GMIT cegah perdagangan orang lewat pendidikan umat

id Kolimon

Ketua Sinode GMIT Pendeta Merry Kolimon.

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) hingga saat ini masih terus fokus pada upaya pencegahan perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Timur lewat pendidikan umat.
Kupang (ANTARA News NTT) - Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) hingga saat ini masih terus fokus pada upaya pencegahan perdagangan orang di Provinsi Nusa Tenggara Timur lewat pendidikan umat.

"Kami secara serius melakukan pelatihan-pelatihan kepada para pendeta untuk memahami bagaimana kejahatan perdagangan orang dan pencegahannya," kata Ketua Majelis Sinode GMIT Pendeta Merry Kolimon di Kupang, Selasa (12/2).

Ia mengatakan hal itu dalam acara mengenang satu tahun meninggalnya Adelina Lisao, korban perdagangan orang asal Kabupaten Timor Tengah Selatan di negeri jiran Malaysia pada 11 Januari 2018.

Pendeta Kolimon mengatakan Sinode GMIT memiliki lebih dari 1.400 pendeta yang tersebar di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur, kecuali Pulau Sumba, sehingga diharapkan menjadi sumber daya yang kuat dalam mendidik umat agar tidak terjebak dalam rayuan menjadi TKI/TKW.

"Komunikasi, informasi, dan edukasi kami perkuat lewat pendeta-pendeta untuk memahami apa yang harus dilakukan masyarakat akar rumput untuk mencegahnya," katanya.

Dia mengatakan aspek lain yang penting dalam upaya menangani masalah perdagangan orang adalah pemberdayaan ekonomi umat.

Baca juga: Moratorium bukan solusi atasi perdagangan orang

Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai kegiatan peningkatan produktivitas melalui Gerakan Pendeta Suka Tani, dengan dukungan dari persekutuan gereja-gereja di Indonesia.

"Mitra-mitra Oikumene Sinode GMIT misalnya gereja di Swiss dan Belanda juga sedang berusaha mencari cara bersama dalam pemberdayaan ekonomi jemaat," katanya.

Ia menambahkan upaya pemberdayaan ekonomi itu masih tahap awal, sedangkan pihaknya terus berupaya menempuh cara-cara terbaik untuk pemberdayaan jemaat di daerah itu.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Majelis Sinode GMIT Kupang itu, dihadiri perwakilan dari lembaga lintas agama, relawan, dan pemerhati masalah perdagangan orang, serta sejumlah awak media massa.

Hadir pula keluarga Adelina Lisao serta seorang korban perdagangan orang lainnya, Mariance Kabu, dari Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Baca juga: NTT bentuk Satgas Desa cegah perdagangan orang
Baca juga: Kasus perdagangan orang di NTT jadi sorotan AICHR
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar