Wilayah perairan NTT dilanda gelombang setinggi 4-6 meter

id Gelombang

Wilayah perairan NTT dilanda gelombang setinggi 4-6 meter

Gelombang setinggi 4-6 meter berpeluang terjadi di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur dalam beberapa hari ke depan.(ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA)

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gelombang setinggi 4-6 meter berpotensi terjadi di sejumlah wilayah perairan laut Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam beberapa hari ke depan.
Kupang (ANTARA) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gelombang setinggi 4-6 meter berpotensi terjadi di sejumlah wilayah perairan laut Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi ini dipicu oleh pola sirkulasi angin di Samudera Hindia Barat Kepulauan Mentawai dan pusat tekanan rendah 1008 hPa di Samudera Pasifik Utara Papua, kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo di Kupang, Kamis (27/6).

Ia menjelaskan, pola angin di wilayah utara ekuator umumnya bertiup dari Tenggara-Barat Daya dengan kecepatan 4-25 knot, sedangkan di wilayah selatan ekuator umumnya dari Timur–Tenggara dengan kecepatan 4-25 knot.

Kecepatan angin tertinggi, kata dia, terpantau di perairan barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Banten hingga Jawa Barat, Selat Karimata, dan Laut Arafuru.

Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut, kata Ota Thalo dan menambahkan tinggi gelombang 1,25-2,5 meter berpeluang terjadi di Selat Flores, Selat Lamakera–Selat Boling, Selat Alor, Selat Ombai.

Tinggi gelombang 2,5-4,0 meter berpeluang terjadi di Selat Sape, Perairan Selatan Kupang–Pulau Rote, Laut Timor Selatan NTT dan Laut Sawu,  sedang tinggi gelombang 4.0 - 6.0 meter berpeluang terjadi di Selat Sumba, Perairan Selatan Pulau Sumba, Samudera Hindia Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Beberapa warung semipermanen di Pantai Setrojenar Kebumen rusak akibat diterjang gelombang tinggi. (ANTARA FOTO/dok BPBD Kebumen)
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar