Logo Header Antaranews Kupang

Nafas ekonomi dari komoditas padat hitam dari perut bumi

Rabu, 6 Mei 2026 13:48 WIB
Image Print
Sejumlah truk pengangkut batu bara melintas di area pertambangan yang berada di kawasan Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur, Rabu (22/4/2026). ANTARA FOTO/Angga Palguna/sgd

Jakarta (ANTARA) - Dari kedalaman perut bumi, sesuatu yang hitam dan padat diangkat ke permukaan. Tak berkilau seperti emas, tidak pula seseksi minyak yang kerap menjadi sorotan. Namun justru komoditas itu sudah lama menopang denyut ekonomi Indonesia.

Itulah batu bara.

Sedimen padat organik berwarna hitam itu mungkin hanya tampak sebagai material tambang biasa. Namun bagi Indonesia, lebih dari itu.

Batu bara adalah nafas ekonomi yang mengalir dari perut bumi ke kehidupan sehari-hari, menyalakan listrik, menggerakkan industri, hingga menopang penerimaan negara.

Perannya bahkan semakin terasa di tengah dinamika global yang tak menentu.

Ketegangan geopolitik Amerika Serikat, Israel dan Iran, gangguan pasokan energi karena dinamika di Selat Hormuz, hingga lonjakan harga minyak dan gas, menjadikan batu bara sebagai sumber energi yang dipasok secara mandiri.

Di pasar komoditas ini, Indonesia berada di posisi strategis sebagai salah satu produsen besar dunia.

Produksi batu bara nasional mencatatkan kinerja positif. Pada 2024, produksinya mencapai 836 juta ton sebelum bertahan di angka tinggi yakni 790 juta ton pada 2025.

Sebagian besar produksinya, 65 persen diekspor dengan nilai mencapai 24,5 miliar dolar AS, yang menjadi bukti komoditas ini menjadi sumber devisa penting bagi negara.

Angka itu bukan sekadar statistik, namun mencerminkan bagaimana batu bara menjadi salah satu fondasi ekonomi nasional.

Di dalam negeri, komoditas ini memastikan roda ekonomi tetap berputar yang membuktikan manfaatnya tidak berhenti di pasar global saja.

Sekitar 254 juta ton digunakan untuk kebutuhan domestik pada 2025, terutama untuk pembangkit listrik dan industri strategis seperti semen hingga pupuk.

Tanpa pasokan yang cukup, bukan hanya lampu yang padam, tetapi juga aktivitas industri yang menopang perekonomian bisa ikut terganggu.

Selain itu, perjalanan batu bara kini tidak lagi berhenti sebagai bahan bakar. Dari perut bumi, komoditas ini mulai bergerak lebih jauh menjadi bahan baku industri masa depan yang ramah lingkungan lewat hilirisasi.

Batu bara dapat diolah menjadi artificial graphite, komponen penting dalam baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Selain itu, komoditas ini juga dapat dimanfaatkan menjadi kalium humat yang membantu meningkatkan produktivitas pertanian dan membantu mempertahankan swasembada pangan.

Transformasi ini menunjukkan bahwa batu bara tidak hanya menopang ekonomi hari ini, tetapi juga membuka jalan bagi ekonomi masa depan yang lebih beragam dan bernilai tambah.

Ketua Satgas Percepatan Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional, yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan proyek hilirisasi memiliki dasar perencanaan yang kuat.

Melalui hilirisasi, nilai batu bara tidak lagi berhenti di tambang, tetapi mengalir ke sektor industri, yang dari situ tercipta lapangan kerja, memacu investasi, serta memperkuat struktur ekonomi nasional.

Hilirisasi komoditas ini juga direncanakan menggunakan batu bara berkalori rendah yang cadangannya cukup untuk menyuplai selama masa proyek.

Ketua Umum Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) Abdul Bari menyebut batu bara tetap memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Ini karena secara kumulatif Indonesia memiliki sumber daya batu bara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.

Pemanfaatan batu bara diarahkan tidak hanya sebagai bahan bakar pembangkit listrik, tetapi juga melalui hilirisasi seperti gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas, serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Di balik aliran besar manfaat batu bara, ada peran penting MIND ID sebagai holding industri pertambangan bersama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang di bawah naungannya.

Perusahaan milik negara itu memastikan bahwa nafas ekonomi dari batu bara tetap mengalir, mulai dari produksi, distribusi, hingga pengembangan nilai tambah.

Direktur Utama PTBA Arsal Ismail menyebut pihaknya mencatat pertumbuhan produksi dan penjualan batu bara sepanjang 2025 di tengah tekanan harga batu bara global.

PTBA mencatat produksi sekitar 47,2 juta ton pada 2025 yang menunjukkan ketahanan sektor batu bara di tengah tekanan, sekaligus menjadi jaminan bahwa pasokan energi tetap tersedia bagi masyarakat dan industri.

Penjualan juga tumbuh 6 persen menjadi 45,4 juta ton, sejalan dengan volume angkutan batu bara yang naik 6 persen dari 38,2 juta ton pada 2024 menjadi 40,4 juta ton pada 2025.

Lebih dari sekadar produksi dan penjualan, perusahaan plat merah ini juga memperkuat infrastruktur logistik. Salah satunya melalui proyek jalur angkutan Tanjung Enim-Kramasan yang mampu meningkatkan kapasitas distribusi hingga 20 juta ton per tahun.

Proyek ini memastikan batu bara dapat mengalir lancar dari tambang ke pembangkit listrik dan sektor industri, mengingat distribusi yang efisien berarti industri tetap hidup, tenaga kerja tetap terserap, dan ekonomi terus bergerak.

Di sisi hilirisasi, PTBA juga aktif mengembangkan berbagai inovasi, mulai dari pengolahan batu bara menjadi DME sebagai substitusi LPG hingga Synthetic Natural Gas (SNG) sebagai alternatif energi.

Langkah ini tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Dunia memang bergerak menuju energi yang lebih bersih, namun bagi Indonesia, batu bara masih akan menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.

Sebagai komoditas yang bisa dimanfaatkan menjadi energi transisi sekaligus penopang ekonomi, batu bara merupakan jembatan antara kebutuhan hari ini dan harapan masa depan.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Nafas ekonomi dari komoditas padat hitam perut bumi



Oleh
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026