Festival makanan tradisional NTT pecahkan rekor MURI
Sabtu, 21 April 2018 19:57 WIB
Wali Kota Kupang Jefri Riwu Kore menerima penghargaan dari MURI setelah berhasil memecahkan rekor dunia dalam Festival Makanan Tradisional di Kupang, Sabtu (21/4). (ANTARA Foto/Benny Jahang)
Kupang (AntaraNews NTT) - Festival makanan tradisional Nusa Tenggara Timur yang digelar pemerintah Kota Kupang, Sabtu (21/4) di area "car free day" Jalan El Tari Kupang, berhasil memecahkan rekor dunia kategori pangan lokal dan memecahkan rekor MURI dengan jumlah peserta terbanyak 18.650 orang.
Festival makanan tradisional khas Nusa Tenggara Timur yang diperlombakan itu meliputi jagung Bose, daging Se'i serta sambat luat, sambal khas Nusa Tenggara Timur.
"Berdasarkan penilaian Museum Rekor Indonesia (MURI) kegiatan festival makanan tradisional NTT telah mampu memecahkan rekor nasional bahkan rekor dunia dengan kategori makan pangan lokal dengan jumlah mencapai 18.650 peserta," kata Paulus Pangka dari Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (Lekpri) di Kupang, Sabtu.
Ia mengatakan festival pangan tradisional yang dilaksanakan di provinsi berbasis kepulauan ini merupakan yang pertama dilaksanakan di Indonesia dengan jumlah peserta yang mengkonsumsi pangan lokal sebanyak ini.
"Rekor yang dicapai pemerintah Kota Kupang ini merupakan suatu prestasi yang sangat luar biasa karena mampu memecahkan rekor nasional bahkan rekor dunia dengan jumlah peserta yang mengkonsumsi makanan pangan lokal sebanyak ini," tegas Paulus Pangka.
Ia mengatakan Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (Lekpri) telah membuka guiness book of record ternyata belum pernah ada festival makan makanan lokal di Indonesia maupun dunia yang menyedor peserta sebanyak di Kota Kupang.
Ia berharap kegiatan makan makanan pangan lokal terus didorong di daerah berbasis kepulauan guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan makanan tradisional khas NTT.
Wali Kota Kupang Jefrison Riwu Kore mengapresiasi kerja keras semua pihak di daerah itu sehingga festival makan tradisional BSL dalam rangka HUT Kota Kupang ke-22 tahun 2018 mampu memecahkan rekor dunia.
Pemerintah berharap masyarakat Kota Kupang terus membiasakan diri untuk mengknsumsi makanan tradisional karena semua jenis makan tradisional di NTT memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sehat.
"Mengkonsumsi makanan tradisional khas NTT harus dimulai dari dalam keluarga, karena makanan seperti ini sangat sehat," tegasnya.
Peserta festival makanan khas NTT itu terdiri dari 40 instansi pemerintah di lingkungan pemerintahan Kota Kupang, dan sisanya dari BUMN, lembaga perbankan, perhotelan, serta TNI dan Polri dan lembaga pendidikan di Kota Kupang.
Ramuan makanan tradisional seperti jagung Bose, Se`i, dan Luat dibagikan secara gratis kepada ribuan warga yang mengikuti kegiatan "Car Free Day" di jalan El Tari Kupang.
Festival makanan tradisional khas Nusa Tenggara Timur yang diperlombakan itu meliputi jagung Bose, daging Se'i serta sambat luat, sambal khas Nusa Tenggara Timur.
"Berdasarkan penilaian Museum Rekor Indonesia (MURI) kegiatan festival makanan tradisional NTT telah mampu memecahkan rekor nasional bahkan rekor dunia dengan kategori makan pangan lokal dengan jumlah mencapai 18.650 peserta," kata Paulus Pangka dari Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (Lekpri) di Kupang, Sabtu.
Ia mengatakan festival pangan tradisional yang dilaksanakan di provinsi berbasis kepulauan ini merupakan yang pertama dilaksanakan di Indonesia dengan jumlah peserta yang mengkonsumsi pangan lokal sebanyak ini.
"Rekor yang dicapai pemerintah Kota Kupang ini merupakan suatu prestasi yang sangat luar biasa karena mampu memecahkan rekor nasional bahkan rekor dunia dengan jumlah peserta yang mengkonsumsi makanan pangan lokal sebanyak ini," tegas Paulus Pangka.
Ia mengatakan Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia (Lekpri) telah membuka guiness book of record ternyata belum pernah ada festival makan makanan lokal di Indonesia maupun dunia yang menyedor peserta sebanyak di Kota Kupang.
Ia berharap kegiatan makan makanan pangan lokal terus didorong di daerah berbasis kepulauan guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam melestarikan makanan tradisional khas NTT.
Wali Kota Kupang Jefrison Riwu Kore mengapresiasi kerja keras semua pihak di daerah itu sehingga festival makan tradisional BSL dalam rangka HUT Kota Kupang ke-22 tahun 2018 mampu memecahkan rekor dunia.
Pemerintah berharap masyarakat Kota Kupang terus membiasakan diri untuk mengknsumsi makanan tradisional karena semua jenis makan tradisional di NTT memiliki kandungan gizi yang tinggi dan sehat.
"Mengkonsumsi makanan tradisional khas NTT harus dimulai dari dalam keluarga, karena makanan seperti ini sangat sehat," tegasnya.
Peserta festival makanan khas NTT itu terdiri dari 40 instansi pemerintah di lingkungan pemerintahan Kota Kupang, dan sisanya dari BUMN, lembaga perbankan, perhotelan, serta TNI dan Polri dan lembaga pendidikan di Kota Kupang.
Ramuan makanan tradisional seperti jagung Bose, Se`i, dan Luat dibagikan secara gratis kepada ribuan warga yang mengikuti kegiatan "Car Free Day" di jalan El Tari Kupang.
Pewarta : Benediktus Jahang
Editor : Laurensius Molan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wali Kota Jefri Koreh bagikan masker dan vitamin bagi WBP perempuan
02 February 2022 16:18 WIB, 2022
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Kemenag mempercepat implementasi wajib halal di Kabupaten Sumba Timur NTT
11 February 2026 13:59 WIB
Undana dan GMIT kolaborasi perkuat ketahanan pangan dan pendidikan di NTT
09 February 2026 19:20 WIB