Korban tewas akibat kudeta Myanmar melampaui 1.000 orang
Rabu, 18 Agustus 2021 16:44 WIB
Arsip - Sekelompok perempuan membawa obor saat melakukan protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Juli 2021. (ANTARA/Reuters)
Yangon (ANTARA) - Korban tewas sebagai akibat kudeta Myanmar pada 1 Februari menembus angka 1.000 pada Rabu, menurut pejabat kelompok aktivis Asosiasi Pendampingan Narapidana Politik (AAPP) yang mendata kasus pembunuhan oleh pasukan keamanan.
Juru bicara junta yang berkuasa tidak menanggapi panggilan telepon untuk dimintai komentar. Otoritas militer sebelumnya mengatakan bahwa data AAPP, yang banyak dikutip oleh organisasi internasional, dibesar-besarkan.
Militer juga menyebutkan bahwa sejumlah anggota pasukan keamanan tewas dan pihak AAPP tidak menyertakan mereka dalam hitungannya.
"Menurut catatan AAPP, 1.001 orang tak bersalah tewas," ungkap sekretaris AAPP Tate Naing kepada Reuters. "Jumlah korban sebenarnya jauh lebih banyak."
Negara di Asia Tenggara itu terjerumus dalam kekacauan sejak kudeta, di mana aksi protes berlangsung setiap hari, pemberontakan marak di kawasan perbatasan dan aksi mogok meluas sehingga menyebabkan ekonomi Myanmar rusak parah.
Militer melengserkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, menuding adanya kecurangan dalam pemilu November 2020 yang dimenangkan oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpinnya.
Baca juga: Indonesia tegaskan ASEAN tidak memberi pengakuan terhadap junta Myanmar
Baca juga: Kelompok HAM seruhkan Jepang hentikan proyek "real estate" di Myanmar
Komisi pemilu pada saat itu dan pengawas internasional menyebutkan bahwa tudingan militer tidak benar.
Otoritas militer mengklaim bahwa perebutan kekuasaan mereka tidak bisa disebut sebagai kudeta lantaran hal itu sejalan dengan Undang-Undang. (Antara/Reuters)
Juru bicara junta yang berkuasa tidak menanggapi panggilan telepon untuk dimintai komentar. Otoritas militer sebelumnya mengatakan bahwa data AAPP, yang banyak dikutip oleh organisasi internasional, dibesar-besarkan.
Militer juga menyebutkan bahwa sejumlah anggota pasukan keamanan tewas dan pihak AAPP tidak menyertakan mereka dalam hitungannya.
"Menurut catatan AAPP, 1.001 orang tak bersalah tewas," ungkap sekretaris AAPP Tate Naing kepada Reuters. "Jumlah korban sebenarnya jauh lebih banyak."
Negara di Asia Tenggara itu terjerumus dalam kekacauan sejak kudeta, di mana aksi protes berlangsung setiap hari, pemberontakan marak di kawasan perbatasan dan aksi mogok meluas sehingga menyebabkan ekonomi Myanmar rusak parah.
Militer melengserkan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi, menuding adanya kecurangan dalam pemilu November 2020 yang dimenangkan oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipimpinnya.
Baca juga: Indonesia tegaskan ASEAN tidak memberi pengakuan terhadap junta Myanmar
Baca juga: Kelompok HAM seruhkan Jepang hentikan proyek "real estate" di Myanmar
Komisi pemilu pada saat itu dan pengawas internasional menyebutkan bahwa tudingan militer tidak benar.
Otoritas militer mengklaim bahwa perebutan kekuasaan mereka tidak bisa disebut sebagai kudeta lantaran hal itu sejalan dengan Undang-Undang. (Antara/Reuters)
Pewarta : Asri Mayang Sari
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Analis politik: Pengunduran diri Airlangga dari Ketum Golkar sebuah kudeta politik
12 August 2024 17:39 WIB, 2024
ECOWAS perintahkan pengaktifan pasukan siaga di Niger yang dilanda kudeta
11 August 2023 14:51 WIB, 2023
Artikel - Menanti kiprah Indonesia dalam membantu penyelesaian krisis Myanmar
30 January 2023 11:35 WIB, 2023
Presiden Guinea-Bissau bilang terpidana narkoba dalang dari kudeta gagal
11 February 2022 10:32 WIB, 2022
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Satgas saber pangan NTT menegur pedagang yamg menjual Minyakita di atas HET
20 February 2026 2:57 WIB
DJPb: Alokasi pagu anggaran infrastruktur NTT pada 2026 mencapai Rp1,61 triliun
19 February 2026 21:30 WIB
Kemenhub: Operator menghentikan penerbangan perintis di Papua tak akan disanksi
18 February 2026 11:20 WIB