
Sentimen Postif Ekonomi Harus Jadi Daya Dorong

Sentimen positif terhadap ekonomi Indonesia yang membaik berdasarkan laporan Bank Dunia harus menjadi pemicu dan daya dorong bagi pemerintah agar terus meningkatkan kinerja dan daya saing.
Kupang (Antara NTT) - Ekonom Nusa Tenggara Timur Dr James Adam MBA mengatakan sentimen positif terhadap ekonomi Indonesia yang membaik berdasarkan laporan Bank Dunia harus menjadi pemicu dan daya dorong bagi pemerintah agar terus meningkatkan kinerja dan daya saing.
"Proyeksi pertumbuhan terbaru Bank Dunia bahwa ekonomi Indonesia tetap tangguh di tahun 2017 dan termasuk pasar berkembang yang paling menarik," kata James Adam kepada Antara di Kupang, Kamis.
Anggota Internasional Fund for Agricultural Development (IFAD) atau Badan PBB yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat pesisir itu mengatakan hal itu menanggapi hasil analis riset pasar keuangan FXTM (perusahaan jasa finansial).
Analis Lukman Otunuga menyatakan, Bank Dunia menunjukkan optimisme terhadap kondisi perekonomian di Indonesia sehingga berbagai pihak terkait juga perlu menjaga momentum itu.
Menurut dia, sejumlah hal yang menimbulkan sentimen optimistis tersebut antara lain pertumbuhan kredit yang menyentuh sekitar 10 persen per tahun dan inflasi mulai stabil.
Menurut James Adam, dengan data ekonomi yang positif tersebut, maka prospek secara umum terhadap kondisi ekonomi di Tanah Air juga tampak cerah.
Karena itu, kata mantan Dekan Fakultas Eknomi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang itu, wajar saja berdampak terhadap perekonomian Indonesia yang positif dan stabil untuk jangka waktu tertentu.
Menurut dia, apabila data ekonomi Indonesia terus mengikuti tren positif, maka ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Indonesia sebelum akhir tahun ini akan semakin meningkat demi mendukung pertumbuhan.
Akselerasi
Dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi nasional, kata dia, Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menegaskan pertumbuhan ekonomi lima persen belum cukup untuk menyejahterakan rakyat Indonesia, melainkan ekonomi perlu diakselerasi hingga tumbuh melebihi tujuh persen.
Hal ini, kata James Adam, masuk akal karena untuk kesejahteraan rakyat Indonesia lima persen tidak cukup, perlu tumbuh di atas tujuh persen sehingga perlu ada upaya bersama reformasi struktural, baik fiskal, moneter dan sektor keuangan.
Bukan cuma itu, menurut dia, upaya mencapai pertumbuhan ekonomi di atas tujuh persen juga harus dibarengi dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Hal itu perlu agar perekonomian dapat tumbuh tinggi, sekaligus berkualitas dan juga berkelanjutan.
"Memang ada juga perbaikan proyeksi pertumbuhan dunia 2017 oleh Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) dari sebelumnya yang diperkirakan 3,1 persen menjadi 3,5 persen.
Sehingga, lanjut dia, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meyakini apabila perekonomian global terus membaik, maka pada 2018 mendatang pertumbuhan ekonomi domestik dapat mencapai 5,6 persen
Ini momentum positif pemulihan perekonomian dunia yang ditopang oleh kinerja ekonomi yang membaik di sejumlah negara maju dan berkembang termasuk Indonesia sekalipun perekonomian dunia ke depan masih diliputi kerentanan yang tinggi, ketidakpastian politik, dan kondisi keuangan global.
Pewarta : Hironimus Bifel
Editor:
Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
