Lubang di puncak Ili Lewotolok ada sebelum erupsi 2020
Jumat, 16 April 2021 14:45 WIB
Lubang yang terdapat di puncak Ili Lewotolok. ANTARA/dokumen
Kupang (ANTARA) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan, lubang yang terdapat di puncak Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur sudah ada sebelum erupsi 2020.
"Itu lubang lama. Sudah ada sebelum Ili Lewotolok mengalami erupsi pada 2020," kata Kasubbid Mitigasi Gunung api Wilayah Timur ESDM Devy Kamil Syahbana di Kupang, Jumat.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait beredarnya gambar yang memperlihatkan adanya lubang di puncang Ili Lewotolok.
Menurut dia, lubang itu disebabkan karena ketidakstabilan lereng saja, dan bukan karena adanya material yang keluar dari gunung yang kemudian membentuk lubang.
"Kita bisa lihat kalau ada material keluar dari lubang itu, pasti ada jejak produksi erupsi, tapi ini tidak ada jejak," katanya menjelaskan.
Dia mengatakan, hal yang lumrah bahwa di sekitar gunung ada lubang atau rekaan karena lereng gunung dibangun oleh produksi erupsi yang dapat tertanggu kestabilannya karena banyak faktor.
Baca juga: Gunung Lewotolok erupsi setinggi 1.000 meter
Dari Lembata, Pos Pemantau Gunung Api Ili Lewotolok melaporkan pada Jumat, (16/4) pukul 12.16 WITA kembali terjadi erupsi gunung api Ili Lewotolok dan kawahnya mengeluarkan asap putih dengan tinggi kolom 1.500 meter.
Baca juga: 19 kali letusan terjadi dalam sehari di gunung ili Lewotolok
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, Stanislaus Ara Kian mengatakan bahwa ketinggian material pada erupsi siang ini lebih tinggi dari erupsi yang terjadi pada Kamis (15/4), yakni setinggi 1.000 meter.
"Betul, lebih tinggi erupsinya dari erupsi yang kemarin. Kali ini ketinggian mencapai 1.500 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.923 meter di atas permukaan laut," katanya.
Ia menjelaskan bahwa kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29 mm dan durasi kurang lebih 30 detik.
Stanis menambahkan berdasarkan pengamatan 24 jam yang dilakukan oleh petugas pos pengamatan Gunung Ili Lewotolok erupsi itu terjadi karena sistem kawah tertutup, sehingga terjadi letusan eksplosif.
Dengan masih adanya aktivitas di gunung tersebut, ia menyarankan warga sekitar lereng Ili Lewotolok serta pengunjung, pendaki, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak kawah gunung api tersebut.
"Itu lubang lama. Sudah ada sebelum Ili Lewotolok mengalami erupsi pada 2020," kata Kasubbid Mitigasi Gunung api Wilayah Timur ESDM Devy Kamil Syahbana di Kupang, Jumat.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait beredarnya gambar yang memperlihatkan adanya lubang di puncang Ili Lewotolok.
Menurut dia, lubang itu disebabkan karena ketidakstabilan lereng saja, dan bukan karena adanya material yang keluar dari gunung yang kemudian membentuk lubang.
"Kita bisa lihat kalau ada material keluar dari lubang itu, pasti ada jejak produksi erupsi, tapi ini tidak ada jejak," katanya menjelaskan.
Dia mengatakan, hal yang lumrah bahwa di sekitar gunung ada lubang atau rekaan karena lereng gunung dibangun oleh produksi erupsi yang dapat tertanggu kestabilannya karena banyak faktor.
Baca juga: Gunung Lewotolok erupsi setinggi 1.000 meter
Dari Lembata, Pos Pemantau Gunung Api Ili Lewotolok melaporkan pada Jumat, (16/4) pukul 12.16 WITA kembali terjadi erupsi gunung api Ili Lewotolok dan kawahnya mengeluarkan asap putih dengan tinggi kolom 1.500 meter.
Baca juga: 19 kali letusan terjadi dalam sehari di gunung ili Lewotolok
Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Ili Lewotolok, Stanislaus Ara Kian mengatakan bahwa ketinggian material pada erupsi siang ini lebih tinggi dari erupsi yang terjadi pada Kamis (15/4), yakni setinggi 1.000 meter.
"Betul, lebih tinggi erupsinya dari erupsi yang kemarin. Kali ini ketinggian mencapai 1.500 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.923 meter di atas permukaan laut," katanya.
Ia menjelaskan bahwa kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 29 mm dan durasi kurang lebih 30 detik.
Stanis menambahkan berdasarkan pengamatan 24 jam yang dilakukan oleh petugas pos pengamatan Gunung Ili Lewotolok erupsi itu terjadi karena sistem kawah tertutup, sehingga terjadi letusan eksplosif.
Dengan masih adanya aktivitas di gunung tersebut, ia menyarankan warga sekitar lereng Ili Lewotolok serta pengunjung, pendaki, dan wisatawan tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak kawah gunung api tersebut.
Pewarta : Bernadus Tokan
Editor : Kornelis Aloysius Ileama Kaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
BMKG imbau warga Sikka dan Flotim waspadai sebaran debu vulkanik dua gunung api di NTT
23 September 2025 15:42 WIB
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
Wamenkomdigi: ANTARA berperan penting dalam mempublikasikan program pemerintah
20 January 2026 20:31 WIB
Kemenag mengalokasikan anggaran KIP Kuliah Rp1,6 triliun bagi mahasiswa PTKN
19 January 2026 13:13 WIB