Relawan Belanda Ajar Anak Sumba Menyanyi

id clara

Clara Rullmann Dobrl relawan asal Belanda tengah mengawasi sejumlah anak Sumba yang bernyanyi. (Maria Adriana)

"Saya ingin anak-anak mandiri bisa merawat diri sendiri dan menyadari kekayaan alam di sekitarnya, juga belajar berkonsentrasi," kata Clara Rullman.
Sumba (AntaraNews NTT) - Clara Rullmann Dobrl, seorang perempuan Belanda yang menjadi relawan pada Yayasan Pengembangan Kemanusiaan (YPK) Donders di Sumba Barat Daya, NTT, mengajar anak-anak menyanyi dan belajar dengan lagu-lagu ciptaannya.

Kegiatan dilakukan di dua desa di wilayah Kodi Utara, Kodi, dan pada Kamis (7/6) dan Jumat (8/6) diikuti oleh puluhan anak yang terlihat sangat antusias menyanyi lagu-lagu dalam bahasa Indonesia dengan tema yang mendidik, seperti ajakan mencuci tangan, menggunting kuku, mengenali suara hewan, melihat gejala alam dan mengenal nama-nama pohon.

"Saya ingin anak-anak mandiri bisa merawat diri sendiri dan menyadari kekayaan alam di sekitarnya, juga belajar berkonsentrasi," kata Clara Rullman yang sudah empat tahun bolak-balik Belanda-Indonesia, khususnya di Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Cuci tangan, cuci tangan, cuci tangan dengan sabun, tangan bersih-tangan bersih, tangan bersih, terima kasih, sikat gigi, sikat gigi, sikat gigi dengan odol, gigi bersih, gigi bersih, gigi bersih terima kasih, potong kuku, potong kuku, potong kuku dengan gunting, kuku bersih, kuku bersih, kuku bersih terima kasih," ajaknya sambil menggerakkan anggota tubuh untuk memperagakan gerakan mencuci tangan, menyikat gigi dan menggunting kuku.

Sepuluh lagu telah diciptakan oleh Clara, seorang pemusik dan guru piano di negaranya, yang seluruhnya diajarkan dengan aktivitas interaktif untuk melatih keberanian anak. Untuk itu Clara giat belajar bahasa Indonesia dengan berbagai cara, termasuk menggunakan komunikasi skype dengan rekannya.

Pada lagu tentang bunga mawar dan kupu kupu dengan lirik "Mawar merah, harum manis, kupu-kupu mendekat.. muahhh," Clara berniat melatih konsentrasi dan imaji anak-anak, yaitu mengenal tangan kiri yang dibayangkan sebagai bunga mawar merah dengan aroma harum-manis, kemudian kupu-kupu dilambangkan oleh tangan kanan yang diangkat tinggi dengan jari-jari yang bergerak perlahan mendekati bunga mawar merah. Pada saat itu anak-anak diharapkan menatap gerak kupu-kupu sampai hinggap di atas bunga mawar dan ditutup dengan gerakan mengirim kecupan, "muaaahhh" lalu memutar tubuh.

Latihan lain yang diharapkan adalah mengajak anak-anak untuk berani tampil dalam lagu yang syairnya mengajak anak untuk bersama-sama tertawa dan bahagia, kemudian menunjuk seorang dari peserta untuk tampil menbawakan nyanyian atau menari dan atau membacakan puisi.

Sebuah lagu berbahasa Inggris dengan kata-kata hanya "one, two, three, Four" dinyanyikan dengan gerak tangan, dan tubuh.

Lagu-lagunya sederhana, tetapi mengajak anak mengenal lingkungannya, misalnya mengajak mereka menutup mata dan berkonsentrasi mendengar tiruan suara hewan, lalu berlari menuju arah suara. Anak-anak peserta bergantian membuat tiruan suara burung, anjing, kucing, kambing, kerbau, babi dan hewan-hewan lain yang mereka kenal.

Selain itu juga mengajak anak-anak mengenal jenis-jenis pepohonan yang banyak di sekitarnya, ada pohon yang lurus, ada yang bengkok dan ketika hujan lebat turun, pohon pohon tumbang.

"Ada banyak pohon ya, nangka, rambutan, jeruk, kelapa, pisang, kedondong yang semua tidak bisa tumbuh di Belanda, jadi mana lebih kaya, Belanda atau Indonesia?" Clara bertanya, lalu mengajak anak-anak menyanyi dengan iringan musik rekaman yang dipersiapkannya.

Kepala Desa Moro Manduyo, Martinus Mahi Gollu, yang beranda rumahnya ketempatan untuk kegiatan tersebut pada Kamis mengatakan sangat senang karena anak-anak setempat bisa belajar dan bergembira.

Program menyanyi dan bermain akan dilanjutkan di Desa Kalena Ngoro, Kodi, pada Jumat (8/6) sore.
Pewarta :
Editor: Kornelis Aloysius Ileama Kaha
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar