Artikel - Geliat ekonomi Sang Naga

id Beijing

Salah satu industri keramik terbesar China di Jingdezhen, Provinsi Jiangxi. (ANTARA/Bernadus Tokan)

"Saya akhirnya sampai bertanya kepada sejumlah rekan, dengan rumus apa Presiden China Zhao Ziyang membangun ekonomi negara itu? Namun tak ada satu pun yang mampu menjawabnya," kata Don Putra Gautama.
Kupang (ANTARA) - Hingga era 1970-an, China yang kini sebagai salah satu adidaya ekonomi di Asia, masih mengalami masa-masa sulit sehingga sebagian besar warganya harus meninggalkan negeri itu karena tak mampu bertahan hidup.

Namun, dalam 40 tahun terakhir, ekonomi negeri Tirai Bambu itu terus tumbuh dan berkembang pesat sampai akhirnya dijuluki sebagai salah satu macan Asia.

"Saya akhirnya sampai bertanya kepada sejumlah rekan, dengan rumus apa Presiden China Zhao Ziyang membangun ekonomi negara itu? Namun tak ada satu pun yang mampu menjawabnya," kata Don Putra Gautama, salah seorang warga turunan Tionghoa yang berdomisili di Kupang, NTT.

Dua orang saudaranya yang sempat mencicipi pendidikan di Beijing, ibu kota Tiongkok, menceritakan bagaimana suka dukanya hidup mereka di negara itu pada saat itu, hingga sampai akhirnya harus lari ke Hongkong dan menetap di sana sampai sekarang.

Pertanyaan yang dilontarkan Don Putra Gautama, tampaknya cukup beralasan karena geliat ekonomi Sang Naga di era globalisasi telah memunculkan decak-kagum setiap warga dunia yang sempat mengunjunginya.
 
Delegasi wartawan NTT, Bali dan NTB sedang mendengar penjelasan di Inno Way, salah satu pusat pengembangan teknologi China di Kota Beijing. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Makanya tidak terlalu mengherankan jika semua orang mengatakan bahwa China adalah sebuah kekuatan adidaya baru di Asia, dan tidak tertutup kemungkinan bisa menyalip Amerika Serikat yang terkenal dengan Super Powernya itu.

Mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) Joni Hermana mengatakan, kemajuan bangsa China tidak lepas dari penguasaan sains dan teknologi.

Bangsa China sering mengundang investor dan insinyur asing untuk masuk ke negaranya, tetapi selalu disertai dengan persyaratan yang memungkinkan penduduk lokal bisa menguasai teknologi baru.

"Misalnya mereka mewajibkan seluruh gambar teknik dari proyek yang dibangun di negara mereka diserahkan dan disimpan di sebuah badan arsip pemerintah, yang sekaligus sebagai referensi bagi para insinyur mereka," kata Joni seperti dikutip Tampang.com.

Joni mengatakan, bangsa China juga memiliki kemampuan reverse engineering atau terbiasa untuk beli, bongkar, amati, tiru dan modifikasi terhadap semua produk teknologi terbaru. Ini akhirnya membuat China menjadi raksasa teknologi di bidang apa saja.

Harus diakui bahwa tidak satupun teknologi terkini yang terlewatkan, mulai dari luar angkasa, manufaktur cerdas, inovasi peralatan canggih, transportasi darat, laut maupun udara, telekomunikasi, dan atau sebut teknologi apa saja. Semua seakan begitu mudah mereka kuasai.

Konsisten
Joni juga membandingkan kondisi China dan Amerika Serikat di tengah era disruptiv sekarang ini, dimana China sangat konsisten untuk mengembangkan status dirinya dari sisi ekonomi maupun teknologi. Berbeda dengan Amerika Serikat yang justru banyak melakukan kebijakan kontroversial.

Karena itu, tidaklah aneh jikalau ke depan, tidak ada satupun negara yang akan mampu menghambat pertumbuhan China yang sangat cepat dan massive ini di mana-mana, termasuk AS sendiri.

Profesor bidang teknik lingkungan ini berharap agar penguasaan teknologi inovasi ini bisa dilakukan secepat mungkin di Indonesia. 

Pemerintah Indonesia juga diharapkan bisa memberikan fasilitasi yang memadai agar sektor industri dalam negeri, khususnya sektor energi, air dan pangan bisa tumbuh secara sehat.
Perdana Menteri China Li Keqiang dan Kanselir Jerman Angela Merkel meninjau Prajurit Kehormatan Tentara Pembebasan Rakyat di Balai Agung Rakyat di Beijing, China, Jumat (6/9/2019). (REUTERS/POOL)
"Kita tidak perlu malu meniru negeri China. Membiarkan industri, tumbuh berkembang tanpa fasilitasi pemerintah akan sangat tidak mungkin. Itu dicontohkan pemerintah China," kata Joni Hermana.

Anggota DPR RI terpilih 2019-2024, Yohanes Fransiskus Lema mengatakan, sangat kagum terhadap lompatan kemajuan spektakuler yang ditorehkan China, setelah mengunjungi negara itu pada 28 Agustus hingga 4 September 2019.

Kunjungan ke negara itu, mewakili PDI Perjuangan untuk memenuhi undangan Pemerintah China sebagai delegasi multi-partai Indonesia untuk melihat langsung berbagai kemajuan pembangunan China.

Selain secara khusus mengenal dan mendalami kebijakan multilateralnya tentang Belt and Road Initiative (BRI) yang diinisiasi Presiden Xi Jinping sejak tahun 2013.

Anggota DPR RI terpilih dari daerah pemilihan NTT ini mengaku sangat tertarik dengan kemampuan Pemerintah China memanfaatkan penelitian ilmiah untuk membangun negaranya.

Pemerintah sangat mendukung lembaga penelitian dan pengembangan untuk mendapatkan hasil penelitian berkualitas, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai rujukan bagi pembangunan.

Ia menceritakan kunjungannya ke Fuzhou Polytechnic, Fujian, sebuah universitas vokasional di bidang transportasi. Di sana delegasi multi-partai asal Indonesia diperkenalkan tentang pendidikan kejuruan dan teknis, mulai dari Jurusan Penerbangan dan Energi Terbarukan, Jurusan Rekayasa Lalulintas Perkotaan hingga Kecerdasan Buatan dan Robotika.

Tidak hanya responsif terhadap perubahan zaman, desain kurikulum di China telah merancang pendidikan yang berorientasi pada kemampuan teknis-profesional-terspesialisasi.

"Penelitian ilmiah disokong untuk menghasilkan temuan berbasis teknologi digital atau transportasi modern. Kami saksikan langsung sistem dan manajemen transportasi yang terintegrasi-terkoneksi," katanya.

Lompatan kemajuan
Dirinya mengaku sangat kagum terhadap lompatan kemajuan spektakuler yang ditorehkan China. Pada tahun 2010, dirinya pernah ke China untuk menghadiri World Expo di Shanghai. Kini ia menyaksikan pembangunan China berkembang pesat.

China 10 tahun silam berbeda jauh dengan China sekarang. Untuk ukuran waktu, 10 tahun adalah waktu yang cukup lama, namun tergolong singkat jika dilihat dari segi kemajuan spektakuler yang dicapai China.

Negara Tirai Bambu itu kini telah bangkit menjadi negara modern yang mengalami transformasi besar dalam pembangunan. China maju pesat dalam berbagai aspek. 

Capaiannya dalam ekonomi hebat, dalam pertahanan China juga kuat hingga disegani rivalnya dalam kancah ekonomi-politik global.

Wakil Direktur Kantor Urusan Luar Negeri Provinsi Jiangxi, Huang Jiawen mengatakan, ekonomi negara itu berkembang cukup baik kerena pemerintah nasional mendorong semua distrik untuk berkembang.

"Jadi ekonomi kami memang berkembang cukup baik, karena pemerintah nasional menghendaki semua daerah harus berkembang di semua sektor," katanya menambahkan.
 
Ketua Asosiasi Diplomasi Publik RRT, Hu Zhengyue (tiga dari kanan) dan pimpinan majalah China Pictorial, Zhao Yue (dua dari kanan) dalam pertemuan dengan delegasi wartawan Sunda Kecil di Beijing. (ANTARA/Bernadus Tokan)

Konsul Jenderal RRT di Bali, Gou Haodong mengatakan, pada tahun 1978, Tiongkok mulai menerapkan kebijakan reformasi dan keterbukaan untuk menarik investor, dan investor dari luar terus masuk untuk menanamkan modalnya, dan Tiongkok terus berkembang.

Artinya, setelah mereformasi kebijakan investasi, tidak saja industrialisasi meningkat, tetapi pendapatan masyarakat juga semakin banyak, dan negara juga mendapat keuntungan. "Tanpa investasi yang dilakukan investor dari luar, Tiongkok tidak mungkin maju seperti saat ini, ujar Gou Haodong.

Memang harus diakui bahwa, negara berjulukan 'Sang Naga' itu  menggeliat bangkit dari tidurnya, dan siap menjadi kekuatan negara adidaya baru dunia, yang mungkin tak tertandingi.

Tetapi apa sesungguhnya rumus yang menjadi rahasia dibalik kesuksesan negara berpenduduk terbesar di dunia itu dalam membangun ekonomi, dan menciptakan peradaban yang begitu agung dan maju pesat, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, tetap menjadi misteri. 
 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar