Dalam pengasingan Bung Karno persatukan perbedaan

id MENKOMINFO

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara sedang memberikan keterangan di taman Bung Karno di Kota Ende, Pulau Flores,NTT, Senin (25/3). (ANTARA FOTO/Bernadus Tokan)

"Sebagaimana yang kita ketahui, kalau misalkan hanya berpatokan pada agama Islam, para misionaris bertanya kepada Bung Karno, kalau begitu tempat kami lain di mana," kata Menkominfo Rudiantara.
Ende (ANTARA) - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan, dalam pengasingan di Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bung Karno menggali bagaimana mempersatuan perbedaan-perbedaan di Indonesia.

"Bung Karno diasingkan, justeru dalam pengasingan itu, Bung Karno mencoba menggali bagaimana secara filosofi mencoba mempersatukan perbedaan-perbedaan di Indonesia," kata Rudiantara di Ende, Senin (25/3), saat berkunjung ke taman dan rumah pengasingan Bung Karno dari 1930-1934.

"Sebagaimana yang kita ketahui, kalau misalkan hanya berpatokan pada agama Islam, para misionaris bertanya kepada Bung Karno, kalau begitu tempat kami lain di mana," katanya.

"Selain itu, tempat agama Hindu, ibunya Bung Karno di mana,  sehingga munculah di sini pemikiran bagaimana menyatukan semuanya di bawah pohon Sukun ini," katanya sambil menunjuk pohon Sukun.

Secara filofosis, kata Rudiantara, Bung Karno membuat konsep-konsep bagaimana menyatukan Indonesia, baik dalam sisi budaya, agama dan lainnya.

Menkominfo mengatakan dalam konteks sekarang, menyatukan Indonesia bisa dianalogikan dengan menerapkan bagaimana mempersatukan Indonesia secara fisik.

"Dan bagi warganet, yang penting itu adalah bisa menggunakan internet yang tidak lemot di mana-mana di seluruh Indonesia," katanya.

Itulah yang sedang dibangun oleh pemerintah saat ini yakni membangun Palapa Ring, menyiapkan satelit khusus untuk internet, dimana nanti untuk seluruh sekolah harus terhubung dengan internet melalui satelit dengan kecepatan tinggi.

"Inilah bagaimana kita mempersatuan Indonesia dengan internet," katanya menambahkan.

Dia mengatakan, tahun ini, Indonesia berusia 74 tahun dan merayakan kemerdekaan dari penjajahan, tetapi internet merdekanya baru sampai di tingkat kabupaten.

Tetapi pada pertengahan tahun 2019 ini, dengan terintegrasinya jaringan tulang punggung yang menyentuh 514 kota di Indonesia, maka kota-kota di seluruh Indonesia sudah bisa merdeka dari sinyal.

"Itulah yang kita siapkan untuk mempersatuan Indonesia. Yang penting bagi warganet, anak muda, berinternet di seluruh Indonesia bukan masalah karena merupakan hak dari warga bangsa ini," katanya.  
 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar