals, menulis dalam sebuah catatan.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 5,3 sen atau 0,24 persen, menjadi ditutup pada 22,462 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April turun 22,9 dolar AS atau 2,39 persen, menjadi ditutup pada 933,6 dolar AS per ounce.
Baca juga: Emas bertahan dekat terendah 3 minggu
Baca juga: Emas bangkit 8,2 dolar dari kerugian
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari di divisi Comex New York Exchange, terdongkrak 1,4 dolar AS atau 0,08 persen, menjadi ditutup pada 1.798,80 dolar AS per ounce. Emas berjangka masih berada di bawah level 1.800 dolar AS setelah pekan lalu mencatat penurunan mingguan sekitar 1,7 persen, terbesar sejak pekan yang berakhir 26 November.
"Kami mendapat inflasi yang menguntungkan emas, tetapi imbal hasil mendorong harga lebih rendah yang mengarah ke tarik ulur antara dua faktor ini," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Para analis pasar berpendapat bahwa pasar emas terlihat memiliki resistensi teknis dan fundamental pada 1.800 dolar AS untuk memulai minggu perdagangan baru.
Sentimen pada emas adalah beli dan tahan, dengan harga menetap di kisaran sekitar 1.800 dolar AS, Haberkorn menambahkan.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun melonjak ke level tertinggi dalam dua tahun, karena dolar menguat di tengah taruhan inflasi AS akan mendukung kenaikan suku bunga yang lebih cepat oleh Federal Reserve AS.
Investor sekarang menunggu data inflasi yang akan dirilis pada Rabu (12/1/2022). Indeks Harga Konsumen (IHK) inti AS diperkirakan telah meningkat ke level tertinggi dalam beberapa dekade di 5,4 persen pada Desember, menguat dari 4,9 persen pada bulan sebelumnya.
Emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang lebih tinggi, tetapi kenaikan suku bunga AS meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil, sementara dolar yang lebih kuat membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pasar saham juga jatuh pada Senin (10/1/2022) karena taruhan bahwa Federal Reserve AS dapat menaikkan suku bunga segera setelah Maret membuat investor mengurangi aset-aset berisiko.
"Penghindaran risiko pedagang dan investor tidak bergairah pada awal minggu ini, tetapi selera risiko mereka juga tidak," Jim Wyckoff, seorang analis senior di Kitco Metals, menulis dalam sebuah catatan.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 5,3 sen atau 0,24 persen, menjadi ditutup pada 22,462 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman April turun 22,9 dolar AS atau 2,39 persen, menjadi ditutup pada 933,6 dolar AS per ounce.
Baca juga: Emas bertahan dekat terendah 3 minggu
Baca juga: Emas bangkit 8,2 dolar dari kerugian
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita emas hingga uang asing senilai Rp40,5 miliar pada kasus barang KW
06 February 2026 7:23 WIB
Menpora memuji Kontingen Indonesia bawa pulang 135 medali emas dari APG 2025
26 January 2026 15:22 WIB
APG 2025 - Rafli dan Novia tambah dua emas untuk Indonesia lewat para judo
23 January 2026 17:56 WIB
ASEAN Para Games 2025: Siti Alfiah sumbang emas pertama dari para renang dalam
21 January 2026 11:57 WIB
Pemerintah menargetkan empat Sekolah Garuda baru mulai beroperasi tahun ini
14 January 2026 11:22 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
BRI membantah disebut tolak pencairan dana PIP bocah yang meninggal di Ngada
12 February 2026 15:16 WIB