Rupiah diperkirakan berbalik menguat, kata pengamat
Selasa, 11 Juli 2023 11:40 WIB
Warga menukarkan mata uang dolar AS di sebuah gerai money changer di Jakarta. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj/aa.
Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan pelemahan rupiah tertahan Selasa ini dan bisa berbalik menguat terhadap dolar AS karena ekspektasi pasar terhadap penurunan inflasi AS.
"Semalam, data ekspektasi inflasi konsumen AS terbaru menunjukkan penurunan inflasi ke 3,8 persen dibandingkan sebelumnya 4,1 persen. Ini hasil pengukuran terendah sejak April 2021," ujar dia di Jakarta, Selasa, (11/7/2023).
Pada Rabu (12/7/2023) malam, data inflasi konsumen AS untuk Juni 2023 disebut akan dirilis. Berdasarkan konsensus pasar, data ini akan menunjukkan angka 3,1 persen, jauh lebih rendah dari data inflasi sebelumnya yang sebesar 4,0 persen.
"Ekspektasi penurunan inflasi ini diantisipasi pasar dengan penurunan nilai dolar AS terhadap nilai tukar lainnya, dan peluang rupiah bisa menguat sementara terhadap dolar AS hari ini," ungkap Ariston.
Menurut dia, penurunan inflasi ini meningkatkan harapan pasar bahwa era suku bunga tinggi akan segera berakhir.
"Potensi penguatan (rupiah) ke arah Rp15.100, dengan potensi resisten di Rp15.230," ucapnya.
Dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena investor menantikan laporan inflasi utama Amerika Serikat dan komentar pejabat Federal Reserve memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS mendekati akhir dari siklus pengetatannya.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingganya, turun 0,30 persen menjadi 101,9780 pada akhir perdagangan.
Pasar sangat menantikan angka inflasi utama AS akhir pekan ini, dengan indeks harga konsumen (IHK) inti tetap tinggi hingga saat ini.
Para analis pasar mencatat bahwa potensi kenaikan suku bunga acuan Fed pada pertemuan kebijakan Juli Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah dimasukkan ke dalam harga.
Beberapa pejabat bank sentral AS menyatakan pada Senin (10/7/2023) bahwa Fed hampir mengakhiri siklus kenaikan suku bunga.
"Kami masih memiliki sedikit pekerjaan yang harus dilakukan," kata Wakil Ketua Fed untuk Pengawasan Michael Barr pada Senin (10/7/2023). "Saya hanya akan mengatakan untuk diriku sendiri, aku pikir kita sudah dekat."
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi menguat 0,12 persen atau 17 poin menjadi Rp15.187 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp15.204 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah melemah karena data ekonomi China lebih rendah
Baca juga: Nilai Rupiah pada posisi Rp15.000 per dolar AS tak ancam ekonomi, menurut analis
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah diperkirakan berbalik menguat terhadap dolar AS
"Semalam, data ekspektasi inflasi konsumen AS terbaru menunjukkan penurunan inflasi ke 3,8 persen dibandingkan sebelumnya 4,1 persen. Ini hasil pengukuran terendah sejak April 2021," ujar dia di Jakarta, Selasa, (11/7/2023).
Pada Rabu (12/7/2023) malam, data inflasi konsumen AS untuk Juni 2023 disebut akan dirilis. Berdasarkan konsensus pasar, data ini akan menunjukkan angka 3,1 persen, jauh lebih rendah dari data inflasi sebelumnya yang sebesar 4,0 persen.
"Ekspektasi penurunan inflasi ini diantisipasi pasar dengan penurunan nilai dolar AS terhadap nilai tukar lainnya, dan peluang rupiah bisa menguat sementara terhadap dolar AS hari ini," ungkap Ariston.
Menurut dia, penurunan inflasi ini meningkatkan harapan pasar bahwa era suku bunga tinggi akan segera berakhir.
"Potensi penguatan (rupiah) ke arah Rp15.100, dengan potensi resisten di Rp15.230," ucapnya.
Dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena investor menantikan laporan inflasi utama Amerika Serikat dan komentar pejabat Federal Reserve memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS mendekati akhir dari siklus pengetatannya.
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingganya, turun 0,30 persen menjadi 101,9780 pada akhir perdagangan.
Pasar sangat menantikan angka inflasi utama AS akhir pekan ini, dengan indeks harga konsumen (IHK) inti tetap tinggi hingga saat ini.
Para analis pasar mencatat bahwa potensi kenaikan suku bunga acuan Fed pada pertemuan kebijakan Juli Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) telah dimasukkan ke dalam harga.
Beberapa pejabat bank sentral AS menyatakan pada Senin (10/7/2023) bahwa Fed hampir mengakhiri siklus kenaikan suku bunga.
"Kami masih memiliki sedikit pekerjaan yang harus dilakukan," kata Wakil Ketua Fed untuk Pengawasan Michael Barr pada Senin (10/7/2023). "Saya hanya akan mengatakan untuk diriku sendiri, aku pikir kita sudah dekat."
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi menguat 0,12 persen atau 17 poin menjadi Rp15.187 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp15.204 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah melemah karena data ekonomi China lebih rendah
Baca juga: Nilai Rupiah pada posisi Rp15.000 per dolar AS tak ancam ekonomi, menurut analis
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah diperkirakan berbalik menguat terhadap dolar AS
Pewarta : M Baqir Idrus Alatas
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita 8.000 dolar Singapura dari penggeledahan kantor KPP Madya Jakut
13 January 2026 12:42 WIB
BI: Cadangan devisa akhir November 2025 meningkat menjadi 150,1 miliar dolar AS
05 December 2025 12:13 WIB
UEA menyiapkan 5 juta dolar AS untuk kembangkan pariwisata di Pulau Komodo
08 November 2025 3:35 WIB
Rupiah melemah karena kebijakan Donald Trump berpotensi menguatkan dolar AS
17 January 2025 2:00 WIB, 2025