Staf Khusus Menkumham sebut Rutan So'e jadi contoh rutan bersih-asri
Jumat, 22 April 2022 13:53 WIB
Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Bidang Transformasi Digital, Fajar BS Lase (kanan), saat mengunjungi Rutan Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, Kamis (21/4/2022). ANTARA/HO-Humas Kanwil Kementerian Hukum dan HAM NTT
Kupang (ANTARA) - Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Staf Khusus Menteri Hukum dan HAM Bidang Transformasi Digital, Fajar BS Lase, mengatakan Rumah Tahanan Negara So'e, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, menjadi contoh perwujudan Rutan yang bersih dan asri.
"Saya mengapresiasi jajaran Rutan So'e yang mampu menciptakan contoh Rutan yang bersih dan asri sehingga memberikan kenyamanan bagi ASN maupun warga binaan maupun pengunjung," katanya, dalam keterangan yang diterima di Kupang, Jumat (22/4).
Saat berkunjung ke sana dia didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTT, Marciana Dominika Jone, Kamis (21/4), mengaku senang dengan melihat penataan Rumah Tahanan So'e yang bersih dan asri hingga pemanfaatan lahan kosong untuk pengembangan tanaman produktif.
Ia mengatakan yang ditampilkan Rumah Tahanan So'e merupakan langkah penting dalam upaya mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi atau Wilayah Birokrasi Bersih Melayani di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM.
"Saat kita berbicara terkait WBK/WBBM namun apa yang berada di depan mata namun tidak dipelihara dan dirawat dengan baik ini adalah sebuah keniscayaan. Namun begitu kita masuk kita menganggap bahwa Rutan So'e adalah rumah kita, dan kita pelihara dengan baik itu merupakan sebuah keinginan yang kuat yang tergambar dari tekad kita untuk mau berubah dan memberikan pelayanan yang terbaik," katanya.
Dalam kunjungannya, dia juga menyampaikan kepada jajaran Rumah Tahanan So'e agar di dalam perawatan dan pemeliharaan gedung tidak memungut biaya dari warga binaan pemasyarakatan.
Hal ini untuk mencegah praktik tawar-menawar dalam bentuk kompensasi seperti untuk keluar dari penjara atau hal sejenisnya antara pengelola rumah tahanan dan para warga binaan.
"Saya mengingatkan juga untuk meraih WBK/WBBM itu penting, namun yang terpenting adalah perubahan budaya kerja kita dan pola pikir kita, untuk kita dapat berkarya dengan baik dan profesional sesuai tugas dan fungsi," katanya.
Sementara itu Jone bersyukur jajaran Rumah Tahanan So'e mampu berinovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ia berharap kualitas pelayanan terus ditingkatkan serta pelaksanaan tugas dan fungsi di Rutan Soe tetap dijalankan secara profesional. "Ke depan tidak menutup kemungkinan Rutan Soe juga bisa beralih status menjadi Lapas tentunya dengan memperhatikan kajian-kajian baik dari segi lahan maupun sumber daya lainnya," katanya.
"Saya mengapresiasi jajaran Rutan So'e yang mampu menciptakan contoh Rutan yang bersih dan asri sehingga memberikan kenyamanan bagi ASN maupun warga binaan maupun pengunjung," katanya, dalam keterangan yang diterima di Kupang, Jumat (22/4).
Saat berkunjung ke sana dia didampingi Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM NTT, Marciana Dominika Jone, Kamis (21/4), mengaku senang dengan melihat penataan Rumah Tahanan So'e yang bersih dan asri hingga pemanfaatan lahan kosong untuk pengembangan tanaman produktif.
Ia mengatakan yang ditampilkan Rumah Tahanan So'e merupakan langkah penting dalam upaya mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi atau Wilayah Birokrasi Bersih Melayani di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM.
"Saat kita berbicara terkait WBK/WBBM namun apa yang berada di depan mata namun tidak dipelihara dan dirawat dengan baik ini adalah sebuah keniscayaan. Namun begitu kita masuk kita menganggap bahwa Rutan So'e adalah rumah kita, dan kita pelihara dengan baik itu merupakan sebuah keinginan yang kuat yang tergambar dari tekad kita untuk mau berubah dan memberikan pelayanan yang terbaik," katanya.
Dalam kunjungannya, dia juga menyampaikan kepada jajaran Rumah Tahanan So'e agar di dalam perawatan dan pemeliharaan gedung tidak memungut biaya dari warga binaan pemasyarakatan.
Hal ini untuk mencegah praktik tawar-menawar dalam bentuk kompensasi seperti untuk keluar dari penjara atau hal sejenisnya antara pengelola rumah tahanan dan para warga binaan.
"Saya mengingatkan juga untuk meraih WBK/WBBM itu penting, namun yang terpenting adalah perubahan budaya kerja kita dan pola pikir kita, untuk kita dapat berkarya dengan baik dan profesional sesuai tugas dan fungsi," katanya.
Sementara itu Jone bersyukur jajaran Rumah Tahanan So'e mampu berinovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Ia berharap kualitas pelayanan terus ditingkatkan serta pelaksanaan tugas dan fungsi di Rutan Soe tetap dijalankan secara profesional. "Ke depan tidak menutup kemungkinan Rutan Soe juga bisa beralih status menjadi Lapas tentunya dengan memperhatikan kajian-kajian baik dari segi lahan maupun sumber daya lainnya," katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menduga biro haji khusus memberi uang ke Ketua PBNU Aizzudin Abdurrahman
16 January 2026 11:17 WIB
Prabowo minta pemda di Papua tidak pakai dana otsus untuk dinas luar negeri
17 December 2025 8:43 WIB
Satgas Terpadu menggagalkan penyelundupan bahan mineral di bandara PT IWIP
06 December 2025 19:12 WIB
Pertamina Patra Niaga melayani secara maksimal kebutuhan BBM di wilayah bencana
02 December 2025 9:53 WIB
TNI: Empat kriteria khusus wajib dimiliki Komandan Pasukan Perdamaian Gaza
25 November 2025 13:35 WIB
Roy Suryo dkk mengajukan dilaksanakan gelar perkara khusus terkait kasus ijazah palsu
20 November 2025 14:49 WIB
Terpopuler - Politik & Hukum
Lihat Juga
KPK: Para tersangka impor barang KW memakai lebih dari satu mobil operasional
28 February 2026 2:58 WIB