Logo Header Antaranews Kupang

Rumah Anyam, ruang tumbuh bagi kebersamaan dan pengetahuan

Jumat, 30 Januari 2026 15:12 WIB
Image Print
Sejumlah mama sedang berpose di Rumah Anyam yang sudah dibangun sebagai tempat menganyam di Solor, Flores Timur. ANTARA/Ho-Du Anyam
Sekarang memang kami masih anyam di rumah masing-masing, tapi dengan rumah anyam kami bisa belajar motif baru sama-sama

Kupang (ANTARA) - Wajah-wajah ceria kini kerap terlihat di Desa Bubuatagamu, Pulau Solor, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.

Para mama penganyam yang dulu menekuni helai demi helai daun lontar di rumah tetangga, bahkan di bawah rindangnya pohon, kini memiliki ruang bersama yang layak untuk berkarya: sebuah rumah anyam yang kokoh dan nyaman.

Rumah anyam itu menjadi simbol perubahan. Dibangun sejak Februari 2025, bangunan berdinding tembok besar ini perlahan mengubah cara para mama bekerja, belajar, dan berinteraksi.

Tak lagi berpindah-pindah tempat, para penganyam kini memiliki satu ruang bersama untuk saling bertemu dan menguatkan.

Mama Marlin, salah satu penganyam di Desa Bubuatagamu, tak menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, kehadiran rumah anyam bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ruang tumbuh bagi kebersamaan dan pengetahuan.

“Dulu kami menganyam di mana-mana. Kadang di rumah tetangga, kadang di bawah pohon. Sekarang memang kami masih anyam di rumah masing-masing, tapi dengan rumah anyam kami bisa belajar motif baru sama-sama. Yang sudah bisa, ajari yang belum bisa. Kalau salah, kami ketawa. Jadi kami makin dekat,” tuturnya sambil tersenyum.

Rumah anyam Desa Bubuatagamu dibangun oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI melalui program BNI Berbagi: Menganyam Kebaikan untuk Indonesia, yang berkolaborasi dengan Yayasan Karya Dua Anyam (YKDA).

Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan komunitas penganyam sekaligus pelestarian budaya anyaman lontar yang telah diwariskan turun-temurun.

Sebelum rumah anyam berdiri, aktivitas menganyam dilakukan secara terpisah. Setiap mama bekerja sendiri-sendiri, dengan keterbatasan ruang dan fasilitas. Kini, suasana berbeda terasa. Rumah anyam menjadi tempat berkumpul, berbagi cerita, sekaligus ruang belajar bersama.

Tak hanya difungsikan sebagai tempat menganyam, rumah anyam juga menjadi ruang publik baru bagi warga desa. Di sana, masyarakat bisa bersosialisasi, menggelar pertemuan, hingga merancang kegiatan bersama yang mempererat hubungan kekeluargaan.

Berlokasi di Dusun 1 RT 2 RW 1, Pulau Solor, rumah anyam ini dilengkapi dengan ruang penyimpanan bahan baku, ruang kerja, ruang pertemuan, serta ruang sortir anyaman. Dengan kapasitas hingga 20 orang, bangunan ini dirancang untuk mendukung aktivitas penganyaman secara lebih terorganisir.

Sejumlah mama sedang menganyam dibawah pohon sebelum dibangun Rumah Anyam. ANTARA/Ho-Du-Anyam

Secara khusus, rumah anyam juga dimanfaatkan oleh tim bahan baku sebagai tempat penyimpanan. Namun manfaatnya jauh melampaui itu. Sebanyak 437 mama penganyam dan 237 pemanjat lontar turut merasakan dampak positif dari keberadaan rumah anyam ini, baik secara ekonomi maupun sosial.

Lebih jauh lagi, rumah anyam telah menjelma menjadi ruang komunal tempat bertemunya ide, tawa, dan semangat kebersamaan warga Desa Bubuatagamu.

Di sanalah anyaman tak hanya dirajut menjadi produk bernilai, tetapi juga menjadi perekat hubungan antarsesama.

“Mama harap rumah anyam ini bikin kami semakin nyaman kerja. Dan mama harap banyak kegiatan baik di rumah anyam ini. Jadi kami bisa makin dekat dan produktif,” pungkas Mama Marlin, penuh harap

Inisiatif BNI dan YKDA membangun rumah anyam menjadi tonggak penting bagi perjalanan mama penganyam, khususnya di Desa Bubuatagamu.

Menganyam Warisan Budaya

Sebagai bagian penting dari warisan budaya Lamaholot, menganyam lontar tidak hanya melambangkan ketekunan dan identitas masyarakat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak perempuan di Pulau Solor dan Flores Timur.

“Kami punya anyaman ini katanya sudah sampai ke mana-mana, sampai ke luar negeri. Bangga, le. Yang paling penting, dari menganyam saya bisa dapat uang sendiri," ujarnya penuh bangga.

Uang yang diterimanya digunakan untuk membantu suami, bayar sekolah anak, beli kebutuhan rumah. Dan hal itu membuatnya bersyukur.

Belasan mama penganyam di Desa Bubuatagamu yang tadinya mengandalkan rumah-rumah tetangga sebagai tempat menganyam bersama kini punya ruang publik yang nyaman untuk mereka digunakan lima hari dalam seminggu (hari kerja).

Rumah anyam ini juga membuat mereka semakin bersemangat dalam belajar dan menghasilkan produk anyaman baru.
Pembangunan fasilitas pipanisasi air bersih

Dukungan Air bersih

Tak berhenti pada penyediaan ruang berkarya, BNI juga menaruh perhatian pada kebutuhan paling mendasar warga Desa Bubuatagamu berupa air bersih. Di desa yang kerap mengalami kesulitan air, terutama saat musim kemarau, belum semua rumah tangga memiliki akses air yang layak.

Kesadaran itulah yang mendorong BNI membangun fasilitas pipanisasi air bersih di 30 titik di Desa Bubuatagamu. Sebanyak 20 titik dibangun di sekitar rumah warga, sementara 10 titik lainnya ditempatkan di fasilitas umum seperti sekolah, gereja, dan rumah anyam ruang yang digunakan bersama oleh seluruh warga desa.

Bagi masyarakat, kehadiran pipanisasi ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan penopang kehidupan sehari-hari. Kini, 263 keluarga dapat mengakses air bersih dengan lebih mudah.

Di tengah kondisi geografis yang rawan kekeringan, fasilitas ini menjadi harapan baru agar aktivitas rumah tangga, kesehatan, dan produktivitas warga tetap terjaga.

Perhatian BNI juga menyentuh generasi paling rentan: anak-anak. Melalui program Pemberian Makanan Tambahan (PMT), BNI bersama pemerintah desa, bidan, dan kader posyandu melaksanakan intervensi gizi bagi 98 anak di Desa Bubuatagamu dan Desa Lewograran selama 14 hari. Menu PMT disiapkan dengan memanfaatkan bahan pangan lokal, agar mudah diterapkan dan berkelanjutan.

Sejumlah mama sedang mengisi air bantuan pipanisasi di Pulau Flores. ANTARA/Ho-Du Anyam

Program ini tidak berhenti pada pembagian makanan. Dampaknya dipantau selama tiga bulan berturut-turut dengan mengukur perubahan status gizi anak berdasarkan berat badan sebelum dan sesudah PMT. Hasilnya menunjukkan perbaikan yang signifikan. Persentase anak dengan status gizi normal meningkat dari 69,39 persen menjadi 79,59 persen.

Sementara itu, jumlah anak yang tidak tumbuh menurun dari 19,39 persen menjadi 11,22 persen, dan anak dengan pertumbuhan sangat rendah juga mengalami penurunan.

Bagi warga, perubahan angka itu tercermin dalam keseharian: anak-anak yang lebih aktif bermain, lebih ceria, dan lebih siap mengikuti kegiatan belajar.

Sementara para mama penganyam, selain mendapatkan ruang fisik untuk berkarya, juga dibekali dengan penguatan kapasitas usaha.

BNI menggelar pelatihan manajemen usaha dan keuangan yang diikuti oleh 75 peserta, sekaligus pelatihan menganyam yang melibatkan 430 mama penganyam dari berbagai kelompok.

Pelatihan ini membuka perspektif baru. Menganyam tak lagi semata aktivitas turun-temurun, tetapi juga dipandang sebagai usaha yang perlu dikelola secara rapi dari pencatatan keuangan hingga perencanaan produksi.

Upaya tersebut diperkuat dengan pembentukan Koperasi Serba Usaha Ina Senaren. Koperasi ini menaungi berbagai bidang, mulai dari produksi anyaman, jasa pelatihan menganyam, hingga layanan keuangan sederhana bagi anggota.

Struktur koperasi terdiri atas 20 orang pendiri dan dua orang pengawas, dan saat ini tengah dalam proses pengurusan legalitas badan hukum.



Oleh
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026