Logo Header Antaranews Kupang

Komisi Eropa: Dunia menghadapi krisis energi terparah dalam sejarah

Rabu, 6 Mei 2026 13:06 WIB
Image Print
Arsip foto - Bendera Jerman, NATO, dan Uni Eropa dikibarkan di depan Kantor Kanselir saat Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte bertemu Kanselir Jerman Friedrich Merz di Berlin, pada 9 Juli 2025. (ANTARA/Halil Sağırkaya/Anadolu/pri.)

Moskow (ANTARA) - Dunia menghadapi krisis energi paling serius dalam sejarah global akibat konflik di Timur Tengah, kata seorang pejabat Komisi Eropa pada Selasa (5/5).

"Dunia menghadapi apa yang bisa disebut sebagai krisis energi terparah yang pernah ada — salah satu yang menguji ketahanan ekonomi, masyarakat, dan kemitraan kita," kata Komisaris Eropa untuk Energi dan Perumahan Dan Jorgensen dalam konferensi pers di Brussels, Belgia,.

Mantan menteri pertanian Denmark itu mengatakan negara-negara Uni Eropa (UE) telah mengeluarkan dana 30 miliar euro (sekitar Rp611 triliun) untuk impor bahan bakar minyak sejak konflik di Timur Tengah dimulai, tanpa memperoleh tambahan pasokan.

Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai memblokade lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz.

Selat tersebut menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair (LNG) dunia.

AS menyatakan kapal non-Iran tetap dapat melintasi Selat Hormuz selama tidak membayar pungutan kepada Teheran.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Komisi Eropa: Dunia hadapi krisis energi terparah dalam sejarah



Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026