
Kemendukbangga: NTT jadi contoh kolaborasi mengatasi kemiskinan-stunting

Kupang (ANTARA) - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menjadikan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai contoh kolaborasi nasional untuk mengatasi masalah kemiskinan dan stunting.
“NTT kini menjadi contoh praktik baik kolaborasi nasional dalam percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem dan penurunan stunting,” kata Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga Sukaryo Teguh Sutanto di Kupang, Senin.
Ia mengatakan hal itu saat memberikan sambutan kegiatan fasilitasi teknis Program Bangga Kencana bersama mitra kementerian/lembaga (K/L), pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan lintas sektor dalam penghapusan kemiskinan ekstrem dan percepatan penurunan stunting.
Dia mengatakan koordinasi, kolaborasi, dan sinergi lintas sektor sebagai kunci mengatasi masalah kemiskinan dan stunting.
Ia menyebut pemerintah, TNI-Polri, perguruan tinggi, swasta, tokoh agama, dan media harus berjalan bersama dalam mengatasi masalah tersebut.
“Tanpa itu, target nasional non persen kemiskinan ekstrem dan 14 persen stunting pada 2029 tidak akan tercapai,” ujar dia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan kemiskinan ekstrem di NTT dari 3,93 persen pada 2023 menjadi 2,82 persen pada 2024, serta penurunan angka stunting dari 37,9 menjadi 37 persen.
Dia menjelaskan bahwa kemiskinan ekstrem dan stunting saling terkait. Keluarga miskin lebih berisiko melahirkan anak stunting, sedangkan adanya anak stunting akan lebih sulit bagi keluarga untuk keluar dari persoalan kemiskinan.
“Jadi, penghapusan kemiskinan ekstrem adalah jalan menuju generasi bebas stunting,” ujarnya.
Ia mengatakan BKKBN berkomitmen memperkuat data keluarga berbasis intervensi dan memperluas kemitraan riset dengan perguruan tinggi agar kebijakan yang diambil berbasis bukti dan berdampak nyata di masyarakat.
Oleh karean itu, ujar dia, dalam kegiatan tersebut melibatkan juga perguruan tinggi untuk bersama-sama membahas hal tersebut.
Ia menegaskan sasaran utama intervensi sunting, yakni keluarga, terutama ibu hamil, balita, dan calon pengantin.
“Posyandu memiliki peran penting melalui tim pendamping keluarga yang bertugas mengedukasi masyarakat, menyiapkan data yang baik, serta memfasilitasi pelayanan kesehatan,” ucapnya.
Ia mengatakan kegiatan di NTT ini bagian dari koordinasi dan kolaborasi nasional untuk memastikan seluruh komitmen dan rencana aksi mengatasi persoalan kemiskinan dan stunting berjalan efektif.
“Dalam lima tahun ke depan, kita berharap kemiskinan ekstrem dapat dihapuskan. Pertemuan hari ini menjadi momentum untuk memastikan semua komitmen berjalan dan rencana aksi disepakati bersama,” demikian Sukaryo Teguh Sutanto.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemendukbangga: NTT jadi contoh kolaborasi atasi kemiskinan-stunting
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor:
Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
