Siklon Marcus picu gelombang tinggi di NTT

id BMKG

Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo (ANTARA Foto/Bernadus Tokan).

"Posisi siklon tropis Marcus memang sudah jauh dari NTT, tetapi arusnya masih kuat sehingga berpengaruh terhadap tinggi gelombang di wilayah perairan NTT," kata Ota Welly Jenni Thalo.
Kupang (AntaraNews NTT) - Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang Ota Welly Jenni Thalo mengatakan gelombang tinggi yang terjadi di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur saat ini akibat dipicu oleh siklon tropis Marcus.

"Posisi siklon tropis Marcus memang sudah jauh dari NTT, tetapi arusnya masih kuat sehingga berpengaruh terhadap tinggi gelombang di wilayah perairan NTT," kata Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Jumat (23/3).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan faktor penyebab terjadinya tinggi gelombang di beberapa wilayah perairan Nusa Tenggara Timur selama sepekan terakhir. 

Baca juga: Gelombang tujuh meter berpotensi di perairan NTT
Baca juga: Hati-hati berlayar, tinggi gelombang mencapai 5 meter

Berdasarkan laporan BMKG, saat ini gelombang setinggi 3,5 meter terjadi di Samudera Hindia, selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). Gelombang 3.0 meter terjadi di Selat Sumba, dan perairan selatan Pulau Sumba serta gelombang setinggi 2,5 meter terjadi di Selat Sape, Laut Sawu, dan Laut Timor di selatan NTT.

Sementara potensi gelombang tinggi 2.0 meter terjadi di wilayah perairan laut selatan Kupang dan Pulau Rote. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga 24 Maret 2018. Saat ini terdapat siklon tropis Marcus di Samudera Hindia, serta pusat tekanan rendah (Low) di laut Arafura.

Selain adanya konvergensi di pesisir barat daya Lampung hingga Jawa Barat dan Kepulaun Aru serta daerah belokan angin di wilayah Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara yang membawa dampak buruk di wilayah perairan.
Baca juga: NTT Dihantam Gelombang dan Angin Kecang
Gelombang laut yang ganas
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar