Artikel - Menembus kabut menuju Puncak Bukit Wolobobo di Ngada

id pariwisata,bukit wolobobo,puncak wolobobo,kebun raya wolobobo,wolobobo ngada festival,wolobobo,bajawa,ntt,flores,bpolbf,Artikel pariwisata Oleh Fransiska Mariana Nuka

Artikel - Menembus kabut menuju Puncak Bukit Wolobobo di Ngada

Peserta Mountain Walk dalam Wolobobo Ngada Festival melakukan pendakian ke Puncak Bukit Wolobobo, Ngada, NTT, Jumat (30/6/2023). (ANTARA/Fransiska Mariana Nuka)

Kawasan Wolobobo dapat terus dikembangkan ke depan, sehingga ada manfaat dan dampak yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi itu...
Bajawa (ANTARA) - Waktu menunjukkan pukul 06.00 Wita ketika motor melaju dengan kecepatan 30 km per jam menuju arah luar Kota Bajawa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Kabut terlihat mulai menyelimuti perjalanan. Udara dingin pun terasa menusuk tulang. Beberapa tetes embun terjatuh dari pepohonan di sepanjang hutan.

Sekitar 30 menit perjalanan, motor berhenti di parkiran pintu masuk. Tulisan "Kebun Raya Wolobobo Bajawa Flores" hampir tak terlihat karena ditutupi kabut. Beberapa orang terlihat mengatur jaket, memakai topi menutupi telinga, dan memperbaiki ikatan sepatu.

Kebun Raya Wolobobo di Desa Bomari, Kecamatan Bajawa, telah menjadi tujuan wisata di Kabupaten Ngada. Salah satu pilihan wisata yang bisa dinikmati, di antaranya mountain walk atau menyusuri jalan setapak menuju puncak bukit.

Dengan suasana yang masih diselimuti kabut, pemandu Kebun Raya Wolobobo bernama Mario telah bersiap menemani para pengunjung yang terlibat dalam ajang "Wolobobo Ngada Festival". Ratusan orang bersiap untuk menyusuri rute perjalanan sejauh dua kilometer.

Langkah pertama dimulai. Sekitar pukul 08.30 Wita, para peserta mulai menapaki beberapa anak tangga, lalu menyusuri setapak. Lebar jalan yang disiapkan sekitar satu meter, sehingga pengunjung disarankan berjalan berdua-duaan.

"Mountain walk" itu dinikmati oleh para peserta sembari menyusuri hutan Eucalyptus ditemani udara yang dingin. Pada beberapa titik, ada karung terikat pada pohon yang difungsikan sebagai tempat sampah. Dengan fasilitas yang disediakan itu, pengunjung pun tidak asal membuang sampah sembarangan.

Satu jam perjalanan, para peserta tidak lagi menapaki jalanan tanah, namun semakin mendaki ke atas puncak melalui anak-anak tangga dengan pembatas dari bambu. Beberapa pengunjung terlihat ngos-ngosan, kemudian mengambil jeda untuk beristirahat. 

Sebagian lagi tetap anteng mendaki, berharap untuk segera sampai ke puncak. Sayang sekali, kali ini, Gunung Inerie yang sering menjadi landscape dalam susur setapak itu diselimuti kabut sehingga tak terlihat dengan jelas.

Setelah satu setengah jam perjalanan, sekira pukul 10.00 Wita, para pendaki tiba di atas puncak Wolobobo yang terletak pada ketinggian 1.700 mdpl. Kabut masih menyelimuti puncak bukit itu. Namun, perjalanan terasa sangat memuaskan karena pendakian itu menawarkan sensasi atraksi wisata baru.

Meski berkabut, para pengunjung tetap mengabadikan momen dalam jepretan kamera. Beberapa pengunjung juga memanfaatkan momen menunggang kuda yang disiapkan di atas puncak.

"Akhirnya tiba di puncak. Ini pengalaman pertama yang luar biasa," ucap Maria Elisabeth, yang masuk dalam rombongan pendaki, kepada ANTARA.


Kebun Raya Wolobobo