Kupang (ANTARA) - Manajer Fungsi Koordinasi Komunikasi dan Kebijakan, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Andre Asa, mengatakan pengembangan klaster industri ternak ayam di provinsi ini masih sulit karena persoalan pasokan anak ayam (DOC).

"Kenapa kami masih sulit memngembangkan klaster ini karena kecenderungan pemasok DOC ke NTT bersifat monopoli. Kami mencatat hanya mungkin saat ini masih hanya satu saja pemasok," katanya di Kupang, Selasa (23/4).

Ia mengatakan, monopoli pasokan DOC ini juga berdampak membuat para petani-peternak di provinsi itu belum bisa tumbuh secara mandiri. "Kondisi ini sering kali menyulitkan kami untuk mendapatkan harga daging ayam dan telur yang mudah terjangkau," katanya.

Menurutnya, data menunjukkan bahwa disparitas harga daging ayam dan telur di daerah ini sangat jauh dan beberapa kali harganya lebih tinggi secara nasional. Pada Januari 2018, misalnya, harga daging ayam di Jawa Timur senilai Rp32.900 per kilogram, sedangkan di Kupang mencapai Rp64.300 per kg.

Ia mengatakan, untuk itu pihaknya melalui tim pengendali inflasi daerah (TPID) provinsi setempat memberikan perhatian serius terkait pengembangan industri ternak ayam. Komoditas daging ayam dan telur merupakan salah satu dari 10 komoditas utama penyumbang inflasi di daerah setempat.

Ia mengatakan, salah satu kesepakatan yang sedang didorong bersama-sama yaitu membangun industri pakan ternak karena usaha ternak ayam ini komponen terbesar ada pada pakan, sekitar 60 persen," katanya.

Pihaknya optimistis industri pakan ternak ayam segera dibangun karena pemerintah provinsi sudah memasukkannya dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD).

Baca juga: TPID segera datangkan investor pakan ternak ayam
Baca juga: TPID NTT dorong pengembangan usaha ternak ayam


Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2024