Logo Header Antaranews Kupang

Kualitas Lingkungan Kondusif Untuk Budidaya

Jumat, 21 April 2017 16:37 WIB
Image Print
Potensi budidaya ikan air tawar di Nusa Tenggara Timur masih kondusif
"Kendala kita dalam pengembangan perikanan budidaya yang dihadapi saat ini lebih pada keterbatasan fasilitas, namun kualitas lingkungan masih kondusif," kata Ganef Wurgiyanto.

Kupang (Antara NTT) - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur Ganef Wurgiyanto mengatakan kualitas lingkungan di wilayah provinsi kepulauan ini sangat kondusif dan cocok untuk pengembangan perikanan budidaya darat.

"Kendala kita dalam pengembangan perikanan budidaya yang dihadapi saat ini lebih pada keterbatasan fasilitas, namun kualitas lingkungan masih kondusif," katanya saat dihubungi Antara di Kupang, Jumat.

Dikatakannya hal itu menanggapi fenomena penurunan kualitas lingkungan khususnya kawasan tambak yang membuat pemerintah pusat tengah fokus merevitalisasi kawasan perikanan budidaya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan Perikanan Slamet Soebjakto, mengatakan, hal ini dipicu oleh kondisi infrastruktur tambak yang buruk dan penataan kawasan budidaya yang tidak mengedepankan prinsip-prinsip berkelanjutan.

Ganef mengatakan, kondisi di Nusa Tenggara Timur masih dalam keterbatasan infrastruktur pendukung seperti tambak dan kolam.

Ia mengatakan, pengembangan perikanan budidaya setempat belum pesat karena terkedala fasilitas pendukung seperti bak penampung air, bangunan tambak, dan kolam.

Dibandingkan dengan budidaya laut berupa rumput laut, lanjutnya, jumlah produksi perikanan budidaya melalui tambak dan kolam masih jauh di bawah.

Tercatat jumlah produksi perikanan budidaya Nusa Tenggara Timur pada 2016 mencapai pada 2016 sebanyak 1.359.658 ton.

Jumlah itu jauh didominasi produksi budidaya rumput laut mencapai 1.354.594 ton, sementara budidaya melalui tambak sebanyak 3.087 ton, kolam 1.861 ton.

"Kendalanya kita pada ketersediaan fasilitas, kalau kualitas lingkungan dan ketersediaan air untuk usaha budidaya saya pikir kita di NTT masih sangat kondusif," katanya.

Menurutnya, keterbatasan fasilitas itu menjadi salah satu faktor penyebab masih terbatasnya jumlah rumah tangga yang berorientasi mengembangkan usaha perikanan budidaya.

Jumlah rumah tangga perikanan budidaya melalui usaha tambak tercatat yang paling sedikit sebanyak 2.160 buah dibanding yang memiliki kolam 4.738 buah, dan terbanyak budidaya rumput laut, 30.138 buah.

Ganef berharap, usaha perikanan budidaya tersebut perlahan dapat berkembang baik melalui investasi swasta, bantuan permodalan dari perbankan, maupun pemerintah daerah kabupaten/kota melalui APBD hingga bantuan pusat.

"Ini yang kita butuhkan. Kalau perikanan budidaya darat kita didukung dengan anggaran untuk pembangunan fasilitas yang memadai maka, sektor ini akan cepat berkembang," katanya



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026