Emas terangkat 6,1 dolar, risiko inflasi
Rabu, 9 Februari 2022 5:19 WIB
Ilustrasi - Koin dan kepingan emas. ANTARA/REUTERS/Neil Hall/aa,
Chicago (ANTARA) - Harga emas kembali menguat ke level tertinggi hampir dua minggu pada akhir perdagangan Selasa (Rabu, 9/2 pagi WIB), memperpanjang reli untuk hari ketiga didukung oleh meningkatnya kekhawatiran inflasi dan ketegangan Rusia-Ukraina, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga AS membatasi kenaikan.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, terangkat 6,10 dolar AS atau 0,3 persen, menjadi menetap di 1.827,90 dolar AS per ounce. Berdasarkan kontrak paling aktif, harga menandai penyelesaian tertinggi sejak 26 Januari, ungkap data FactSet.
Sehari sebelumnya, Senin (7/2/2022), emas berjangka terangkat 14 dolar AS atau 0,8 persen menjadi 1.821,80 dolar AS, setelah menguat 3,70 dolar AS atau 0,2 persen menjadi 1.807,80 dolar AS pada Jumat (4/2/2022), dan jatuh 6,20 dolar AS atau 0,3 persen menjadi 1.804,10 dolar AS pada Kamis (3/2/2022).
"Ada lebih banyak pendekatan menunggu dan melihat dengan beberapa data yang lebih besar keluar akhir pekan ini. Emas telah menunjukkan membentuk support besar-besaran di sekitar 1.800 dolar dan ini akan menjadi minggu yang penting bagi emas," kata Edward Moya, senior analis pasar di broker OANDA.
Harga-harga konsumen AS untuk Januari diperkirakan naik 7,3 persen secara tahunan, menurut jajak pendapat Reuters, setelah data tenaga kerja yang kuat pekan lalu memicu kekhawatiran inflasi.
Harga emas telah terjebak dalam perdagangan yang terbatas sejak awal tahun, terjebak di antara meningkatnya kekhawatiran inflasi dan meningkatnya ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve.
"Jika masalah data aktual (inflasi) seperti yang diharapkan atau lebih tinggi, dolar akan menguat seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS meninggalkan emas dengan tekanan penurunan yang substansial," tulis analis DailyFX Warren Venketas dalam sebuah catatan.
Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Suku bunga yang lebih tinggi juga mendorong dolar, menekan logam mulia yang dihargakan dalam greenback.
Ketegangan Rusia-Ukraina akan tetap meningkat meskipun ada beberapa optimisme dari Presiden Prancis Macron, kata Moya.
Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,3 persen, membuat emas mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai puncaknya lebih dari dua tahun.
Baca juga: Harga Emas menguat tipis
Baca juga: Emas kembali jatuh 6,2 dolar
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman April di divisi Comex New York Exchange, terangkat 6,10 dolar AS atau 0,3 persen, menjadi menetap di 1.827,90 dolar AS per ounce. Berdasarkan kontrak paling aktif, harga menandai penyelesaian tertinggi sejak 26 Januari, ungkap data FactSet.
Sehari sebelumnya, Senin (7/2/2022), emas berjangka terangkat 14 dolar AS atau 0,8 persen menjadi 1.821,80 dolar AS, setelah menguat 3,70 dolar AS atau 0,2 persen menjadi 1.807,80 dolar AS pada Jumat (4/2/2022), dan jatuh 6,20 dolar AS atau 0,3 persen menjadi 1.804,10 dolar AS pada Kamis (3/2/2022).
"Ada lebih banyak pendekatan menunggu dan melihat dengan beberapa data yang lebih besar keluar akhir pekan ini. Emas telah menunjukkan membentuk support besar-besaran di sekitar 1.800 dolar dan ini akan menjadi minggu yang penting bagi emas," kata Edward Moya, senior analis pasar di broker OANDA.
Harga-harga konsumen AS untuk Januari diperkirakan naik 7,3 persen secara tahunan, menurut jajak pendapat Reuters, setelah data tenaga kerja yang kuat pekan lalu memicu kekhawatiran inflasi.
Harga emas telah terjebak dalam perdagangan yang terbatas sejak awal tahun, terjebak di antara meningkatnya kekhawatiran inflasi dan meningkatnya ekspektasi untuk kenaikan suku bunga Federal Reserve.
"Jika masalah data aktual (inflasi) seperti yang diharapkan atau lebih tinggi, dolar akan menguat seiring dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS meninggalkan emas dengan tekanan penurunan yang substansial," tulis analis DailyFX Warren Venketas dalam sebuah catatan.
Emas sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga AS, yang meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil. Suku bunga yang lebih tinggi juga mendorong dolar, menekan logam mulia yang dihargakan dalam greenback.
Ketegangan Rusia-Ukraina akan tetap meningkat meskipun ada beberapa optimisme dari Presiden Prancis Macron, kata Moya.
Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya naik 0,3 persen, membuat emas mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sementara imbal hasil acuan obligasi pemerintah AS 10-tahun mencapai puncaknya lebih dari dua tahun.
Baca juga: Harga Emas menguat tipis
Baca juga: Emas kembali jatuh 6,2 dolar
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita emas hingga uang asing senilai Rp40,5 miliar pada kasus barang KW
06 February 2026 7:23 WIB
Menpora memuji Kontingen Indonesia bawa pulang 135 medali emas dari APG 2025
26 January 2026 15:22 WIB
APG 2025 - Rafli dan Novia tambah dua emas untuk Indonesia lewat para judo
23 January 2026 17:56 WIB
ASEAN Para Games 2025: Siti Alfiah sumbang emas pertama dari para renang dalam
21 January 2026 11:57 WIB
Pemerintah menargetkan empat Sekolah Garuda baru mulai beroperasi tahun ini
14 January 2026 11:22 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
BRI membantah disebut tolak pencairan dana PIP bocah yang meninggal di Ngada
12 February 2026 15:16 WIB
Mendes Yandri menerima audiensi 15 CEO perusahaan asal Inggris bahas listrik desa
12 February 2026 13:20 WIB