Angin puting beliung di NTT akibat fenomena global

id Puting Beliung

Angin puting beliung di NTT akibat fenomena global

Salah seorang warga sedang menatap rumahnya yang hancur akibat puting beliung pada Minggu, (10/3). (ANTARA Foto/BPBD Rote Ndao) .

Bencana angin puting beliung yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, (10/3), terjadi pada skala luas yang dipicu terbentuknya awan cumulonimbus (Cb).
Kupang (ANTARA) - Bencana angin puting beliung yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, (10/3), terjadi pada skala luas yang dipicu terbentuknya awan cumulonimbus (Cb).

"Angin kencang yang terjadi pada Minggu, (10/3) disebabkan tumbuhnya awan Cb membentuk garis badai, yang mengakibatkan angin puting beliung yang sangat kencang mencapai 44 knot," kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Stasiun El Tari Kupang, Ota Welly Jenni Thalo kepada Antara di Kupang, Senin (11/3).

Dia mengemukakan hal itu, terkait bencana angin puting beliung Minggu, (10/3) yang menyebabkan ratusan bangunan rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Dia menjelaskan, berdasarkan analisis meteorologi seperti SST atau suhu muka laut di Indonesia 27-32 derajat celsius untuk wilayah NTT, khususnya di Laut Timor, nilai suhu muka laut berkisar 30 - 32 derajat celsius, dengan anomali +1 hingga +2.5 derajat celsius terhadap normalnya.

Kondisi ini mendukung pembentukan awan konvektif di NTT, khususnya di wilayah Kota Kupang, Kabupaten Kupang serta Kabupaten Rote Ndao dan sekitarnya.

Sedangkan analisis Madden-Julian Oscillation (MJO), kata dia, berada pada kuadran 4 (Maritime Continent), yang berarti kondisi di wilayah Indonesia basah, dan cukup signifikan mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia dan mendukung pertumbuhan awan konvektif (awan yang menjulang vertikal).

Sementara analisis pola angin, terdapat daerah pola angin siklonik di bagian Timur NTT, dan memicu terjadinya shearline (belokan angin) di wilayah Pulau Timor bagian barat daya Kupang dan sekitarnya dan wilayah Pulau Rote.

Kondisi ini menyebabkan massa udara berkumpul dan mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif di sekitar Pulau Timor bagian barat daya Kupang dan sekitarnya) serta Rote Ndao, katanya.

Menurut dia, awan Cumulonumbus (Cb) pada pukul 00.00 UTC, bergerak  dari wilayah Laut Timor selatan NTT menuju ke utara dan melewati wilayah Rote, Sabu, Kabupaten Kupang, Kota Kupang, dan sekitarnya.

Dan dari pengamatan citra satelit, terlihat adanya awan konvektif di wilayah Kupang dan Rote Ndao pada pukul 00.00 UTC hingga 02.00 UTC (Coordinated Universal Time) atau waktu universal.

Hal ini ditandai dengan adanya awan dengan suhu puncak awan diatas -80 C yang diinterpretasikan sebagai awan konvektif dan atau awan Cb. Dan diketahui periode waktu kejadian angin kencang adalah pukul 09.30-10.15 WITA.

Kondisi inilah yang berdampak pada rusaknya sejumlah rumah warga dan fasilitas umum, pohon tumbang dan rubuhnya baliho dan papan reklame di beberapa titik di Rote, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang, katanya.

 
Pewarta :
Editor: Laurensius Molan
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar