
Wali Kota Kupang dorong edukasi berbasis film cegah cyberbullying

Kupang, NTT (ANTARA) - Wali Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dr. Christian Widodo mendorong edukasi berbasis media film sebagai langkah pencegahan cyberbullying atau perundungan digital pada kalangan pelajar.
“Anak-anak yang menjadi korban perundungan, baik verbal maupun fisik, akan membawa luka dan trauma ke rumah. Para pelaku sering lupa bahwa perlakuan mereka bisa menyebabkan stres, depresi, bahkan membuat korban membenci diri sendiri dan orang tuanya. Karena itu, melalui kegiatan edukasi berbasis media film kita berharap kesadaran kolektif dapat tumbuh untuk mengontrol perilaku, ucapan, dan sikap terhadap sesama,” kata Christian di Kupang, Kamis.
Hal ini ia sampaikannya pada kegiatan edukatif nonton bersama film bertema cyberbullying yang diselenggarakan Forum Pemuda Pelopor Nasional.
Kegiatan ini diikuti oleh para guru SD dan SMP se-Kota Kupang sebagai bagian dari upaya kolektif mencegah kekerasan digital di kalangan pelajar.
Christian menilai media film merupakan sarana yang efektif untuk membentuk karakter dan menyampaikan pesan moral, terutama dalam menghadapi tantangan era digital.
Ia juga menyoroti dampak serius cyberbullying yang kerap terjadi di kalangan pelajar, seperti saling mengejek, merendahkan fisik, hingga melecehkan sesama di ruang digital.
“Dunia digital saat ini sangat masif, bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, kita memperoleh keterbukaan informasi. Namun di sisi lain, kita juga rentan terhadap penyebaran hoaks dan konten negatif, termasuk perundungan di media sosial yang mengatasnamakan media-media besar,” katanya.
Sementara itu, Wakil Kepala Polresta Kupang Kota (Wakapolresta) AKBP Anak Agung Gde Anom Wirata menegaskan pentingnya pendidikan karakter dalam mencegah perundungan, kenakalan remaja, hingga penyalahgunaan narkoba.
Pihaknya menyatakan bahwa Polresta Kupang Kota berkomitmen tidak mentolerir segala bentuk perundungan, baik di sekolah maupun di media sosial.
“Bullying, apalagi dalam bentuk siber, bisa meninggalkan trauma mendalam bagi korbannya. Karena itu, sekolah harus menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan,” tegasnya.
Ia menambahkan, sinergi antara guru dan orang tua sangat penting dalam mendeteksi serta mencegah perilaku menyimpang sejak dini.
Pihak kepolisian, melalui Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim serta jajaran Bhabinkamtibmas, akan terus aktif memberikan edukasi dan pembinaan karakter kepada para pelajar.
Wakapolresta meyakini bahwa kolaborasi antara aparat penegak hukum, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam menciptakan generasi muda yang unggul, berkarakter, dan terbebas dari kekerasan maupun perundungan.
Pewarta : Yoseph Boli Bataona
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
