Kupang (ANTARA) - Kepala Desa Hadakewa Klemens Kwaman mengemukakan aktivitas produksi ikan teri di desanya yang berada di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu berhenti akibat cuaca buruk yang melanda daerah itu.

“Untuk sementara produksi kami hentikan karena cuaca di laut sangat tidak bersahabat, sehingga pasokan bahan bakunya tidak ada,” katanya ketika dihubungi Antara dari Kupang, Selasa (7/1).

Dia mengatakan meskipun saat ini adalah musim panen ikan teri, namun aktivitas produksi terpaksa berhenti karena cuaca ekstrim.

Klemens menjelaskan, dalam sekali panen ikan teri basah yang dihasilkan mencapai enam ton, yang selanjutnya diolah menghasilkan teri kering sekitar 1 ton lebih.

Namun, lanjut dia, kondisi cuaca yang ekstrim berupa gelombang tinggi dan angin kencang di perairan sehingga para nelayan setempat tidak keluar untuk melaut. Produksi ikan teri di Desa Hadakewa, Kabupaten Lembata, NTT terhenti akibat cuaca buruk. (ANTARA/Dian Hadiyatna) Menurut dia, kondisi cuaca ekstrim saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena kali ini aktivitas produksi ikan teri berhenti total.

“Kalau sebelumnya saat-saat seperti ini produksi masih jalan walaupun tidak maksimal, tetapi berbeda dengan kali ini yang tidak sama sekali,” katanya.

Ia menambahkan desa itu bahkan sempat dilanda angin puting beliung beberapa hari lalu yang merusak rumah-rumah warga dan aset pemerintah desa.

Menurutnya, meskipun aktivitas produksi ikan teri berhenti sementara, namun masih ada persediaan dari produksi sebelumnya sehingga pemasaran masih bisa berjalan.

Dia menambahkan ikan teri di Hadakewa merupakan komoditas unggulan yang telah memberikan dampak ekonomi secara langsung bagi masyarakat setempat.

Produk ini, lanjut dia, sudah diolah dan dipasarkan kemana-mana dalam bentuk kemasan. “Bahkan sebelumnya ada perimintaan juga datang dari China, tetapi kami belum sepakati karena kami masih upayakan untuk memperkuat kapasitas produksi,” katanya. Para nelayan sedang menjemur ikan teri yang produksinya sangat terbatas akibat cuaca buruk. (ANTARA FOTO/HO-Humas PMI Cilegon)
 

Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2024