Emas jatuh lagi 7,10 dolar
Rabu, 21 September 2022 6:36 WIB
Ilustrasi - Batangan emas di Pabrik Pemisahan Emas dan Perak Austria di Wina, Austria. ANTARA/REUTERS/Leonhard Foeger/aa.
Chicago (ANTARA) - Harga emas kembali merosot pada akhir perdagangan Selasa (Rabu, 21/9/2022 pagi WIB), mencatat kerugian untuk hari kedua beruntun tertekan dolar AS yang lebih kuat menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve yang kemungkinan akan memberikan kenaikan suku bunga substansial ketiga berturut-turut.
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, jatuh 7,10 dolar AS atau 0,42 persen, menjadi ditutup pada 1.671,10 dolar AS per ounce, lebih jauh masuk ke wilayah pertengahan 1.600 dolar, setelah jatuh untuk kelima kalinya dalam enam hari terakhir.
Emas berjangka tergelincir 5,30 dolar AS atau 0,31 persen menjadi 1.678,20 dolar AS pada Senin (19/9/2022), setelah terdongkrak 6,20 dolar AS atau 0,37 persen menjadi 1.683,50 dolar AS pada Jumat (16/9/2022), dan anjlok 31,8 dolar AS atau 1,86 persen menjadi 1.677,30 dolar AS pada Kamis (15/9/2022).
Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya untuk ketiga kalinya dalam empat sesi, menjadi katalis utama pelemahan emas, di tengah taruhan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve dimulai Selasa (20/9/2022) dan akan berakhir pada Rabu waktu setempat. Investor menunggu Federal Reserve menaikkan suku bunga dan memperbarui proyeksi ekonominya ketika pertemuan berakhir.
Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 poin persentase dalam upaya untuk melawan inflasi.
"Emas akan berada dalam masalah jika Powell mampu meyakinkan pasar bahwa mereka tidak hanya akan tetap agresif dengan pengetatan, tetapi mereka juga akan mempertahankan suku bunga bahkan ketika penurunan ekonomi memburuk," kata Ed Moya, analis di platform perdagangan daring OANDA.
Menurut dia, volatilitas emas akan tetap meningkat setelah pertemuan FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) karena harga kemungkinan akan memiliki alasan kuat untuk pergerakan menuju 1.600 dolar AS atau di atas level 1.700 dolar AS.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan Selasa (20/9/2022) bahwa perumahan yang mulai dibangun di AS rebound 12,2 persen ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 1,575 juta unit pada Agustus, memberi tekanan lebih lanjut terhadap logam kuning.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 17,5 sen atau 0,9 persen, menjadi ditutup pada 19,183 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik 4,30 dolar atau 0,47 persen, menjadi ditutup pada 922,80 dolar per ounce.
Baca juga: Emas tergelincir 5,30 dolar
Baca juga: Emas anjlok di bawah 1.700 dolar
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Emas jatuh lagi 7,10 dolar jelang keputusan suku bunga Federal Reserve
Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi Comex New York Exchange, jatuh 7,10 dolar AS atau 0,42 persen, menjadi ditutup pada 1.671,10 dolar AS per ounce, lebih jauh masuk ke wilayah pertengahan 1.600 dolar, setelah jatuh untuk kelima kalinya dalam enam hari terakhir.
Emas berjangka tergelincir 5,30 dolar AS atau 0,31 persen menjadi 1.678,20 dolar AS pada Senin (19/9/2022), setelah terdongkrak 6,20 dolar AS atau 0,37 persen menjadi 1.683,50 dolar AS pada Jumat (16/9/2022), dan anjlok 31,8 dolar AS atau 1,86 persen menjadi 1.677,30 dolar AS pada Kamis (15/9/2022).
Dolar menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya untuk ketiga kalinya dalam empat sesi, menjadi katalis utama pelemahan emas, di tengah taruhan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin untuk ketiga kalinya berturut-turut.
Pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve dimulai Selasa (20/9/2022) dan akan berakhir pada Rabu waktu setempat. Investor menunggu Federal Reserve menaikkan suku bunga dan memperbarui proyeksi ekonominya ketika pertemuan berakhir.
Pasar secara luas memperkirakan bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,75 poin persentase dalam upaya untuk melawan inflasi.
"Emas akan berada dalam masalah jika Powell mampu meyakinkan pasar bahwa mereka tidak hanya akan tetap agresif dengan pengetatan, tetapi mereka juga akan mempertahankan suku bunga bahkan ketika penurunan ekonomi memburuk," kata Ed Moya, analis di platform perdagangan daring OANDA.
Menurut dia, volatilitas emas akan tetap meningkat setelah pertemuan FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) karena harga kemungkinan akan memiliki alasan kuat untuk pergerakan menuju 1.600 dolar AS atau di atas level 1.700 dolar AS.
Sementara itu, Departemen Perdagangan AS melaporkan Selasa (20/9/2022) bahwa perumahan yang mulai dibangun di AS rebound 12,2 persen ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 1,575 juta unit pada Agustus, memberi tekanan lebih lanjut terhadap logam kuning.
Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 17,5 sen atau 0,9 persen, menjadi ditutup pada 19,183 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Oktober naik 4,30 dolar atau 0,47 persen, menjadi ditutup pada 922,80 dolar per ounce.
Baca juga: Emas tergelincir 5,30 dolar
Baca juga: Emas anjlok di bawah 1.700 dolar
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Emas jatuh lagi 7,10 dolar jelang keputusan suku bunga Federal Reserve
Pewarta : Apep Suhendar
Editor : Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
KPK menyita emas hingga uang asing senilai Rp40,5 miliar pada kasus barang KW
06 February 2026 7:23 WIB
Menpora memuji Kontingen Indonesia bawa pulang 135 medali emas dari APG 2025
26 January 2026 15:22 WIB
APG 2025 - Rafli dan Novia tambah dua emas untuk Indonesia lewat para judo
23 January 2026 17:56 WIB
ASEAN Para Games 2025: Siti Alfiah sumbang emas pertama dari para renang dalam
21 January 2026 11:57 WIB
Pemerintah menargetkan empat Sekolah Garuda baru mulai beroperasi tahun ini
14 January 2026 11:22 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
BRI membantah disebut tolak pencairan dana PIP bocah yang meninggal di Ngada
12 February 2026 15:16 WIB
Mendes Yandri menerima audiensi 15 CEO perusahaan asal Inggris bahas listrik desa
12 February 2026 13:20 WIB