Logo Header Antaranews Kupang

Kecepatan Angin mencapai 30 knot per jam

Rabu, 21 Desember 2016 17:57 WIB
Image Print
Masyarakat diminta waspadai kecepatan angin 30 knot/jam
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kupang mengingatkan warga bahwa angin kecang dengan kecepatan 30 knot per jam sedang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kupang (Antara NTT) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kupang mengingatkan warga bahwa angin kecang dengan kecepatan 30 knot per jam sedang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur.

Kepala BMKG Kelas I Kupang Hasanudin di Kupang, Rabu, mengatakan berdasarkan hasil pengukuran kecepatan angin di beberapa UPT BMKG di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara menunjukkan bahwa kecapatan angin berkisar antara 30-55 km/jam.

Pergerakan angin mulai dari arah Barat Daya menuju ke Barat Laut itu termasuk kategori angin segar (moderate breeze) dan angin ribut (near gale).

Kondisi ini, kata dia, terjadi karena adanya daerah sirkulasi pusaran angin (pusat tekanan rendah) di Samudera Hindia sebelah Selatan Jawa Timur dan perairan Laut Timor serta pola sirkulasi angin tertutup disekitar perairan Utara Papua.

Hal ini mempengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia yang mengakibatkan terbentuknya daerah belokan, perlambatan dan pertemuan (konvergensi) angin di sekitar wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Bengka Belitung, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Laut Timor, Maluku Utara dan Papua Barat bagian Utara.

Selain itu, adanya aliran/dorongan massa udara dingin dan kering dari Belahan Bumi Utara (BBU) yang terpantau mulai masuk menuju ke wilayah Philipina dan sekitar Teluk Kamboja serta Indonesia sebelah Utara Khatulistiwa.

Sementara aliran/dorongan massa udara dingin dan kering dari Belahan Bumi Selatan (BBS) terpantau masuk ke wilayah Samudera Hindia sebelah Barat Daya Sumatera dan Selatan Jawa serta perairan Utara Australia dan Teluk Carpentaria.

Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya potensi hujan di wilayah yang dilewatinya.

Faktor lain adalah massa udara basah diindikasikan oleh tingginya kelembaban udara (70 - 80 persen) baik pada ketinggian 1500 meter, 3000 meter maupun 5000 meter yang terkonsentrasi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Papua.

Hal inilah yang mendukung proses konveksi dalam skala lokal sehinga juga turut mendukung pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi pembentukan dan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.

Indikasi potensi angin kencang diprediksi sampai 24 Desember 2016 terutama di Bengkulu, Jabodetabek, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, katanya.

Sementara indikasi potensi hujan intensitas deras disertai kilat/petir dan angin kencang diprediksi sampai 24 Desember 2016 terutama di Aceh, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Banten.

Selan itu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Dengan potensi bulan basah (CH) Tinggi pada periode bulanan, maka indikasi potensi hujan deras dan angin kencang yang berskala harian dapat dimungkinkan akan meningkatkan bencana hidrometeorologi, katanya menjelaskan.



Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2026