Kelor Dinilai Bisa Atasi Stunting di NTT.
Senin, 12 November 2018 9:24 WIB
Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (kiri) bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi (kanan) melakukan salam komando usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/9). (AntaraNewsNTTPuspa Perwitasari)
Kupang, (AntaraNewsNTT) - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef Nae Soi mengaku optimistis gerakan konsumsi kelor yang sedang digalakkan pemerintah setempat akan membebaskan daerah itu dari persoalan stunting atau gizi kronis.
"Kelor itu nutrisi paling tinggi di dunia dan kelor di Nusa Tenggara Timur paling hebat setelah itu baru di Spanyol," katanya kepada wartawan di Kupang, Senin, (12/11) usai memimpin upacara memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53.
Ia mengemukakan hal itu berkaitan dengan penanganan masalah stunting dan gizi buruk yang sering kali melanda masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, wilayah provinsi berbasiskan kepulauan ini telah dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa, salah satunya berupa tanam kelor dengan kandungan gizi yang sangat tinggi.
"Ini luar biasa, Tuhan sudah kasih kita kelor yang luar biasa yang bisa kita manfaatkan untuk membebaskan daerah kita dari masalah gizi buruk," katanya.
Yosef Nae Soi bersama Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat memiliki salah satu program unggulan pengembangan kelor secara besar-besaran melalui gerakan "revolusi hijau".
Pemerintah provinsi menargetkan jumlah pohon kelor yang akan ditanam selama lima tahun ke depan mencapai sebanyak 50 juta pohon.
Untuk itu, Dinas Pertanian Provinsi NTT akan mengembangkannya melalui dua klaster yakni daun kering untuk kebutuhan industri dan klaster daun segar dan biji untuk konsumsi dalam rangka meningkatkan gizi masyarakat.
Pengembangan klaster daun kering dilakukan melalui lahan atau demplot yang telah disiapkan pemerintah, sementara klaster daun segar dan biji cara tanaman lorong (alley cropping) yang ditanam di pematang maupun teras milik masyarakat.
Dalam konteks itu, Nae Soi juga meminta dukungan peran media masa di daerah itu untuk terus menggerakkan masyarakat setempat agar secara rutin mengkonsumsi kelor perbaikan gizi.
"Mari kita semua makan kelor, kelor itu nutrisi paling tinggi di dunia dan kita di Nusa Tenggara Timur sudah memiliki sumber daya alam yang luar biasa ini," katanya.
"Kelor itu nutrisi paling tinggi di dunia dan kelor di Nusa Tenggara Timur paling hebat setelah itu baru di Spanyol," katanya kepada wartawan di Kupang, Senin, (12/11) usai memimpin upacara memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-53.
Ia mengemukakan hal itu berkaitan dengan penanganan masalah stunting dan gizi buruk yang sering kali melanda masyarakat di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, wilayah provinsi berbasiskan kepulauan ini telah dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa, salah satunya berupa tanam kelor dengan kandungan gizi yang sangat tinggi.
"Ini luar biasa, Tuhan sudah kasih kita kelor yang luar biasa yang bisa kita manfaatkan untuk membebaskan daerah kita dari masalah gizi buruk," katanya.
Yosef Nae Soi bersama Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat memiliki salah satu program unggulan pengembangan kelor secara besar-besaran melalui gerakan "revolusi hijau".
Pemerintah provinsi menargetkan jumlah pohon kelor yang akan ditanam selama lima tahun ke depan mencapai sebanyak 50 juta pohon.
Untuk itu, Dinas Pertanian Provinsi NTT akan mengembangkannya melalui dua klaster yakni daun kering untuk kebutuhan industri dan klaster daun segar dan biji untuk konsumsi dalam rangka meningkatkan gizi masyarakat.
Pengembangan klaster daun kering dilakukan melalui lahan atau demplot yang telah disiapkan pemerintah, sementara klaster daun segar dan biji cara tanaman lorong (alley cropping) yang ditanam di pematang maupun teras milik masyarakat.
Dalam konteks itu, Nae Soi juga meminta dukungan peran media masa di daerah itu untuk terus menggerakkan masyarakat setempat agar secara rutin mengkonsumsi kelor perbaikan gizi.
"Mari kita semua makan kelor, kelor itu nutrisi paling tinggi di dunia dan kita di Nusa Tenggara Timur sudah memiliki sumber daya alam yang luar biasa ini," katanya.
Pewarta : Aloysius Lewokeda
Editor : Kornelis Aloysius Ileama Kaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Wagub Nae Soi minta Pemda se-NTT daftarkan tenun ikat jadi Indikasi Geografis
17 September 2022 19:29 WIB, 2022
Wagub Nae Soi minta Satgas SPIP fokus jalankan tugas pengendalian internal
11 September 2021 7:14 WIB, 2021
Kata Wagub NTT tambahan 100 tempat tidur pasien COVID-19 siap digunakan
08 February 2021 17:30 WIB, 2021
Terpopuler - Kesra
Lihat Juga
378 pendaftar lolos seleksi administrasi calon anggota KIP periode 2026--2030
27 January 2026 8:35 WIB
Wamenkomdigi: ANTARA berperan penting dalam mempublikasikan program pemerintah
20 January 2026 20:31 WIB