Emas melonjak 29,6 dolar
Jumat, 5 November 2021 5:38 WIB
Dokumentasi - Batangan emas di Pabrik Pemisahan Emas dan Perak Austria di Wina, Austria, Jumat (18/3/2016). ANTARA/REUTERS/Leonhard Foeger/am.
Chicago (ANTARA) - Harga emas menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB), bangkit dari penurunan dua sesi sebelumnya dan bersiap untuk hari terbaiknya dalam tiga minggu setelah Federal Reserve AS dan bank sentral Inggris (BoE) mengindikasikan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk menaikkan suku bunga.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, melonjak 29,6 dolar AS atau 1,68 persen, menjadi ditutup pada 1.793,50 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya, Rabu (3/11) emas berjangka anjlok 25,5 dolar AS atau 1,43 persen menjadi 1.763,90 dolar AS.
Emas berjangka juga merosot 6,4 dolar AS atau 0,36 persen menjadi 1.789,40 dolar AS pada Selasa (2/11), setelah menguat 11,9 dolar AS atau 0,67 persen menjadi 1.795,80 dolar AS pada Senin (1/11), dan jatuh 18,7 dolar AS atau 1,04 persen menjadi 1.783,90 dolar AS pada Jumat (29/10).
The Fed mengindikasikan bahwa mereka mungkin tidak akan mengacaukan suku bunga, dan itu bullish untuk logam mulia, kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Bank sentral AS pada Rabu (3/11) mengisyaratkan bahwa mereka akan tetap bersabar tentang kenaikan suku bunga dan akan mulai memangkas program pembelian obligasi besar-besaran bulan ini.
Setelah itu, bank sentral Inggris mempertahankan suku bunga tak berubah pada Kamis (4/11), mematahkan ekspektasi untuk kenaikan yang akan menjadikannya bank sentral besar pertama di dunia yang menaikkan suku bunga setelah pandemi.
"Bank sentral Inggris membiarkan suku bunga tidak berubah semalam menunjukkan bank sentral saat ini tidak memiliki selera untuk suku bunga yang lebih tinggi," kata Haberkorn, menambahkan bahwa emas pada Jumat bisa bergerak menuju 1.800 dolar AS hanya berdasarkan sentimen dan teknis.
Kebijakan moneter AS yang sangat longgar telah membantu mendorong emas naik tajam sejak krisis keuangan akhir 2000-an, karena suku bunga rendah mengurangi peluang kerugian memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil dan kekhawatiran inflasi memicu permintaan untuk lindung nilai.
Analis independen Ross Norman mengatakan permintaan fisik yang kuat untuk emas juga mendukung pasar, karena festival Diwali India umumnya meningkatkan penjualan logam mulia.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 68 sen atau 2,93 persen, menjadi ditutup pada 23,911 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik 6,8 dolar AS atau 0,67 persen, menjadi ditutup pada 1.029,3 dolar AS per ounce.
Baca juga: Emas bangkit kembali di Asia
Baca juga: Emas anjlok 25,5 dolar
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, melonjak 29,6 dolar AS atau 1,68 persen, menjadi ditutup pada 1.793,50 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya, Rabu (3/11) emas berjangka anjlok 25,5 dolar AS atau 1,43 persen menjadi 1.763,90 dolar AS.
Emas berjangka juga merosot 6,4 dolar AS atau 0,36 persen menjadi 1.789,40 dolar AS pada Selasa (2/11), setelah menguat 11,9 dolar AS atau 0,67 persen menjadi 1.795,80 dolar AS pada Senin (1/11), dan jatuh 18,7 dolar AS atau 1,04 persen menjadi 1.783,90 dolar AS pada Jumat (29/10).
The Fed mengindikasikan bahwa mereka mungkin tidak akan mengacaukan suku bunga, dan itu bullish untuk logam mulia, kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Bank sentral AS pada Rabu (3/11) mengisyaratkan bahwa mereka akan tetap bersabar tentang kenaikan suku bunga dan akan mulai memangkas program pembelian obligasi besar-besaran bulan ini.
Setelah itu, bank sentral Inggris mempertahankan suku bunga tak berubah pada Kamis (4/11), mematahkan ekspektasi untuk kenaikan yang akan menjadikannya bank sentral besar pertama di dunia yang menaikkan suku bunga setelah pandemi.
"Bank sentral Inggris membiarkan suku bunga tidak berubah semalam menunjukkan bank sentral saat ini tidak memiliki selera untuk suku bunga yang lebih tinggi," kata Haberkorn, menambahkan bahwa emas pada Jumat bisa bergerak menuju 1.800 dolar AS hanya berdasarkan sentimen dan teknis.
Kebijakan moneter AS yang sangat longgar telah membantu mendorong emas naik tajam sejak krisis keuangan akhir 2000-an, karena suku bunga rendah mengurangi peluang kerugian memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil dan kekhawatiran inflasi memicu permintaan untuk lindung nilai.
Analis independen Ross Norman mengatakan permintaan fisik yang kuat untuk emas juga mendukung pasar, karena festival Diwali India umumnya meningkatkan penjualan logam mulia.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 68 sen atau 2,93 persen, menjadi ditutup pada 23,911 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari naik 6,8 dolar AS atau 0,67 persen, menjadi ditutup pada 1.029,3 dolar AS per ounce.
Baca juga: Emas bangkit kembali di Asia
Baca juga: Emas anjlok 25,5 dolar
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita emas hingga uang asing senilai Rp40,5 miliar pada kasus barang KW
06 February 2026 7:23 WIB
Menpora memuji Kontingen Indonesia bawa pulang 135 medali emas dari APG 2025
26 January 2026 15:22 WIB
APG 2025 - Rafli dan Novia tambah dua emas untuk Indonesia lewat para judo
23 January 2026 17:56 WIB
ASEAN Para Games 2025: Siti Alfiah sumbang emas pertama dari para renang dalam
21 January 2026 11:57 WIB
Pemerintah menargetkan empat Sekolah Garuda baru mulai beroperasi tahun ini
14 January 2026 11:22 WIB