
44 Paus Biru Terdampar Dan Mati

Kupang (Antara NTT) - Sebanyak 44 ekor paus biru (bukan 42 ekor, red) terdampar di Pantai Liae, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan kemudian mati.
Bupati Sabu Raijua Marthen Dira Tome yang dikonfirmasi melalui telepon genggamnya dari Kupang, Selasa, membenarkannya dan mengatakan 42 ekor paus di antaranya sudah mati dan dua lainnya dalam keadaan lemas dan kemungkinan besar tidak bisa terselamatkan.
Dia mengatakan, pemerintah dan masyarakat tidak bisa berbuat banyak untuk menolong paus yang terdampar sejak Senin (1/10) sekitar pukul 20.00 Wita di Pantai Liae.
Masyarakat di salah satu pulau terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Australia itu, sejak Selasa pagi berusaha menolong dua ekor paus yang masih hidup itu dengan mendorong ke tengah laut, tetapi tetap terbawa gelombang menepi ke pantai.
"Kami tidak memiliki keahlian untuk menyelamatkan paus-paus itu. Kami berupaya menyelamatkan tetapi gagal dan paus-paus mulai lemas dan mati," katanya.
Dia juga tidak mengetahui sebab-sebab mengapa paus-paus biru yang dilindungi itu terdampar di Pulau Sabu, tetapi diduga karena terbawa gelombang laut.
Perlu diteliti
Sementara itu, pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni mendesak para ahli perikanan dan kelautan untuk segera memeriksa dan meneliti kasus tewasnya puluhan ikan paus biru tersebut.
"Saya menduga kuat, matinya ikan-ikan paus yang dilindungi itu akibat pencemaran minyak di wilayah perairan yang menjadi lintasan paus biru setelah meledaknya sumur Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009," kata Tanoni.
Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) ini menambahkan kasus matinya puluhan ekor paus biru ini merupakan yang terbesar dan pertama kali terjadi di NTT setelah wilayah perairan Laut Timor dan Laut Sawu sampai ke Laut Flores tercemar akibat tumpahan minyak dari sumur Montara serta semprotan zat berbahaya dispersant untuk menenggelamkan tumpahan minyak ke dasar laut.
"Ini perlu penelitian ilmiah, karena wilayah perairan Laut Sawu yang menjadi lintasan paus biru dari kutub utara ke selatan Australia sudah tercemar akibat tumpahan minyak dari sumur Montara dan zat kimia dispersant yang disemprotkan Australia untuk menenggelamkan tumpahan minyak," katanya.
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
