PP Muslimat NU : Stunting di NTT jadi perhatian serius NU
Rabu, 16 Maret 2022 19:54 WIB
Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU dr. Erna Yulia Soefihara saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kupang. ANTARA/Kornelis Kaha
Kupang (ANTARA) - Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) mengatakan penanganan stunting atau kekerdilan di Nusa Tenggara Timur menjadi perhatian serius semua pihak termasuk NU sendiri.
"Kita memang di NU sendiri tidak hanya konsen di bidang agama saja, tetapi juga di bidang pendidikan dan salah satunya kesehatan sehingga kami merasa bahwa stunting ini perlu ditangani bersama," kata Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU dr. Erna Yulia Soefihara di Kupang, Rabu, (16/3).
Hal ini disampaikannya disela-sela diskusi edukasi gizi dan pencarian fakta penggunaan susu kental manis sebagai minuman Balita di Masyarakat.
PP Muslimat NU sendiri ujar dia ingin turun mengentaskan masalah stunting di NTT ini karena memang masalah stunting secara nasional menjadi perhatian pemerintah bahkan sudah ada instruksi presiden bahkan kemudian pergub-nya.
"Tema yang diangkat berkaitan dengan susu kental manis ini karena memang berdasarkan data yang diperoleh dari YAICI itu, salah satu penyebab stunting beberapa daerah di Indonesia ini karena si anak mengkonsumsi susu kental manis yang sebenarnya tidak cocok buat anak-anak apa lagi balita," ujar dia.
Erna menjelaskan diskusi bersama yang melibatkan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) serta ahli gizi dari Kota Kupang nantinya akan mendapatkan solusi untuk penanganan stunting di NTT.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 berdasarkan laporan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 15 Kabupaten di NTT berkategori zona merah masalah stunting.
Berdasarkan Lima Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam prevalensi sepuluh daerah dengan angka kekerdilan atau stunting tertinggi dari 246 Kabupaten/Kota yang menjadi prioritas percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Baca juga: 500 paket ikan dibagikan untuk penanganan stunting di Ende
Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) lima kabupaten tersebut antara lain Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur.
Baca juga: Gubernur NTT imbau kepala daerah wajib dukung RAN PASTI
Bahkan Kabupaten Timor Tengah Utara menempati urutan kedua yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di Indonesia karena berada di atas 46 persen.
"Kita memang di NU sendiri tidak hanya konsen di bidang agama saja, tetapi juga di bidang pendidikan dan salah satunya kesehatan sehingga kami merasa bahwa stunting ini perlu ditangani bersama," kata Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU dr. Erna Yulia Soefihara di Kupang, Rabu, (16/3).
Hal ini disampaikannya disela-sela diskusi edukasi gizi dan pencarian fakta penggunaan susu kental manis sebagai minuman Balita di Masyarakat.
PP Muslimat NU sendiri ujar dia ingin turun mengentaskan masalah stunting di NTT ini karena memang masalah stunting secara nasional menjadi perhatian pemerintah bahkan sudah ada instruksi presiden bahkan kemudian pergub-nya.
"Tema yang diangkat berkaitan dengan susu kental manis ini karena memang berdasarkan data yang diperoleh dari YAICI itu, salah satu penyebab stunting beberapa daerah di Indonesia ini karena si anak mengkonsumsi susu kental manis yang sebenarnya tidak cocok buat anak-anak apa lagi balita," ujar dia.
Erna menjelaskan diskusi bersama yang melibatkan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) serta ahli gizi dari Kota Kupang nantinya akan mendapatkan solusi untuk penanganan stunting di NTT.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 berdasarkan laporan dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 15 Kabupaten di NTT berkategori zona merah masalah stunting.
Berdasarkan Lima Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam prevalensi sepuluh daerah dengan angka kekerdilan atau stunting tertinggi dari 246 Kabupaten/Kota yang menjadi prioritas percepatan penurunan stunting di Indonesia.
Baca juga: 500 paket ikan dibagikan untuk penanganan stunting di Ende
Berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) lima kabupaten tersebut antara lain Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur.
Baca juga: Gubernur NTT imbau kepala daerah wajib dukung RAN PASTI
Bahkan Kabupaten Timor Tengah Utara menempati urutan kedua yang memiliki prevalensi stunting tertinggi di Indonesia karena berada di atas 46 persen.
Pewarta : Kornelis Kaha
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pemerintah Indonesia tegas tidak ada kompromi bagi platform tak mematuhi PP Tunas
28 March 2026 10:58 WIB
Pengamat: Penyusunan PP untuk menuntaskan polemik Perpol Nomor 10 Tahun 2025
23 December 2025 9:13 WIB
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemprov NTT menyediakan layanan feri gratis ke Larantuka untuk prosesi Semana Santa
29 March 2026 17:46 WIB
Posko: Selama arus mudik sebanyak 24.617 pemudik melintas melalui Pelabuhan Tenau NTT
23 March 2026 22:15 WIB
BMKG: Waspadai gelombang setinggi 2,5 meter di perairan NTT pada 20-23 Maret 2026
20 March 2026 17:47 WIB
Pemantauan hilal 1 Syawal 1447 Hijriah di NTT terkendala cuaca mendung berawan
19 March 2026 20:31 WIB