Badan Geologi kaji ulang PLTP Mataloko di Flores

id PLN

General Manejer PT PLN Wilayah NTT Ignatius Rendroyoko saat memberikan kata sambutan dalam acara pisah sambut di Kupang. (ANTARA Foto/Kornelis Kaha).

"PLTP Mataloko ini sebelumnya sempat beroperasi namun terhenti karena penurunan panas sehingga sedang dikaji ulang Badan Geologi ESDM untuk bisa diaktifkan kembali," Ignatius Rendroyoko.
Kupang (ANTARA News NTT) - Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral mengkaji ulang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Kecamatan Mataloko, Kabupaten Ngada, Pulau Flores, berkapasitas 1x2,5 mega watt (MW) untuk kembali diaktifkan.

"PLTP Mataloko ini sebelumnya sempat beroperasi namun terhenti karena penurunan panas sehingga sedang dikaji ulang Badan Geologi ESDM untuk bisa diaktifkan kembali," kata General Manger PT PLN Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ignatius Rendroyoko di Kupang, Senin (11/2).

Dijelaskannya, PLTP Mataloko sebelumnya sempat beroperasi setelah dibangun sekitar enam sumur sebagai sumber pembangkit energi panas bumi.

Namun saat ini PLTP tersebut tidak beroperasi akibat faktor alam yang berdampak pada penurunan panas bumi.

Rendroyoko mengatakan, untuk itu akan dilakukan upaya pengoptimalan dengan pembangunan PLTP 2x10 MW ditambah kapasitas 1x2,5 MW yang sudah eksisting.

"Rencananya ESDM akan membangun dua sumur baru sehingga ditargetkan PLTP Mataloko ini bisa beroperasi lagi di tahun 2023," katanya.

Ia menambahkan, pihak Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Ida Nuryatin Finahari bersama rombongan telah mengunjungi PLTP Mataloko tersebut pada pekan lalu.

Prinsipnya, lanjut dia, kunjungan tersebut untuk mencari solusi bersama agar PLTP Mataloko bisa diaktifkan kembali setelah dilakukan pengkajian ulang.

"Karena Pulau Flores ini merupakan Pulau Panas Bumi di NTT yang potensinya bisa dioptimalkan menjadi sumber kelistrikan bagi kebutuhan masyarakat," katanya.

Baca juga: 98 rumah sekitar PLTP Mataloko gratis listrik
Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar