Logo Header Antaranews Kupang

NTT Targetkan 146.995 Ekor Sapi Wajib Bunting

Senin, 17 April 2017 14:00 WIB
Image Print
Nusa Tenggara Timur menargetkan sebanyak 146.995 ekor sapi wajib bunting melalui program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (UPSUS-SIWAB) .
Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur menargetkan sebanyak 146.995 ekor sapi wajib bunting melalui program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (UPSUS-SIWAB) .

Kupang (Antara NTT) - Dinas Peternakan Nusa Tenggara Timur menargetkan sebanyak 146.995 ekor sapi wajib bunting melalui program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (UPSUS-SIWAB) .

"Target kita tahun ini harus menangani 146.095 ekor sapi betina produksi untuk wajib bunting," kata Kepala Dinas Peternakan NTT Dani Suhadi saat dihubungi Antara di Kupang, Senin.

Ia mengatakan, upaya SIWAB dilakukan merupakan gerakan secara nasional dan pemerintah setempat diberikan target untuk penanganan kesehatan sapi produksi untuk mencapai tingkat kebuntingan yang tinggi. "Minimal 85.000 ekor sapi wajib bunting," katanya.

Untuk itu mencapai target itu, lanjutnya, maka dilakukan inseminasi buatan yang ditargetkan sebanyak 26.965 ekor sapi kemudian melalui pengendalian dan pemeriksaan 120.030 ekor di padang-padang pengembalaan petani peternak.

Menurut Dani, upaya SIWAB yang dilakukan di seluruh daerah penghasil sapi di Indonesia itu untuk memperkuat pasokan kebutuhan secara nasional sehingga di masa mendatang bisa mencapai target swasembada sapi.

Untuk ruang lingkup daerah, katanya, Nusa Tenggara Timur sudah swasembada sapi namun secara nasional diperkuat bersama-sama daerah lain melalui SIWAB.

"Inseminasi buatan ini kita lakukan setiap hari hingga mencapai target dan laporan dari masing-masing kabupaten/kota tiap hari masuk ke sistem kami," katanya.

Dia mengatakan, NTT tidak mendatangkan bibit dari luar Indonesia namun pola inseminasi dilakukan melalui bibit semen beku yang berkualitas yang dipasok dari Balai Besar Inseminasi Buatan di daerah Jawa.

"Untuk jangka menengah ini kita datangkan bibit semen beku dari Balai Besar Inseminasi Buatan di Singosari, kemudian ada yang dari Bogor dan Jawa Barat tapi tetap harus sapi Bali karena cocok dengan wilayah NTT," katanya.

Ia mengatakan, pemerintah setempat terus berupaya menggenjot produktivitas sapi di provnsi kepulauan itu, selain untuk menjaga pemenuhan kebutuhan lokal, juga menambah pasokan yang siap diantarpulaukan.

Selama ini, katanya, NTT mengantapulaukan sapi ke Jakarta, Kalimantan, dan sedikit di Sulawesi dan target 2017 sebanyak 65.300 ekor sapi Bali dan Sumba Ongol.

Pengiriman sapi ke luar daerah disesuaikan dengan kondisi populasi yang disesuaikan pula dengan kebutuhan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

"Kita juga tidak bebas saja mengirim tapi tetap memperhitungkan populuasi, struktur populasi terkait berapa jumlah betina, jantan, jantan dewasa, baru lahir, sehingga menghasilkan yang namanya kuota," katanya.


Impor daging
Dani menambahkan kebijakan pemerintah membuka impor daging sapi untuk kebutuhan Ramdhan dan Idul Fitri 2017 dari negara lain, sama sekali tidak mempengaruhi pasar pengusaha sapi yang selama ini disalurkan dari para peternak di provinsi kepulauan itu.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita, Minggu (9/4), mengatakan, pemerintah telah menyetujui Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, dan Spanyol sebagai negara pemasok daging sapi.

"NTT memiliki pasar yang berbeda dan Jakarta masih menginginkan daging sapi dari NTT yang berkualitas premium. Daging sapi Bali dari NTT merupakan sapi alami jadi struktur rasanya berbeda sehingga harganya juga berbeda, dan kita tetap memasok karena permintaannya tinggi," katanya.

Selama ini, katanya, Nusa Tenggara Timur memasok kebutuhan daging sapi untuk daerah Jakarta, Kalimantan, dan sedikit di Sulawesi.

Pihaknya menargetkan dalam 2017, akan mengantarpulaukan sapi Bali dan Sumba Ongol ke daerah tujuan tersebut sebanyak 65.300 ekor.

Menurutnya, kebijakan impor sapi secara nasional disesuaikan dengan pasokan lokal dari para peternak di seluruh Indonesia.

"Sapi impor itu untuk menutup kekurangan atas kebutuhan, tapi kalau ke depan kita mampu memenuhi secara nasional maka pasti keran impornya dengan sendiri akan ditutup," katanya.

Selain itu, impor daging sapi juga untuk menjaga pasokan kebutuhan menyambut Hari Raya Ramadhan dan Idul Fitri mendatang.

Ia mengatakan, impor daging sapi tidak untuk menurunkan harga daging sapi namun lebih pada menstabilkan harga secara nasional teutama pada musim tertentu yang membuat permintaan daging sapi melonjak.

"Artinya dengan impor, pemerintah mengharapkan harga tetap pada level yang diinginkan misalnya berkisar dari Rp80.000 - Rp90.000 per kilogram maka dipertahankan agar tidak melonjak lebih dari itu," katanya.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026