Pemkab Lembata imbau warga waspadai longsor dari puncak Ili Lewotolok
Senin, 13 Juni 2022 14:05 WIB
Dok. Gunung Api Ili Lewotolok mengeluarkan material vulkanik erupsi di Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (29/11/2020).Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menaikan status gunung api itu dari semula waspada menjadi siaga setelah melihat situasi gunung api yang terus melontarkan batu atau larva pijar. ANTARA FOTO/Aken Udjan/KH.
Kupang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat di daerah tersebut untuk mewaspadai terjadinya longsor dari puncak gunung Ile Lewotolok akibat semakin banyaknya material yang menumpuk di mulut kawah gunung itu.
"Saya sudah kirim surat ke camat di dua kecamatan yang desa-desanya berpotensi terkena bencana gunung api, agar mengimbau warganya agar mewaspadai longsoran dari puncak gunung," kata PJS Bupati Lembata Marsianus Jawa dari Lembata, Senin, (13/6/2022).
Ia mengingatkan kepada para camat agar memberitahukan kepada para kepala desa agar waspada dengan jika terpantau di puncak gunung mulai gelap disertai hujan.
Karena dikhawatirkan muncul longsor yang bisa saja berakibat pada munculnya awan panas yang diakibatkan oleh hujan yang lebat di puncak gunung.
Marsianus juga mengaku sudah memantau langsung serta melihat pos pemantau gunung Ile Lewotolok untuk mendapatkan informasi terkait bahaya dari gunung itu.
"Kita sudah antisipasi. BPBD sudah siap dan pada dasarnya kita sudah siap jika terjadi hal yang tidak diinginkan," tambah dia.
Kendala yang terjadi di lapangan saat ini adalah masih ada beberapa warga di sejumlah desa yang berpotensi terdampak longsoran enggan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Sehingga ujar dia pemerintah berusaha mencari cara terbaik agar warga bisa terhindar dari bencana alam jika terjadi longsoran akibat meluapnya aliran lava.
Sebelumnya, Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, melaporkan bahwa material di puncak kawah gunung Ile Lewotolok semakin bertambah dan mengkhawatirkan.
"Saat ini karena kawah di puncak gunung itu cukup luas sehingga materialnya masih tertampung. Namun jika sudah penuh dan sama tinggi dengan puncak bibir gunung maka akan meluap," katanya.
Ia menjelaskan kini tinggal beberapa meter lagi sekitar 3-5 meter lagi material letusan dan erupsi yang ada di puncak kawah gunung itu akan meluap jika ada celah di puncak gunung itu.
Stanis menyebutkan ada beberapa desa yang akan terkena luapan material itu jika intensitas erupsi dan letusan disertai material terus terjadi.
Sejumlah desa itu seperti desa Lewotolok, desa Bungamuda, Waowala dan desa Riangbao. Karena itu, masyarakat di sejumlah desa itu perlu waspada.
Pemerintah daerah juga diimbau untuk mensosialisasikan kekhawatiran tersebut, agar masyarakat juga tahu dan sadar jika dievakuasi jikalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Baca juga: Pos Pemantau: Puncak kawah gunung Ile Lewotolok penuh lava
Baca juga: 167 kali letusan di puncak Gunung Ili Lewotolok
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemkab Lembata imbau warganya waspadai longsor dari puncak gunung api
"Saya sudah kirim surat ke camat di dua kecamatan yang desa-desanya berpotensi terkena bencana gunung api, agar mengimbau warganya agar mewaspadai longsoran dari puncak gunung," kata PJS Bupati Lembata Marsianus Jawa dari Lembata, Senin, (13/6/2022).
Ia mengingatkan kepada para camat agar memberitahukan kepada para kepala desa agar waspada dengan jika terpantau di puncak gunung mulai gelap disertai hujan.
Karena dikhawatirkan muncul longsor yang bisa saja berakibat pada munculnya awan panas yang diakibatkan oleh hujan yang lebat di puncak gunung.
Marsianus juga mengaku sudah memantau langsung serta melihat pos pemantau gunung Ile Lewotolok untuk mendapatkan informasi terkait bahaya dari gunung itu.
"Kita sudah antisipasi. BPBD sudah siap dan pada dasarnya kita sudah siap jika terjadi hal yang tidak diinginkan," tambah dia.
Kendala yang terjadi di lapangan saat ini adalah masih ada beberapa warga di sejumlah desa yang berpotensi terdampak longsoran enggan untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman.
Sehingga ujar dia pemerintah berusaha mencari cara terbaik agar warga bisa terhindar dari bencana alam jika terjadi longsoran akibat meluapnya aliran lava.
Sebelumnya, Pos Pemantau Gunung Api Ile Lewotolok di Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, melaporkan bahwa material di puncak kawah gunung Ile Lewotolok semakin bertambah dan mengkhawatirkan.
"Saat ini karena kawah di puncak gunung itu cukup luas sehingga materialnya masih tertampung. Namun jika sudah penuh dan sama tinggi dengan puncak bibir gunung maka akan meluap," katanya.
Ia menjelaskan kini tinggal beberapa meter lagi sekitar 3-5 meter lagi material letusan dan erupsi yang ada di puncak kawah gunung itu akan meluap jika ada celah di puncak gunung itu.
Stanis menyebutkan ada beberapa desa yang akan terkena luapan material itu jika intensitas erupsi dan letusan disertai material terus terjadi.
Sejumlah desa itu seperti desa Lewotolok, desa Bungamuda, Waowala dan desa Riangbao. Karena itu, masyarakat di sejumlah desa itu perlu waspada.
Pemerintah daerah juga diimbau untuk mensosialisasikan kekhawatiran tersebut, agar masyarakat juga tahu dan sadar jika dievakuasi jikalau terjadi hal yang tidak diinginkan.
Baca juga: Pos Pemantau: Puncak kawah gunung Ile Lewotolok penuh lava
Baca juga: 167 kali letusan di puncak Gunung Ili Lewotolok
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemkab Lembata imbau warganya waspadai longsor dari puncak gunung api
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Gunung Ili Lewotolok di Lembata meletus lontarkan api pijar 300 meter dari puncak
27 February 2026 3:06 WIB
Liga Spanyol - Barcelona kembali ke puncak klasemen seusai hantam Levante
23 February 2026 12:11 WIB
Liga Jerman - Bayern Muenchen kokoh di puncak klasemen usai kalahkan Frankfurt
22 February 2026 11:04 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
DJPb: Penyaluran Perlinsos di NTT mencapai Rp589,15 miliar per Februari 2026
26 March 2026 20:23 WIB