Logo Header Antaranews Kupang

China meminta kedaulatan Iran dihormati, segera hentikan serangan

Sabtu, 28 Februari 2026 22:29 WIB
Image Print
oto menunjukkan suasana setelah terjadi serangan di dekat Universitas Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026). Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran dengan beberapa rudal menghantam daerah Jomhouri serta tempat lain di Teheran, sementara ledakan juga terdengar di Isfahan, Qom, Karaj, Kermanshah, dan Ilam. ANTARA FOTO/ Xinhua/tom.

Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengutuk serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dan meminta agar aksi militer segera dihentikan.

"Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah Iran harus dihormati. China menyerukan penghentian segera aksi militer," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China dalam pernyataan tertulis di laman Kementerian Luar Negeri yang diakses ANTARA di Beijing, Sabtu.

Pada Sabtu (28/2), Israel dan Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan itu merupakan serangan kedua Presiden AS Donald Trump setelah serangan pertama "Operasi Midnight Hammer" ke Iran pada Juni 2025.

China pun disebut sangat prihatin atas serangan militer terhadap Iran yang dilancarkan oleh AS dan Israel.

"Kami minta agar tidak ada eskalasi lebih lanjut dari situasi saat ini, kembali memulai dialog dan negosiasi, serta terus berupaya untuk menegakkan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah," demikian disebutkan dalam pernyataan tersebut.

Trump menyatakan bahwa pasukan AS meluncurkan operasi militer berskala besar terhadap Iran untuk melindungi rakyatnya dengan melenyapkan ancaman langsung dari rezim Iran berupa pengembangan senjata nuklir.

Trump juga berjanji akan menghancurkan rudal Iran, meluluhlantakkan industri misilnya, dan memusnahkan angkatan lautnya, seraya menegaskan kembali bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

“Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri misil mereka hingga rata ke tanah. Itu akan benar-benar, sekali lagi, dimusnahkan,” kata Trump dalam video yang diunggah di akun Truth Social miliknya.

Ia juga menegaskan bahwa Washington akan menindak kelompok-kelompok proksi yang disebutnya mengancam stabilitas kawasan. Ia juga menyinggung penggunaan IED atau bom pinggir jalan yang menurutnya telah melukai dan menewaskan ribuan orang, termasuk warga Amerika.

Trump juga kembali menekankan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Sebelumnya, pada Sabtu (28/2), dilaporkan bahwa Israel telah melancarkan serangan pendahuluan terhadap Iran.

Serangan itu disebut Iran sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan Pasal 2 ayat 4 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta berjanji akan merespons, serta melancarkan serangan balasan.

Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa serangan itu menargetkan infrastruktur pertahanan dan lokasi sipil di beberapa kota serta terjadi ketika Teheran dan Washington sedang terlibat dalam proses diplomatik.

Kementerian menegaskan bahwa Iran telah memprioritaskan diplomasi untuk mencegah perang, namun “kini saatnya telah tiba untuk membela tanah air” dan bahwa angkatan bersenjata akan merespons dengan “cara yang tegas dan kuat.”

Teheran menegaskan haknya untuk membela diri berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB dan menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB serta komunitas internasional untuk mengutuk serangan gabungan AS-Israel dan mengambil tindakan mendesak.

Serangan terjadi ketika Oman memediasi perundingan antara Washington dan Tehran terkait program nuklir Iran, dengan putaran terakhir digelar di Jenewa, Kamis (26/2).

Pada Jumat (27/2), Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al-Busaidi menyatakan perundingan nuklir AS-Iran menyepakati kebijakan tanpa penimbunan uranium yang diperkaya, dengan pengurangan stok ke tingkat terendah dan konversi menjadi bahan bakar permanen di bawah verifikasi penuh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: China minta kedaulatan Iran dihormati, segera hentikan serangan



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026